SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
AKIBAT JAHIL


__ADS_3

Tiga mobil beriringan ingin masuk ke wilayah rumah, Isel langsung mengizinkan setelah mendapatkan panggilan dari penjaga gerbang.


Tanpa pikir panjang langsung berlari ke arah pintu, menatap mobil berhenti. Kedua tangan Isel melambai meminta Vio, Laura, dan Weni masuk.


Tangan Ura juga melambai seakan dirinya kenal, melangkah mendekati tiga wanita yang membawa mobil masing-masing.


"Aunty Vio, kenapa bawa orang asing ke rumahnya Ura?" kedua tangan Ura terlipat di dada.


"Assalamualaikum Ura, apa kabar kamu?"


"Pasti baik, lihat perutnya sudah buncit. Untuk rambutnya panjang, coba botak pasti mirip tuyul," sindir Weni yang merasa si kecil mirip Isel.


"Apa ini anaknya Isel, kenapa sudah besar?" Laura menatap binggung.


"Nama aku Ura, anaknya Pipi Angga sama Mimi Aira, Ura ini anak selebriti. Datang ke rumah orang tidak punya sopan santun, awas kalian." Ura balik lagi ke rumah dengan tatapan sinis.


Kepala tiga wanita geleng-geleng, berjalan ke arah rumah Isel yang sudah menunggunya di depan pintu.


Ketiganya berpelukan erat, melangkah masuk ke dalam rumah untuk melihat tiga bayi yang sudah berusia satu bulan.


"Ya tuhan lucunya, serius ini anak kamu Sel?"


"Iyalah," Isel tersenyum melihat Vio menggedong bayi laki-laki yang tidur dengan tenang.


"Apa mereka berdua ini calon pengacau?" Weni sangat yakin jika penerus Isel pasti perempuan.


Tangan Weni ditendang oleh bayi yang sedang tidur, memiringkan badannya memeluk guling.


Tawa Isel terdengar, membenarkan cara tidur putrinya Ara, memberikan guling kecil untuk menjadi pelukan.


Ira terbangun mendengar suara tawa Uminya, Laura mengusap pipi Ira, tersenyum manis menggoda si kecil.


Tatapan mata sinis, terpejam kembali membuat Laura binggung. Dari kecil saja tatapan sudah jahat, tidak bisa dibayangkan jika sudah besar.


"Gemes lihatnya, pengen punya baby." Vio merasa terharu melihat Isel sudah jadi ibu.


"Kamu mau babi?" tawa pelan Weni terdengar.


"Jaga ucapan, tidak boleh bicara sembarangan di dekat anak-anak." Perlahan Vio meletakkan bayi lucu Isel.


Rumah terlihat sepi, semua orang sedang pergi bekerja. Hanya ada Isel dan tiga baby sitter yang terlihat duduk mengawasi.

__ADS_1


Kepala Laura celing-celinguk melihat rumah mewah Isel, tidak menyangka jika Isel memang putri orang kaya karena dulunya dia serakah.


"Ada berapa banyak Maid di sini?" Laura penasaran karena wilayah tempat tinggal Isel semuanya rumah mewah.


"Di rumah ini sekitar delapan, belum termasuk baby sitter, penjaga, tukang kebun, supir, bodyguard, dan lain-lain." Isel tersenyum menatap ketiga temannya yang terkejut.


Kepala Vio mengangguk, rumah suaminya saja penjagaan ketat, apalagi keluarga Isel yang memiliki banyak anak-anak.


"Di mana kamu menyembunyikannya emas?" Weni baru ingat dengan emas batangan yang dulunya Isel kumpulkan.


"Ikut aku." Isel berjalan ke arah kamar lamanya yang sudah kosong, bahkan emasnya sudah lenyap.


"Mana emasnya?'


"Ternyata emasnya sudah habis dicuri oleh Ura, sekarang aku tidak sekaya dulu," ucap Isel yang menutupi kembali kamar karena si kecil kesayangannya sudah menguasai hak miliknya.


"Siapa dia?" Laura melihat ke arah foto si kecil yang mereka temukan.


Cucu pertama keluarga Dirgantara diambil alih oleh Ura, Isel sudah tersingkirkan. Terlihat sekali jika Ura cucu kesayangan karena fotonya ada di mana-mana.


Empat sekawan duduk di depan rumah melihat ada banyak rumah mewah, tapi nampak sepi karena tidak ada di rumah semua.


"Bawa ke sini, sudah menyusu belum?" Isel meminta Laura dan Vio mengendong Ara dan Ira.


Isel menemani keduanya mengambil tiga bayi karena sudah terdengar rewel tidak ingin digendong baby sitter.


Mata Weni melotot besar karena dirinya ditinggalkan sendiri, melihat satu anak kecil yang berjalan ke arahnya meggunakan pakaian perang.


"Apa anak tadi sudah gila?" Weni merinding melihat Ura sudah menggunakan baju robot lengkap dengan helm.


"Ayo kita perang!" Ura melemparkan pedang, sedangkan dia memegang panah.


"Perang, aku menggunakan baju pendek begini bagaimana bisa perang?" Weni menarik bajunya karena belahan dadanya terlihat.


Teriakan Weni terdengar kuat karena melihat ada panah mainan menancap di dadanya, Isel berjalan cepat sambil menggedong putranya.


"Ada apa?" Isel kaget melihat Weni.


"Sel, aku baru saja operasi mengencang dada, anak kecil itu menahannya."


Tawa Isel terdengar, Laura dan Vio juga ikutan tertawa terpingkal-pingkal melihat Weni wajahnya merah.

__ADS_1


"Sudah jangan marah, ini bisa dicabut lagi." Ura naik ke atas meja mencabut panahnya yang membuat dada menonjol berwana merah.


Tangan Ura memegang dada Weni karena besar dan banyak dagingnya, saat di sentuh juga bergoyang-goyang, belahannya terlihat membuat Ura mengintip sedikit penasaran dengan isi di dalamnya.


"Apa yang kamu lihat?"


"Aunty buahnya besar sekali, punya Mimi tidak besar seperti ini padahal adiknya Ura ada dua."


Lirikan mata Weni tajam melihat Ura membuka baju perangnya, memeriksa dadanya yang masih rata.


"Ura, kamu tidak boleh membuka baju sembarangan," tegur Weni.


"Aunty juga pakai baju, tapi buahnya ke mana-mana, apa gunanya pakai baju? Kakek Altha bilang, pakaian itu cerminan diri gunanya pakaian untuk menutupi tubuh dari pandangan yang bukan muhrim." Ura langsung ceramah menyindir Weni yang pakai baju terbuka.


Laura menari celananya agar turun ke bawah, Isel juga menarik bajunya yang melihat pinggang sebelum Ura mengeluarkan kata-kata mutiara.


"Jangan hanya menilai orang dari pakaiannya, bisa saja dia jauh lebih baik dari yang pakaiannya tertutup." Weni masih membela diri, duduk santai menatap Ura yang sudah menyilang kakinya.


"Benar, tetapi Kakek Altha mengatakan jika kita tidak bisa menilai seseorang dari apa yang dilihat mata, tapi ada baiknya jika mencintai diri sendiri dengan memperbaiki diri ... Lalu apa Umi, Ura lupa." Tangan Ura memegang kepalanya karena terlalu banyak ceramah yang masuk kepalanya.


"Umi tidak tahu Ura." Tawa pelan Isel terdengar begitupun dengan Laura dan Vio yang menahan tawa.


Helaan napas Weni terdengar meminta Ura turun dari atas meja memintanya untuk diam, Weni ingin cuci mata melihat keluarga terpandang.


Bibir Ura monyong, turun dari atas meja, mengambil panah, mundur beberapa langkah mengarahkan panahnya ke paha Weni yang terpampang jelas.


Teriakkan Weni terdengar, meneriaki nama Ura yang sudah lari menjauh, menjulurkan lidahnya mengejek Weni.


Ura berjalan mundur, mengejek Weni yang sudah marah-marah. Sibuk mengejek orang, tanpa Ura sadari tubuhnya terjungkal ke arah tanaman sampai tubuhnya menghilang.


"Ya tuhan hilang."


"Wen tolong Ura, dia menangis itu." Isel langsung panik karena Aura menangis kuat karena jatuh.


Beberapa bodyguard berlarian begitupun dengan Weni yang lari untuk menolong Ura. Tangan Isel terangkat meminta bodyguard mundur.


"Akibat jahil kena karma." Kepala Isel geleng-geleng.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2