
Panggilan seseorang menghentikan langkah Isel yang baru keluar dari rumah sakit, seorang wanita cantik dan seksi datang mendekatinya.
"Kamu mengenal aku?" tanya Glora.
"Ya, korban terakhir Bian," jawab Isel santai.
Glora meminta waktu Isel untuk bicara, ada hal penting yang ingin dirinya pinta kepada Isel demi kebaikan keduanya.
Senyuman Isel terlihat, keduanya menuju cafe terdekat untuk mengobrol santai sambil menyelidiki karakter satu sama lain.
"Wanita ini sangat tenang, dia sepertinya sangat terlatih berhadapan dengan siapapun," batin Glora yang cukup kaget dengan sikap tenang Isel.
Senyuman kecil Isel terlihat, sejak pertama melihat wajah Glora saja sudah bisa Isel tebak karakternya, wanita yang penuh drama dan kelicikan.
Dia hanya terlihat seperti korban, padahal semuanya hanyalah tipuan agar pusat perhatian teralih kepadanya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Isel pelan.
"Jauhi Bian, aku tidak ingin kamu menemuinya," pinta Glora secara baik-baik karena tidak ingin urusan mereka panjang.
Isel nampak kaget, Glora salah bicara jika meminta dirinya yang menjauh karena selangkah pun Isel tidak pernah mendekat.
"Sebelum kamu bicara dan meminta sesuatu, lebih baik pikir dulu dan lihat menggunakan mata kamu." Tawa Isel terdengar karena merasa lucu dengan permintaan Glora.
"Bian tetap dengan pendiriannya, dia akan membuat kamu berpisah dengan Dean," ujar Glora yang memberikan Isel peringatan.
Apa yang akan Bian lakukan berefek merugikan Isel dan Dean, keluarga baru mereka akan berantakan.
"Hei, lebih baik kamu urus Bian, dan masalah rumah tanggaku menjadi urusanku. Jika kamu memang mencintainya, maka pertahankan dia dengan cinta, bukan dengan paksaan. Cinta tidak akan hadir dengan mudah, segalanya butuh proses." Isel paham kekhawatiran Glora, tapi tidak perlu menghentikannya karena Isel tidak peduli dengan Bian.
Glora pertahanan saja cintanya, atau keserakahannya sedangkan Isel akan melakukan segala cara mempertahankan rumah tangganya juga cintanya.
Tatapan mata Glora sinis, dia tidak suka dengan sikap angkuh dan sombong Isel yang menganggap dirinya begitu sempurna sehingga banyak lelaki yang takluk di kakinya.
__ADS_1
"Tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, aku pamit." Isel mengambil tasnya langsung berjalan pergi.
Mata Glora melihat ke arah lantai, mengambil benda pipih yang terjatuh dari tas Isel. Senyuman Glora terlihat karena Isel dan suaminya sedang program hamil.
"Baguslah, aku bisa memberitahu Bian jika Isel sedang hamil, tidak mungkin dia akan meninggalkan suaminya." Tawa Glora terdengar karena ada jalan baginya jika terbukti Isel hamil.
Di dalam mobil Isel langsung pulang karena dia ingin segera melakukan tes pack, tidak sabar lagi untuk melihat garis dua yang menjadi mimpinya.
Sampai di apartemen, Isel bergegas naik untuk masuk ke dalam kamarnya. Beberapa tes pack dikelurkan.
"Di mana satunya, seharusnya ada lima?" Isel mengingat kemungkinan jatuhnya.
Helaan napas Isel terdengar, pasti jatuh di cafe karena Isel menarik dompet untuk meninggalkan uang di atas meja.
"Empat juga cukup." Isel membawa keempatnya masuk kamar mandi langsung melakukan tes.
Senyuman dan air mata Isel menetes, tidak membutuhkan waktu lama garis dua langsung terlihat jelas membuat Isel merasa terharu.
Isel berharap Dean akan memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, bahagai melihat hasil garis dua pertanda jika Isel positif hamil.
Empat tes pack Isel jadikan kado sebagai kejutan untuk suaminya, bingkisan kecil namun berarti sangat besar.
"Jika nanti papa tidak menerima kita dengan baik, kesayangan mama jangan sedih. Kalian cukup bertahan bersama Mama, kita akan melewatinya bersama-sama." Air mata Isel tumpah karena merasa sangat sedih takut jika Dean masih belum siap menjadi ayah.
Teringat jelas ucapan Dean yang meminta Isel menunda kehamilannya apalagi usia Isel masih terbilang sangat muda.
"Apa yang harus aku lakukan, kenapa tiba-tiba ragu lagi?" Isel langsung terguling di atas tempat tidurnya.
Mata Isel terpejam, terpikirkan dengan Aira yang kemungkinan bisa memberikan solusi kepadanya.
"Semoga Kak Ai bisa memberikan ketenangan." Isel menghubungi Aira karena dia orang yang sangat mengenal Dean sejak lahir.
"Kenapa, tumben sekali menghubungi aku?" Aira memukul kepala putrinya menggunakan sendok karena makan sambil bermain.
__ADS_1
"Apa dia Aura?"
"Apa kamu pikir aku sudah punya anak lagi?" Aira membuka paksa mulut putrinya yang menolak makan langsung kabur.
Tawa Isel terdengar, dia ingin sekali menggedong seorang bayi apalagi anaknya sendiri.
"Kak Ai, Isel hamil kemungkinan sudah masuk empat bulan ... masalahnya Isel takut." Kedua tangan Isel menutup telinganya karena Aira berteriak kuat tidak menyangka jika begitu cepat.
"Seriusan kalian berdua berhubungan suami-istri, aku tidak sedang bermimpi?" Ai berteriak histeris saat melihat garis dua yang Isel tunjukkan dari bingkisan.
Kepala Isel mengangguk, dia tidak harus menceritakan proses jadinya. Isel meminta Ai merahasiakan dari keluarga, Isel masih mencari cara untuk bicara dengan Dean.
Perasaan Isel tidak tenang karena Dean memintanya menunda kehamilan bahkan membelikan obat penunda hamil, salahnya Isel dia berbohong meminumnya padahal tidak.
"Kenapa sejak awal kalian sudah melakukan kesalahan? jutaan orang di luar sana menanti anak, tapi kenapa setuju untuk menunda. Cukup aku Sel yang stres lambat memiliki anak padahal itu hanya dua tahun, kalian yang berkesempatan diberikan cepat memutuskan menunda. Beritahu Dean secepatnya." Ai tidak mengizinkan Isel menunda lagi, jika perlu dia akan terbang menemui Isel untuk memecahkan kepala Dean yang tidak bersyukur.
"Apa Uncle akan menerimanya?"
Aira langsung tersentak kaget melihat Isel menangis, hamil membuatnya sangat sensitif sehingga memiliki banyak keraguan.
Ai sangat tahu watak Dean, dia tidak mungkin menolak mungkin akan sangat bahagia. Dean memiliki rasa cinta yang besar, jika dia memutuskan menunda bukan tidak ingin namun terlalu menyayangi Isel sehingga takut melihat Isel berjuang melahirkan.
Sebisa mungkin Aira menenangkan Isel agar berhenti menangis, dia akan segera menyusul agar ketakutan Isel berkurang.
Senyuman Isel terlihat, meminta Aira menjenguk dirinya yang sedang cengeng dan memiliki rasa takut yang begitu besar jika kehadiran anaknya ditolak.
"Sel, Dean menyayangi kamu melebihi aku, ingat dulu betapa aku cemburu jika Dean memprioritaskan kamu, sampai berkali-kali aku membuat kamu hilang dari pandangan Dean agar tidak menganggu kami." Ai sangat yakin Dean akan mencintai anaknya melebihi apapun, jika Isel saja dia cintai apalagi anaknya.
Senyuman Isel terlihat, dia akan segera memberitahu Dean meskipun hasilnya tidak menyenangkan.
Hal utama yang harus Isel lakukan memberitahu kabar baik kepada suaminya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira