
Sudah larut malam, Gemal berlari kencang saat tahu putrinya mengalami kecelakaan juga keguguran.
"Kak Gem," panggil Di yang duduk di ruang tunggu.
"Sayang, bagaimana kondisi Isel?"
"Kak Gem tidak perlu khawatir, kita sudahi air mata kasihan Isel dan Dean. Jangan mengais dihadapan mereka lagi, kita support agar tidak ada tangisan lagi." Diana memeluk erat suaminya yang tersenyum kecil.
"Aku datang bukan ingin menangis sayang, hanya memastikan mereka berdua baik-baik saja, kenapa jagoan aku bisa kalah?" Gemal merangkul pundak istrinya untuk menemui Isel.
Diana hanya menunjukkan kamar, Isel sedang beristirahat. Gemal masuk mengecup kening putri kesayangannya.
Pintu ditutup perlahan, Diana melangkah pergi menyusuri lorong rumah sakit menuju satu ruangan yang seharusnya sejak awal dikunjungi.
Langkah Diana terhenti, seorang wanita cantik keluar dengan senyuman manis. Di juga tersenyum menatap wajah yang tidak asing.
"Siapa wanita Itu?" Di balik badan melihat punggung wanita yang perlahan menghilang.
Tangan Diana membuka pintu kamar secara perlahan, menunggu sesaat karena tidak ingin ada yang melihatnya.
"Keluar, aku sudah mengatakan jangan pernah muncul," teriakan Bian terdengar menatap Diana yang melangkah masuk.
Melihat Alina muncul, Bian langsung berdiri dari atas tempat tidur melepaskan infus secara paksa.
"Aunty Alina," sapa Bian membungkuk tubuhnya.
Tawa Alina terdengar, puluhan tahun sudah berlalu tidak menyangka akan berhadapan kembali dengan Bian.
Padahal Alina sudah memperingatkan agar Bian tidak pernah muncul dihadapannya karena jika waktu itu tiba semuanya berakhir.
"Kenapa kamu terlibat kecelakaan dengan Dean? kamu pasti tahu siapa dia?" Alina duduk di sofa menatap Bian yang masih tunduk.
Cukup lama diam, Bian menghampiri Alina. Meminta maaf karena tidak pernah menyapa meksipun tahu keberadaan Alina.
"Aku meminta kamu menjadi penjahat berkelas, bukan penjahat bodoh. Percuma aku mengajari kamu jika pada akhirnya kamu bumerang untuk adik dan putriku. Mencabut nyawa kamu bukan hal yang sulit bagiku." Tatapan Alina langsung tajam melihat pemuda kecil yang sudah tumbuh dewasa, tapi pikirannya tidak pernah dewasa.
__ADS_1
"Putri?" Bian tersenyum kecil mendengar ucapan Alina soal putrinya.
Mata Diana menatap tubuh Bian masih penuh luka, dia jauh lebih parah dari pada Dean. Diana tahu jika Bian bertujuan menyelamatkan putrinya.
Senyuman Bian terlihat, wanita cantik dan penuh wibawa manis sama, tidak ada yang berubah dari Alina. Meksipun sudah tidak muda lagi, Alina masih terlihat sangat kuat.
"Apa aku salah mencintai Isel hanya karena dia putri Aunty Alin?"
Diana langsung berdiri menatap tajam Bian yang sangat berani mengatakan jika mencintai Putrinya padahal tahu jika Isel sudah memiliki suami dan akan segera menjadi ibu.
Meskipun tahu semuanya dengan nekat Bian tetap mencintai Isel, apapun resikonya sekalipun Alina yang harus dirinyaa hadapi.
"Lihat sekarang, Dean bahkan tidak bisa menjaga istrinya, tidak tahu jika sedang mengandung berarti cinta tidak sepenuhnya tulus." Bian mendekati Diana meminta restu mencintai dan akan membahagiakan Isel.
Bian pastikan Isel akan bahagia bersamanya, Diana tidak perlu mengkhawatirkan karena segala kebutuhan Isel akan tersedia. Bian bukan hanya akan menjadi suami yang baik, tapi siap menjadi penjaga selama hidup Isel.
Pukulan kuat Diana melayang, ucapan lancang yang keluar dari mulut Bian karena berani menyimpan rasa kepada putri semata wayangnya.
"Kenapa aku dipukul?"
"Aku bukan hanya ingin memukul kamu, tapi melenyapkan," balas Diana.
"Kita, kamu. Masih ingat apa yang pernah aku katakan? pilih satu orang yang mampu mengubah kamu, jika tidak maka jangan pernah memilikinya, tapi apa yang kamu lakukan?"
Kedua tangan Bian meremas rambutnya, sudah dirinya katakan jika tidak sepenuhnya salah. Dia sudah tulus mencintai berharap wanita yang dipilihnya tepat, tapi para wanita yang mengkhianatinya lebih dulu.
Jika tidak dikhianati maka tidak mungkin Bian akan menyakiti, hukuman bagi seorang pengkhianatan sudah pasti penyiksaan.
"Masalah Alika dan Hairin, tidak ada sangkut pautnya denganku. Mereka sendiri yang memutuskan, kenapa aku yang nampak buruk?"
"Dasar bodoh. Bagaimana kamu bisa mengatakan jika wanita tulus saat menawarkan kekayaan, kekuasaan. Wanita mana yang menolak?" Tawa Diana terdengar karena semua wanita mengiginkan kemewahan, sejahat apapun pasti akan berubah bagaikan malaikat dalam sekejap.
Bian terdiam, benar selama ini dirinya menjaminkan kemewahan agar bisa dicintai melebihi apapun.
"Pilihan aku sekarang sudah tepat, hanya membutuhkan sedikit lagi perjuangan."
__ADS_1
"Kamu mencintai wanita yang tidak mencintai kamu, lalu kebahagiaan apa yang kamu inginkan?"
"Bukannya dicintai jauh lebih baik?"
"Saling mencintai yang terbaik, mampu memberi dan memberikan. Apa kamu akan terus seperti ini?"
"Kenapa aku?"
Langkah Diana maju, membisikkan sesuatu. Langkah Bian langsung mundur, air mata menetes dari matanya karena selama ini Alina orang yang sudah membunuh seluruh keluarga Bian.
Alasan Alina membiarkan Bian hidup agar dia menderita, hidupnya hancur dan tidak akan pernah menemukan kebahagiaan.
"Bohong, tidak mungkin kamu yang melakukannya?"
"Kenapa aku membunuh mereka semua karena papa kamu melecehkan anak dibawah umur. Keluarganya tidak terima karena itu aku melakukannya dengan bayaran. Kenapa kamu hidup itulah hukuman." Di tersenyum manis karena orang yang Bian pikir malaikat penolong sebenarnya malaikat maut.
Tangan Bian tergempal, mendekati wajah Alina. Bian bersumpah akan membuat Alina kehilangan putrinya juga orang-orang yang dicintainya.
Tawa Alina terdengar, cinta apa yang sedang Bian rasakan saat mendengar sebuah ucapan tanpa bukti langsung terbakar emosi.
"Di mana kata cinta tadi, kamu baru saja ingin membunuh kami semua. Hanya melalui ucapan kita bisa menjadi orang jahat," ujar Alina meminta Bian sadar di mana salah dirinya bukan mencoba mencari salah orang lain hanya karena kata orang.
Cinta yang tulus dia yang percaya baik dan buruk juga kekurangan. Bian sudah menjadi lelaki dewasa, seharusnya paham jika bahagia bukan hanya soal mencintai, juga kemewahan.
"Jangan katakan kamu mencintai Isel, jika aku mendengarnya satu kali lagi maka kamu akan aku singkirkan. Lawan kamu bukan Dean ataupun Isel, tapi aku." Diana meminta Bian tidur kembali, memasangkan infus.
"Bunuh saja aku agar bisa mati dengan tenang," pinta Bian yang mengusap air matanya.
"Aku berharap kamu menemukan kebahagiaan, cari bahagia kamu. Jika nanti bertemu, hubungi aku dan tertawalah." Diana melangkah keluar setelah menyelimuti Bian.
Panggilan Bian menghentikan langkah Diana, permintaan maaf karena tidak bisa menyelamatkan Isel padahal dulu Diana menyelamatkan.
"Selamatkan diri kamu sendiri, kasus kecelakaan akan diselidiki. Jika kamu terkait maka aku tidak bisa menyelamatkan kamu. Ada dua petarung yang akan datang, berhati-hatilah." Senyuman Diana terlihat, menutup pintu perlahan membiarkan Bian beristirahat.
Pikiran pasti sedang campur aduk karena perasaan cintanya ternyata hanya ambisi.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira