SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TAKUT MENGATAKAN


__ADS_3

Sampai di rumah Isel langsung bergegas ke kamarnya, obat yang pernah Dean beli masih utuh hanya berkurang satu. Isel masih ingat jelas jika obat yang Dean berikan dibuang tanpa sepengetahuan suaminya.


"Tidak mungkin jadi begitu cepatnya, aku yakin ini hanya perasaan aku saja." Beberapa obat dikeluarkan ingin Isel minum namun perasaan langsung sedih.


Jika terbukti hamil maka bisa membahayakan janin secara tidak langsung Isel menyakiti anaknya.


"Tidak mungkin hamil, aku tidak melihat tanda-tanda kehamilan sama sekali." Isel berpikir positif jika keterlambatan haid hanya karena dirinya stres.


Berjam-jam Isel mengecek tanda kehamilan di ponselnya, masih yakin jika tidak mungkin hamil. Melakukan tes kehamilan juga tidak berani dilakukan.


"Bagaimana jika benar, terus Uncle minta di gugurkan?" kepala Isel tertunduk, dia bukan sengaja untuk cepat hamil hanya saja tidak nyaman meminum obat.


"Sel, kenapa kamu tidak ke rumah sakit." Dean berjalan ke arah kamar melihat Isel yang duduk di atas ranjang sambil bersandar.


Selimut yang menutupi tubuh Isel dibuka, Dean mengecek kaki yang terkena tembakannya.


"Kenapa kamu begini?"


"Uncle, mulai sekarang kita pisah kamar saja, Isel yang akan keluar dari kamar ini." Mata Isel melihat ke arah jendela tidak berani menatap mata suaminya.


"Katakan sekali lagi, lihat ke arah aku." Dean menyentuh dagu Isel memintanya mengulangi ucapan yang terdengar jelas.


"Mulai sekarang pisah kamar saja, Isel ingin sendirian." Mata Isel berkaca-kaca merasa sedih dengan ucapannya.


"Pisah kamar dengan alasan apa, kamu masih marah?" Dean meminta maaf jika ucapannya yang kasar juga tindakannya yang menyakiti Isel.


Masalah melepaskan tembakan tidak ada maksud Dean menyakiti. Dia tahu batas kemampuan Isel yang bisa menghindari, tapi anehnya Isel tidak mengelak sama sekali tapi menangkis peluru sehingga melukai kakinya.


"Aku menolak pisah kamar," ujar Dean yang tidak ingin mengikuti keinginan Isel.


"Jika begitu kita pisah rumah saja, Isel benar-benar ingin sendiri Uncle." Keinginan Isel ternyata tidak main-main dia memang ingin berpisah dari Dean sementara waktu.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Dean meremas rambutnya karena tidak paham dengan Isel yang sangat aneh.


"Isel minta maaf soal kejadian kemarin Uncle, kita pisah kamar mulai malam ini." Isel mengambil kopernya memasukkan pakaian.


Jika Isel sudah memutuskan Dean tidak bisa menghentikan sama sekali, sehingga membiarkannya pindah kamar setidaknya mereka masih satu rumah.


"Kamu sudah makan belum, Uncle masakan makanan kesukaan kamu." Dean memeluk dari belakang, tapi pelukan dilepaskan paksa.


"Tidak perlu, nanti Isel pesan makanan di luar saja." Senyuman Isel terlihat langsung keluar kamar membawa kopernya untuk pindah ke kamar sebelah.


Dean melangkah ke kamar sebelah, memegang kenop pintu yang terkunci. Kepala Dean tertunduk merasa binggung di mana letak salah dirinya.


"Apa yang kamu inginkan Sel, apa kesalahan aku begitu besar sampai kamu begitu terluka?" Hal yang paling Dean takuti terjadi, dia tidak mungkin mampu akur dengan Isel layaknya suami istri seharusnya.


Dari balik pintu, Isel mendengar suara Dean mendengar tarikan napasnya yang begitu berat. Ketakutannya dalam pernikahan terjadi.


"Sel, di dalam rumah tangga pasti ada pertengkaran, salah paham, dan selisih. Kamu harus dewasa dalam menyingkapi itu, jangan menghindar seperti ini membuat aku binggung apa yang terjadi, apa salah aku?" Dean tidak meminta apapun hanya ingin dalam hubungan mereka saling mengutarakan baik buruknya pasangan.


Jika dirinya salah dan begitu menyakiti maka Dean bersedia meminta maaf dan memperbaiki apa yang tidak disukai dari dirinya, namun bahasa diam tidak mampu dirinya mengerti.


"Malam ini kita tenangkan diri, kamu jangan lupa makan. Besok kita bicara baik-baik dan perbaiki apa yaang salah. Menjaga jarak seperti ini bukan solusi." Dean kembali ke kamarnya tidak ingin lanjut debat karena percuma saja dia tidak mengerti alasan Isel menjauh.


Di dalam kamar baru Isel menyusun pakaiannya, menyentuh perutnya yang rata memutuskan tidak akan melakukan tes kehamilan karena akan membuatnya stres memikirkannya.


Semalaman Isel tidak tidur mencari tahu soal kehamilannya yang mengubah perasaanya juga cara berpikirnya yang berubah-ubah.


Secara tiba-tiba Isel mual, berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya, tubuh Isel terkulai lemas di kamar mandi tanda pertama dia rasakan dengan mual di pagi hari.


"Ternyata benar aku hamil, bagaimana cara aku menutupinya dari Uncle?" Isel duduk di lantai memegang perutnya yang mual-mual.


"Mungkin aku hanya kurang sehat saja, tidak mungkin hamil." Isel memutuskan tidur kemungkian dirinya lelah.

__ADS_1


Gedoran pintu terdengar, Dean meminta Isel bangun karena mereka harus sarapan bersama.


"Isel," panggil Dean pelan.


"Iya Uncle, sebentar lagi Isel keluar." Isel tidak bisa lanjut tidur karena Dean bisa curiga.


Pintu terbuka, senyuman Isel terlihat laangsung ke meja makan untuk sarapan bersama.


Bau makanan yang menyengat coba Isel tahan, mulutnya tidak bisa menelan makanan , tapi masih saja memaksa karena tidak ingin Dean curiga.


"Bagaimana kondisi kaki kamu,? kita periksa dulu ke dokter," ujar Dean yang masih mencemaskan istrinya.


Kepala Isel menggeleng, dia tidak perlu perawatan memilih beristirahat di rumah. Bagaimanapun Isel juga seorang dokter.


"Sel, maafkan aku jika belum bisa membahagiakan kamu, maaf jika aku belum bisa sabar seperti lelaki lain, maaf juga jika aku belum bisa menjadi susuai harapan kamu." Dean menggenggam jari-jemari Isel semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan kesalahannya.


Isel hanya bisa menggeleng, dia tidak bisa menjawab karena mulutnya pahit ingin muntah, namun takut Dean curiga.


Bagi Isel Dean tidak ada salah, dirinya yang takut jujur karena tidak siap dengan penolakan Dean jika benar dirinya hamil.


"Sekarang kamu juga mogok bicara, maaf aku benar-benar minta maaf. Katakan saja apa salah aku, aku akan berusaha memperbaikinya.


Balasan Isel hanya dengan gelengan kepala membuat hati Dean semakin sakit, tapi dia tidak bisa memaksa tetap melanjutkan makan sampai selesai.


Isel berdiri dari duduknya, meninggalkan Dean begitu saja tanpa mengatakan apapun, berlari ke kamarnya memuntahkan semua isi perutnya.


"Maafkan Isel Uncle, jika sudah waktunya Isel pasti bicara izinkan Isel menjaganya sendiri sampai hati ini siap dengan penolakan." Isel membersihkan mulutnya.


Cepat Isel balik lagi ke meja makan, tapi Dean suah meninggalkan meja makan dengan pesan minta maaf jika makan bersamanya pun membuat tidak nyaman.


"Uncle pasti kecewa sekali, bagaimana caranya aku meminta maaf." Isel langsung terduduk lemas di kursi menutup hidungnya karena tidak kuat dengan bau masakan bukan tidak menghargai apa yang sudah Dean siapkan.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2