SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
RESTU


__ADS_3

Pagi-pagi suara Aira muntah-muntah terdengar, Juan tidak tega melihat Adiknya yang menderita sedangkan Lea hanya asik makan.


"Ai, Kak Juan masuk ya?"


"Tidak boleh, aku marah sama kalian." Aira keluar kamar mandi berjalan melewati Juan yang mencemaskan Adiknya.


Tatapan mata Aira sinis saat melihat Lea yang tertawa sambil menonton televisi, mengusap perutnya yang sudah membuncit.


"Aku sudah mengundurkan kembali jadwal kamu, tapi Angga sudah mulai shooting film kembali." Lea menawarkan buah kepada Aira yang langsung mengambil semuanya.


"Berapa lama lagi kamu di dalam sana, aku capek mual-mual padahal tidak hamil?" Aira ingin meremas perut Lea, tapi mengusap lembut agar mereka bisa damai.


Tawa Lea terdengar meminta maaf karena sudah melibatkan Aira hingga banyak hal yang tertunda.


"Assalamualaikum," salam Angga dari luar.


"Suami aku baru pulang kerja, sini sayang peluk dulu." Ai memeluk paper bag untuk Aira dan makanan yang dia pesan.


"Baru pulang kamu?" Papi megusap punggung Angga yang menyalami.


Kepala Angga mengangguk, dia baru pulang malam pergi lagi. Aliya meminta maid membuatkan minuman.


Ai tiduran di paha Angga sambil mengunyah makanan, dia menjadi pemakaman segalanya karena mengidam.


"Ayang, temani Aira bermain ke taman hiburan, Ai ingin naik yang tinggi terus terjun. Mira Mora juga pasti suka." Ai merengek manja seperti anak kecil memiliki banyak keinginan dan Angga harus mengabulkan semuanya jika tidak Ai pasti menangis.


"Boleh, tapi setelah film aku selesai," ujar Angga santai menangapi.


"Kapan selesainya?"


"Sekitar tujuh bulan lagi," balas Angga sambil tersenyum.


Tawa Lea langsung pecah, keburu dirinya lahiran menunggu shooting Angga baru selesai.


"Uncle, sudah pulang?" Mora Mira membawa adik-adiknya saat tahu Angga pulang terlihat dari mobilnya.


Enam anak sudah menempel menyingkirkan Aira, Altha tersenyum menyukai lelaki penyayang tanpa membedakan.


Sikap Angga yang tenang bisa membuat anak-anak mengerti cukup satu kali teguran, bahkan yang sangat manja juga tidak membantah.

__ADS_1


"Uncle, Hasan kemarin dapat nilai seratus, Uncle jangan lupa kasih bintang." Pelukan lembut pamitan untuk pergi sekolah.


"Siap anak pintar, bagaimana dengan Husein?"


"Hampir, tapi gagal dapat seratus gara-gara teman sebelah Husien bisik-bisik jadinya Husein ganti lagi," wajah Husein nampak sedih.


"Jangan kecewa, tidak sempurna bukan berarti tidak pintar. Lain kali tidak boleh terpengaruh dengan sekitar, cukup fokus dan yakin kepada diri sendiri." Angga memeluk si kecil yang yang sangat dewasa.


"Uncle kasih Kakak Husein bintang juga tidak? soalnya punya Ajun nol semua." Suara tawa Ajun terdengar.


"Kenapa bisa nol? banyak istighfar Ajun jangan tertawa," tegur Angga dengan suara pelan.


"Ajun nakal Uncle, punya Vino juga salah semua gara-gara Kakak Ajun yang isi salah semua." Vino mengadu menyalahkan Kakak sepupunya.


Tangan Ajun mendorong Vino, bukan salah dirinya karena Vino yang memintanya mengisi secara paksa.


Suara Angga meminta semua berhenti debat, mereka harus segera pergi sekolah karena supir sudah menunggu.


Kepala Angga melihat kearah Mira dan Mora yang memasukkan banyak makanan ke dalam tas.


"Mora, Almira. Ambil secukupnya saja,"


"Mira ingin berbagi Uncle," ucap Mira masih memasukkan permen.


Tatapan Mora dan Mira tajam, mengeluarkan kembali hanya mengambil beberapa saja untuk mereka makan di mobil.


"Uncle, mereka berdua memang tidak punya teman karena itu berteman dengan monyet. Lagian lucu sekali monyet busa sakit gigi dan ompong, cukup Kakek kebun yang ompong kenapa monyet bisa ompong, jangan-jangan mereka juga bisa patah tulang?" Ajun mengoceh setelah pamitan untuk pergi sekolah.


Tatapan Mora dan Mira tajam mengejar Ajun yang sudah berlari lebih dulu, satu-satunya lelaki paling nakal yang menjadi musuh bebuyutan kembar beda rahim.


Teriakan Aira terdengar melihat makanannya berhamburan, langsung menyusun kembali untuk dipotret.


"Ayang, dipanggil Papi ke ruangannya?"


"Di mana ruangan Papi?" Angga langsung bergegas menemui Altha yang ada di ruangan kerja.


Senyuman Angga terlihat, menatap banyaknya penghargaan yang Altha terima. Angga juga pernah bermimpi menjadi polisi namun dirinya tidak memiliki keluarga yang jelas.


"Ada apa Pi?"

__ADS_1


"Di mana Daddy?"


"Kata maid pergi bersama Mommy untuk berbelanja, makanya Angga langsung ke sini soalnya di rumah tidak ada orang, tidak enak juga ada maid yang sedang berbenah." Angga tidak suka berada di rumah bersama wanita yang belum menikah.


Mendengar Angga yang sudah sibuk film baru membuat Alt mempertanyakan kembali keseriusannya, Alt tidak bisa menghentikan Aira yang terlalu lengket.


Kepastian dari Angga harga diri keluarga wanita, Alt tidak ingin janji untuk setia hingga berpacaran bertahun-tahun. Alt ingin anak-anak menjalin hubungan dalam ikatan pernikahan.


"Kamu paham maksudnya Papi?"


"Iya Pi, Mommy sedang mempersiapkan lamaran." Angga langsung menutup mulutnya karena Mommynya meminta untuk tidak memberitahu siapapun terlebih dahulu sebelum delapan puluh persen siap.


Alt tersenyum ternyata keluarga Angga sudah bersiap-siap, kekhawatiran sudah berkurang karena tidak ingin Putrinya terlalu lama.


"Papi, sebenarnya kita ada kendala soal status aku dan Aira. Kita berdua memiliki impian pernikahan yang spektakuler dan dihadiri banyak aktris dalam dan luar negeri, tetapi soal rahasia keluarga masih belum bisa dibocorkan. Angga sedang membicarakan dengan perusahaan solusi terbaiknya." Angga meminta maaf karena mungkin akan lambat karena proses panjang. Mereka tidak ingin membuat gempar publik sehingga persiapan harus matang.


Senyuman Altha terlihat, mengucapkan terima kasih karena Angga begitu memikirkan soal keluarga yang bisa bergabung bersama mereka di hari bahagia, namun tidak megungkap identitas.


Pekerjaan Angga dan Aira yang terus tersorot media tidak bisa dihindari. Jika media tidak bisa dihentikan, maka keamanan keluarga yang diperketat.


Pintu terbuka, Aira berjalan masuk sambil menangis sesenggukan karena es krim miliknya habis.


"Ayang ayo kita beli lagi,"


"Nanti kamu flu,"


Kepala Aira menggeleng, memaksa Angga untuk keluar bersamanya untuk membeli es krim lagi.


"Aira ini masih pagi," tegur Papi pelan.


Suara Aira mual terdengar, Angga langsung berdiri mengusap punggung Aira dan memberikan minum.


"Nanti jika Aira hamil, Papi saja yang terkena morning sickness biar dimarah Mami makan coklat sama es krim." Aira langsung keluar karena kesal.


Tawa Altha dan Angga terdengar, merasa lucu melihat tingkah Aira yang sengsara karena kehamilan Lea.


"Dewa, jaga Aira dengan baik. Boleh Papi memanggil nama itu sama seperti Daddy kamu?"


Kepala Angga mengangguk meminta izin untuk memeluk dan mengucapkan terima kasih karena diterima dalam keluarga.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2