SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
SALING MENGUATKAN


__ADS_3

Ketukan pintu terdengar, Mommy Anggun melangkah masuk melihat putranya masih tidur. Mommy tahu jika Dean tidak mungkin tidur hanya matanya saja yang terpejam.


"Sabar, jangan saling mengalahkan. Mommy percaya jika Dean sudah menjaga Isel dengan baik." Mommy mengenggam jari-jemari putranya, mengecup lembut karena tidak tega dengan kesedihan anaknya.


Ucapan Mommy tidak direspon oleh Dean, hanya air matanya yang mengalir keluar meksipun masih terpejam.


Rasa bersalah juga kehilangan bercampur aduk, Dean lebih menyalahkan dirinya karena tidak tahu apapun, lebih buruknya lagi Dean yang melarang untuk hamil.


"Nak, bicara dengan Mommy. Dean tega sekali mendiamkan Mommy?"


"Dean harus bagaimana Mom, seandainya aku tidak mengatakannya maka tidak mungkin Isel mengambil keputusan ini." Dean memeluk tangan Mommynya.


Seandainya bisa, nyawa akan diberikan asalkan anaknya bisa selamat. Dean sudah menikmati dunia, tapi anaknya sedang tumbuh namun gagal ulah dirinya.


"Jika hari itu aku tidak meminta menunda, tidak mungkin Isel menyembunyikan kehamilannya. Seandainya sejak awal tahu, tidak mungkin hal ini terjadi." Kepala Dean menggeleng, menangis di dalam pelukan Mommynya.


Tangan Mommy Anggun mengusap punggung, sangat mengerti alasan Dean meminta menunda kehamilan karena Isel belum dua puluh tahun. Dia masih harus menyelesaikan pendidikannya.


"Sudah, jangan disesali. Jadikan pelajaran ya sayang, Dean harus belajar lagi cara menjaga ucapan karena apa yang keluar dari mulut bisa jadi doa." Mommy menangkup wajah Dean mengusap air mata yang mengalir, mata Dean sembab karena terlalu banyak menangis.


Langkah kaki Daddy masuk, Dean langsung cepat mengusap matanya tidak ingin melihat ke arah Daddy-nya yang pasti akan kecewa.


Daddy Dimas mengacak rambut Putranya, tidak ada pemimpin yang bisa langsung hebat, bertanggung jawab, dan sangat profesional. Keberhasilan pemimpin berawal dari kegagalan.


Siapa yang ikhlas jika calon anak direnggut, tapi jika belum waktunya mempertahankan sekuat apapun tetap akan gagal.


"Laki-laki jangan menangis, apa salah akui. Daddy tahu kamu menyalahkan keterlambatan, tapi Daddy tidak kaget karena sejak kecil kamu selalu memilih menjadi yang terakhir tahu." Dimas menarik tangan Dean untuk bangkit dari tempat duduknya.


Kedua pundak Dean diremas kuat, Dean terlalu lemah untuk bertahan sebagai seorang ayah.

__ADS_1


Jika dia sudah siap menjadi ayah, maka siap juga dengan resikonya. Banyak orang yang menunda momongan dengan banyak alasan salah satunya belum siap menjadi orang tua.


"Katakan jika kamu siap, banyak cara untuk memperbaiki keadaan. Menangis bukan solusi Dean," ujar Dimas yang memukul pundak Putranya agar membuang rasa bersalahnya.


"Maafkan Dean, Daddy. Apa yang harus Dean lakukan, dokter mengatakan jika kemungkinan besar sulit untuk memiliki anak lagi," ucap Dean yang tidak sanggup jika Isel menangis karena dia sangat ingin menjadi ibu.


"Kenapa dengan dokter, apa kehadiran anak hasil dari dokter. Ada sepasang suami-istri yang menanti buah hati selama belasan tahun, bahkan terima meksipun kehilangan berkali-kali. Masalahnya bukan soal anak, tapi kalian bisa tidak saling menjaga keutuhan rumah tangga. Percuma memiliki anak jika tidak siap menjadi orang tua pada akhirnya akan menjadi korban." Dimas pernah mempertahankan anak sebelum kehadiran Angga, Diana apalagi Dean.


Dia sangat mencintai wanita masa lalunya, tapi dia pergi bersama dengan putrinya hingga puluhan tahun Dimas tidak pernah mendapatkan kabar tentang anaknya.


"Tidak peduli kandung ataupun angkat, jika sudah sayang tidak bisa diubah lagi. Kalian masih muda, banyak waktu dan kesempatan. Jangan jadikan kehilangan alasan untuk saling menyalahkan apalagi berpisah." Dimas memeluk lembut Dean, mengusap punggung putra bungsunya.


Dari belakang Diana juga memeluk erat Daddy Dimas, tangisan Diana dan Dean terdengar. Dimas hanya diam, matanya berkaca-kaca tidak membiarkan butiran air keluar dari matanya.


Jika Daddy sudah angkat bicara, Diana tidak pernah bisa menahan tangisannya. Orang pertama yang membuatnya kembali menjadi manusia dengan tangisan histeris, menyayanginya lebih dari apapun meksipun Diana hanya anak seorang penjahat juga melakukan kejahatan.


"Daddy sangat menyayangi kalian bertiga, tidak peduli hubungan apapun Daddy tahu anak Daddy semuanya orang baik. Daddy tidak pernah menginginkan kalian sempurna, cukup kalian saling menjaga dan mencintai antar saudara. Daddy tidak pernah tahu sampai kapan hidup, jika Daddy tidak ada lagi kalian yang harus saling menjaga." Dimas memeluk putra dan putrinya sangat erat.


"Kak Di jangan bicara seperti itu, tahu diri jika sudah tua." Dean mengusap air matanya.


"Diana tidak mau, nanti panggilnya Mom Di." Diana tertawa memeluk Daddy-nya menyingkirkan Dean.


"Suka-suka kamu Di, Tika saja yang seharusnya memanggil Aunty tetap memanggil Kak Di, maka anak Dean dan Angga boleh panggil kamu Nek Di." Tawa Daddy Dimas terdengar karena Diana teriak kuat.


"Mom Di, tidak mau jadi tua." Diana cemberut memeluk Mommy yang hanya bisa senyum.


"Anak kamu sudah besar semua Di, tapi kamu tetap seperti anak kecil." Mommy mengusap kepala putri semata wayangnya.


Pukulan Diana kuat ke arah punggung Dean, mengacak rambut adiknya yang menangis kembali.

__ADS_1


"Maafkan Dean Kak." Tangisan Dean tidak bisa ditahan langsung memeluk Diana yang tersenyum mengusap punggung Dean erat.


"Jangan meminta maaf Dean, tidak ada yang salah di sini. Kamu harus kendalikan pikiran agar hati juga damai." Senyuman Diana terlihat, sakit hatinya melihat putri kesayangan dan adik yang dicintainya menangis sesenggukan.


Diana sudah melewati ujian hidup, tidak ada yang paling menyakitkan kecuali melihat orang terkasih menangis kehilangan.


"Dean, Kak Di tahu kamu tidak bermaksud buruk, Kak Di tahu betapa besarnya kasih sayang kamu dan sangat memprioritaskan Isel. Jangan salahkan diri kamu, dan jangan kecewa juga kepada Isel karena gagal." Senyuman Diana terlihat, meminta Dean meminum obatnya agar segera sembuh dan menemui Isel melepaskan kesedihan bersama-sama.


Kepala Dean mengangguk, berusaha akan segera bangkit dan pulih. Dean akan segera menemui Isel untuk saling menguatkan.


"Kak, kenapa Bian mengenal Alina?"


"Kenapa dengan anak itu?"


Helaan napas Dean terdengar, Diana mengerutkan keningnya bisa membaca mata Dean yang emosi memikirkan soal Bian.


"Sudah, kamu istirahat dulu. Kak Di akan menyuntikkan obat, istirahat dulu malam ini. Kak Di minta kode apartemen kamu agar mommy daddy bisa istirahat di sana."


"Siapa yang akan menjaga Isel?"


"Ada Papanya yang datang makan ini." Diana meminta Mommy istirahat agar tidak kelelahan.


Daddy juga pergi ke kamar Isel, meninggal Dean dan Diana yang masih mengecek luka Dean.


"Bagaimana kronologi kecelakaan nya?"


Dean menceritakan detail, juga keterlibatan Bian yang juga dirawat di rumah sakit yang sama karena mengalami kecelakaan.


"Satu kali tabrak, tiga orang terpental? sungguh beser nyali orang ini?" Diana tertawa kecil karena merasa lucu.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2