SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
TANDA SAYANG


__ADS_3

Persiapan pernikahan sudah diadakan, tidak memungkinkan dilakukan di hotel karena kehebohan publik. Tidak banyak yang boleh tahu pernikahan Aira dan Blackat di adakan di mana.


"Aira! berhentilah memancing rasa penasaran penggemar kalian!" teriakkan Lea terdengar meminta Ai tidak menggunakan ponselnya lagi.


"Astaga, bertemu Ayang tidak boleh sekarang ponsel juga di sita, lalu Ai harus melakukan apa?"


"Memang beda aktris terkenal dengan aktris memaksa terkenal, di rumahnya Angga asik dengan menciptakan lagu, sedangkan kamu sibuk update status." Tika juga ikutan kesal karena Adiknya yang tidak ada diam.


Lea melangkah pergi menemui kakaknya, melihat Angga yang sedang bermain piano bersama anak-anak.


"Kenapa kamu di sini sayang?" Juan memeluk istrinya yang menatap Angga dari belakang.


"Terpikirkan saja dengan ucapan Kak Juan sebelumnya, dia memang orang yang cocok. Apalagi memiliki saham yang cukup tinggi di perusahaan." Lea memeluk pinggang suaminya melangkah ingin pulang ke rumah.


"Ayang kangen." Aira berteriak langsung ditarik oleh Juan untuk membawanya pulang.


Tawa Lea terdengar merasa konyol dengan Aira yang kabur dari rumah demi bisa bertemu orang yang dicintainya.


"Sabar Aira, hanya hitungan hari kamu bebas melakukan apapun. Serang saja Blackat sesuka hati kamu." Juan merangkul adik bungsunya.


Langkah Juan terhenti melihat Dean berjalan ke arah mereka, tidak terasa mereka sudah bersama lebih dari dua puluh tiga tahun.


"Kenapa kalian melihat aku begitu? tidak lihat keringat mengalir karena aku jadi tukang bangunan selama beberapa hari." Dean tersenyum bangga kepada dirinya sendiri bisa membantu persiapan untuk sahabatnya juga Kakaknya.


"Tamu masuk dari jalur kanan, keluar kiri. Aku rasa ini lebih besar dari pesta sebelumnya. Apalagi ada lima rumah yang terpakai." Juan melihat pelaminan sudah berdiri tegak.


"Dean juga rasa begitu, dulu rumah ini digunakan banyak acara namun kali ini yang paling ramai." Dean bahkan meminta bantuan banyak bodyguard menjaga dua jalur juga parkiran.


"Kamu bahagia Ai?" Lea menatap Aira yang melihat ke arah rumah Angga, suaranya bernyanyi terdengar sampai keluar.


Dean langsung melangkah pulang melihat kakaknya menciptakan lagu untuk wanita yang melahirkannya.


Permainan gitar tedengar menyayat hati, apalagi lagu yang dibawakan sampai menebus dada.

__ADS_1


Air mata Dean menetes, sebesar apapun dicintai orang lain namun tetap saja seorang anak membutuhkan restu seorang ibu.


"Kak." Pelukan Dean sangat erat bisa memahami perasaan sedih Kakaknya.


"Kenapa menangis? aku hanya bernyanyi untuk menghilangkan jenuh karena tidak diizinkan melakukan apapun." Kepala Angga tertunduk, mengusap kepala Adiknya yang memeluk erat.


Senyuman Angga terlihat, berusaha menunjukkan jika dirinya dalam keadaan baik dan bahagia.


"Jika Kak Angga sedih katakan saja, jangan terbebani." Juan mengusap punggung sangat lembut meminta Angga melepaskan beban hatinya.


Tawa Angga terdengar, dirinya seorang penyanyi penghayatan sangat penting. Jika lagunya sedih bukan berarti hatinya juga hancur.


"Aku bahagia saat ini, ada Mommy yang mendampingi. Kenapa aku harus mengusik bahagia orang lain? aku bahagia memiliki keluarga yang sekarang." Senyuman Angga terlihat, dia tidak ingin merusak bahagia siapapun karena apa yang dimilikinya sekarang lebih dari cukup.


"Itu keluarga aku, ada Daddy, Mommy Kak Di, aku dan juga Dean." Air mata Angga menetes tidak bisa melanjutkan ucapannya karena dia memiliki banyak keluarga dan sebentar lagi akan memiliki keluarganya sendiri.


Tatapan Angga melihat ke arah Aira langsung melangkah memeluknya erat. Ai juga memeluk dengan sangat erat mengusap punggung lelaki yang dicintainya.


"Aku minta maaf ya Ai jika terlahir di luar pernikahan, tapi aku ingin memiliki keluarga ada aku istri dan anak tanpa mengungkit siapa diriku. Jika nanti kamu marah jangan ungkit asal lahirku, aku sakit mendengarkannya." Angga memiliki ketakutan dalam pernikahan, tapi dia juga ingin membuktikan kepada dirinya sendiri jika dia tidak salah lahir.


"Kamu imamnya, Aira makmum. Baik buruknya Aira dan anak kita tergantung bagaimana kamu membimbing. Jadinya lelaki yang lebih dewasa lagi, saling jaga perasaan dan mengingat jika cinta kita tidak mudah bisa sampai di sini." Ai mengecup kening Angga membuat teriakan histeris.


"Kebalik Aira, seharusnya lelaki yang mencium kamu bukan sebaliknya. Ih, membuat malu saja, pulang sekarang." Lea menarik Aira untuk pulang karena selalu saja menyerang lebih dulu.


Kepala Dean dan Juan sudah menggeleng, Aira sungguh keterlaluan karena dia tidak pikir dua kali langsung nyosor.


Tawa Angga terdengar duduk sambil memegang keningnya yang mendapatkan energi baru.


Senyuman Isel terlihat dari lantai atas bersama Ian yang juga nampak bahagia melihat tawa Angga kembali.


Ai memang satu-satunya yang bisa mengembalikan tawa, kesedihan langsung lenyap saat dia sudah angkat bicara.


"Apa yang membuat kamu mengidolakan seorang Blackat?"

__ADS_1


Isel melihat ke arah Kakak keduanya, Ian juga pasti merasakan jika Angga memiliki banyak luka, namun hebatnya dia bisa berkarya dan menujukkan sisi lain dari dirinya.


Manusia hanya memiliki dua karakter yang menonjol, baik dan buruk namun Blackat memiliki banyak karakter yang sangat Isel kagumi.


"Pertama kali aku bertemu Uncle Black di sebuah hutan, dia sedang berkunjung ke rumah wanita tua memberikan makanan juga obat. Isel melihat hati yang baik, sikap yang keras, mata yang tajam juga dingin, tetapi saat dia bicara membuat hati bergetar." Hari itu Isel langsung menjadi penggemar.


Saat tahu Blackat seorang aktor, Isel selalu mengikutinya melihat banyak sekali pesona. Dia bukan hanya baik, bisa juga jahat. Dia mudah iba bisa juga tega.


"Aku mencintai karakternya bukan orangnya,"


"Sekarang kamu patah hati, mereka akan segera menikah. Lihatlah mewahnya pelaminan, aku harap kamu tidak menangis Sel," ujar Ian memperingati Adiknya.


Tawa Isel terdengar, dia tidak akan menangis karena setelah lulus kuliah Isel juga akan menikah. Isel menjadi wanita pertama yang akan menikah di usia paling muda, memecahkan rekor Aliya yang menikah di usia dua puluh tahun.


"Memangnya usia berapa?" Ian mengikuti Isel yang turun tangga.


"Delapan ...." Suara Isel tergelincir dan jatuh terdengar sangat kuat.


"Isel." Ian, Angga dan Dean yang melihatnya langsung berlari semua.


Gion yang tahu adiknya akan jatuh sudah lebih dulu menangkapnya karena langkah Isel yang sambil joget.


"Kamu bisa hati-hati tidak, kita semua bisa jantungan." Gion mengendong adik perempuannya yang membuat panik.


Tawa Isel terdengar, meksipun dirinya jatuh tidak akan menyebabkan kematian karena tangannya tidak tinggi.


"Kaki kamu baik-baik saja Sel?" Angga menyentuh kaki Isel.


"Tidak sekali terjun dari atas," sindir Dean mengecek tangan Isel yang meringis kesakitan.


"Kalian tahu tidak alasan Isel jomblo, itu karena kalian yang mengelilingi aku." Isel menghentak kakinya langsung pergi.


Senyuman Angga terlihat, Isel baru saja jatuh namun sudah bisa lari, tapi tidak memungkiri jika banyak yang mengkhawatirkannya karena terlalu sayang.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2