SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
DUA KELUARGA


__ADS_3

Jantung Angga berdegup kencang, hanya ada tiga kamera yang mengabadikan moments sakral. Tidak ada yang boleh memotret menggunakan ponsel demi keamanan dua selebriti yang memilih menikah secara tertutup.


Tangan Angga sampai dingin berada dalam genggaman Mommy, terlihat sekali wajahnya tegang sampai tarik napas buang napas.


Dua keluarga bertemu, keadaan yang awalnya terlihat tegang langsung pecah gara-gara Aliya tertawa merasa lucu melihat keluarga mereka yang sudah mengenal puluhan tahun bertemu sebagai besan.


Alt menatap istrinya dingin, Al langsung diam menutup mulutnya yang tidak bisa menahan tawa apalagi melihat Rara yang yang membuka bajunya yang gerah.


Tika juga sama menahan tawa melihat wajah Isel yang sibuk mengurus bajunya yang kesempitan, Shin yang ada di samping Tika menarik baju agar diam.


"Kalian semua ingin tertawa, lanjutkan saja. Keluarga ini memang tukang lawak semua." Angga menatap Mommynya yang tersenyum.


Tatapan dingin Dimas membuat suasana hening, membiarkan pembawa acara menyelesaikan pertemuan dua keluarga.


Mira melambaikan tangannya di depan kamera, Mora menendangnya membuat perhatian ke arah kembar beda rahim yang sudah saling Jambak.


"Mora Mira berhenti." Genta menatap keduanya yang langsung diam.


"Mora ini binggung Lo Pa, Mira dan Mora ini sebenarnya keluarga siapa? Mama dan Papi keluarga Rahendra, sedangkan Mami dan Papa keluarga Leondra. Kita ini ada di tengah-tengah haruskah kita bangun keluarga sendiri. Mora pusing sekali?" Mora berdiri ditengah diikuti oleh Mira.


Ajun, Vino, Hasan dan Husein juga ikutan, mereka berenam binggung sebenarnya mereka harus mengikuti keluarga yang mana.


"Kalian istimewa karena itu ada di dua belah pihak keluarga dan menjadi pemersatu." Angga tersenyum melihat para pengacau yang mengangguk.


"Ajun tidak peduli, lebih baik Ajun makan." Ajun berlari ke tempat pesta untuk segera makan.


"Kakak Vino ikut,"


"Terima kasih Uncle sudah menjadi bagian keluarga kita, selamat datang di keluarga Rahendra, untuk Aunty Aira selamat datang di keluarga Dirgantara." Hasan dan Husein memberikan ucapan selamat dengan sangat sopan.


"Ayang, ayo cepat Aira tidak tahan lagi." Teriakan Ai terdengar dari lantai atas kamarnya.

__ADS_1


Tawa Angga terlihat menatap calon istrinya yang sangat cantik, Angga berjalan masuk diiringi kedua orang tuanya juga calon mertuanya.


Altha hanya bisa mengucap istighfar, berharap Angga tidak depresi karena tingkah laku Putrinya yang tidak normal sama sekali.


"Kamu jangan bosan, dan lebih banyak sabar menghadapi wanita seperti Aira." Alt mengusap punggung Angga yang menganggukkan kepalanya.


Angga duduk di tempat ijab kabul, Aira juga melangkah keluar dengan senyuman lebarnya untuk bertemu calon suaminya.


"Ai, jaga image. Kamu perempuan jangan centil, ini acara pernikahan bukan lawak." Juna mengusap wajah adik kesayangannya.


"Nanti Aira serius kalian menangis," ujar Ai duduk di belakang Angga.


Sebelum acara ijab kabul dimulai diawali dengan doa, Aira dan Angga terlihat sangat hening.


"Dewa, sudah siap." Papi mengulurkan tangannya langsung disambut oleh Angga dengan genggaman yang erat.


Alt tersenyum namun menyimpan rasa takut kehilangan, dia bahagia menyambut menantunya menjadi penjaga Putrinya yang sangat Altha cintai.


"Terima kasih jika kamu tulus mencintai Putri Daddy, jaga dia dan cintai dia sebagai kami begitu mencintainya. Jangan kamu sakiti dia, sakitnya Andriana juga sakitnya Papi." Alt menundukkan kepalanya merasa sedih bercampur bahagia.


Kedua tangan Angga mengenggam erat, Angga berjanji di depan kedua orang tua Aira juga orangtuanya, disaksikan banyak orang dan ada satu saksi yang akan mengawasi siang dan malam menjadi pengawas perjalanan Aira dan Angga. Tidak akan pernah Angga sakiti, tidak akan pernah melayangkan pukulan apalagi berpaling.


"Papi tidak perlu khawatir, Allah ada bersama kita. Tujuan menikah ibadah, meksipun akan banyak ujian yang tidak pernah Angga ketahui datangnya dari mana, tapi bahagia Aira akan menjadi prioritas utama Angga. Aku mencintai wanita yang melahirkan, meksipun tidak bisa di panggil Mama, Angga juga sangat mencintai Mommy meskipun tidak melahirkan Angga, rasa cinta Angga kepada Aira sebesar cinta kepada kedua wanita yang berperan besar." Meskipun Angga tahu dia tidak diinginkan namun dia dilahirkan, begitupun kehadirannya yang tidak diharapkan namun diterima dengan baik.


Suasana haru terasa Angga sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk lahir, dan dipertemukan dengan sosok wanita yang bagaikan malaikat.


Mommy Anggun begitu berarti bagi Angga, dia mendapatkan banyak cinta dan perhatian sosok ibu yang selama ini tidak Angga dapatkan.


"Bisa kita mulai Nak," ujar Altha menatap lelaki yang dia yakini akan membahagiakan anaknya.


Kepala Angga mengangguk, mengusap setetes air mata yang mengalir di pipinya membuat Daddy harus membantu mengusapnya karena Angga merasakan bahagia yang tidak bisa dia utarakan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Saya nikahkan dan kawinkan ... Andriana Aira Rahendra kepada engkau ...."


"Saya terima nikah dan kawinnya Adriana Aira Rahendra ... dengan mas kawin ... dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi?"


Suara sah terdengar, Angga langsung mencium tangan Altha yang juga meneteskan air matanya mengusap kepala Angga dengan sangat lembut.


Keluarga yang menyaksikan menangis haru merasakan perjuangan Angga bisa mengumpulkan keberanian menghadap Altha untuk menikahi putri bungsu keluarga Rahendra.


Air mata Aira juga menetes, Aliya langsung memeluk Putrinya yang tidak suka menangis sehingga melakukan segala cara agar sekitarnya heboh.


Kedua pengantin berjalan ke arah orang tua untuk meminta doa, Aira tidak kuasa menahan tangisannya dihadapan Papi dan Maminya.


"Papi, Mami maafkan Aira jika ... aduh ini air mata kenapa menetes terus? maafkan salah Aira yang menjadi anak keras kepala, selalu membuat Mami depresi, membuat Papi stres, tapi Aira tidak menyesal." Kedua tangan Aira mengusap air matanya yang tidak berhenti menetes.


Aliya berlutut dihadapan putrinya megusap punggung Aira yang tidak bisa menahan tangisannya, ada banyak permintaan maaf yang ingin dia utarakan namun tidak sanggup mengatakan.


"Selamat ya Nak, sekarang sudah menjadi istri jangan nakal terus. Jika Mami dan Papi memberikan teguran karena sangat menyayangi Aira, kita tegas karena khawatir." Al memeluk erat Putrinya.


"Sekarang Aira sudah menikah, lepas sudah tanggung jawab Papi. Kamu harus menurut dengan suami, jaga aib kalian jangan mengatakan apapun soal rumah tangga kalian. Papi melepaskan Aira kepada lelaki pilihan kamu." Altha memeluk erat Putrinya yang terus menangis sampai sesegukan.


Tika juga mendekat, Ria sangat jarang menangis, tapi jika menangis susah sekali untuk berhenti.


"Aira, makeup kamu rusak," bisik Tika menahan tawa karena Aira tidak cocok jika menangis.


Ai langsung diam, mencari ponselnya melihat wajahnya yang penuh air mata. Ai langsung meminta Tika merapikan wajahnya.


"Sudah Aira bilang tidak suka menangis." Ai mengusap wajahnya di bantu oleh Aliya yang tersenyum melihat wajah lucu anaknya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2