
Pelukan Angga erat, meninggalkan kembali negara yang menjadi tempat terindah yang dia tinggali.
"Cepat pulang ya sayang,"
"Iya Mommy, Dean jaga Mommy dan Daddy." Angga pamitan kepada Altha dan Aliya.
"Hati-hati kalian berdua, jaga Aira. Papi harap kamu kuat dengan godaannya." Alt menepuk pundak Angga menitipkan Putrinya.
Kepala Angga mengangguk, kedua tangannya terentang. Dua wanita berlari langsung memeluk erat. Angga mengusap punggung si kecil yang sangat disayanginya.
"Uncle dengarkan Mira, jika aku diminta melupakanmu, maka aku akan pergi untuk mendapatkan surat keterangan tidak mampu." Tawa Mira terdengar memberikan kata-kata romantis.
Angga hanya tersenyum tersipu malu, Mira sangat menyukai hal yang romantis sehingga dia terlihat sangat feminim.
"Mora, kamu ingin mengutarakan sesuatu?" Angga menatap Mora yang loading lama.
"Yang jauh hanya pijakan, Mora lupa sisanya. Mira ayo bisikkan. Yang jauh hanya pijakan, bukan perasaan, yang berjarak hanya raga bukan rasa." Mora menatap sinis Mira yang berbisik sambil tertawa karena baginya tidak ada yang lucu.
Semuanya orang yang mendengar hanya bisa tertawa lucu, Mora dan Mira sangat menyukai Angga meksipun orang baru.
"Aira, ayo balas," pinta Angga untuk kata-kata penutup.
"Jika aku tahu soal cinta, itu karena kamu." Aira memberikan ciuman jarak jauh.
Semua orang langsung bubar meminta Angga dan Aira segera pergi, tidak ingin mendengar kata-kata Ai yang sangat lebai.
Penerbangan Black dan Aira dikerumuni oleh wartawan dan penggemar yang mensupport, keduanya melambaikan tangan menyapa penggemar yang membludak.
Langkah Aira tidak bisa maju karena bodyguard kalah dari penggemar yang ingin berjabatan tangan.
Tangan Black langsung merangkul Aira, menjaga dan melindunginya dari banyaknya penggemar.
"Jaga jarak," suara bodyguard berlarian menyingkirkan banyak orang untuk menjauh.
"Jangan main kasar," tegur Blackat kepada bodyguard.
Perlahan penggemar mundur, jika Blackat saja mengorbankan dirinya untuk menjaga Ai, tidak mungkin tega melihat jika Black akan terluka.
Tangan Black menggenggam tangan Aira, memintanya melambaikan tangan terakhir kali untuk penggemar sebelum mereka berpisah selama satu minggu.
__ADS_1
Teriakkan banyak orang terdengar, Aira dan Blackat membungkuk tubuhnya memberikan penghormatan terakhir barulah berjalan masuk untuk bersiap terbang.
"Kamu baik-baik saja Ai?"
"Iya, bagaimana dengan Kakak hitam?" Ai menatap wajah Angga yang sangat tenang.
Berjalan bersama Angga mengajari Aira cara menghargai orang lain, menerima meksipun akan mengalami luka.
Berada di tengah banyak orang, Angga masih berbicara lembut mengkhawatirkan orang lain sehingga lupa kepada dirinya sendiri.
"Kakak hitam banyak berubah, tidak seperti dulu lagi,"
"Memangnya aku dulu seperti apa? aku bukan orang baik Ai, dulu aku sama seperti kamu, bertemu penggemar sangat menyebalkan." Namun Blackat menghilangkan pikiran buruknya, dia meyakini suksesnya dirinya bukan hanya karena tekat yang kuat, namun dukungan dan doa.
Penggemar tidak membutuhkan idola, tapi idola yang membutuhkan penggemar. Tanpa penggemar maka bukan siapa-siapa seorang idola.
"Kita mendapatkan uang dari dukungan penggemar, namun mereka tidak mendapatkan apapun dari kita. Lalu apa hal kita kesal jika bertemu." Angga tersenyum merangkul Aira untuk naik pesawat setelah pemeriksaan.
Beberapa tim juga masuk, secara tiba-tiba ada yang menabrak Angga menyebabkan rasa perih di lengannya.
Orang yang ingin masuk secara tiba-tiba keluar lagi, sasaran sebenarnya bukan Angga, tapi Aira, namun tubuh Ai dijaga ketat oleh Angga yang merangkulnya.
Angga langsung membuka baju Angga, melihat ada bekas merah kecil. Aira dan tim cukup binggung melihat Angga mengecek lengannya.
"Ada apa Black?"
"Aku yakin ada yang menyuntik obat terlarang padaku, rasanya sama seperti saat beberapa tahun yang lalu aku dipaksa terkena obat terlarang." Angga meminta dirinya di tes, jika sampai pemeriksaan di luar negeri mungkin Blackat batal konser.
Tim langsung panik semua, Black memutuskan membatalkan penerbangan. Meminta tim pergi bersama Aira, dia akan menunggu sampai keadaannya membaik.
"Aku ikut kamu," pinta Aira menolak untuk pergi.
"Kita bertemu besok pagi,"
"Tidak mau, aku tidak ingin berpisah lagi. Tolong jangan meminta aku pergi." Air mata Aira langsung menetes melihat lelaki yang dicintainya disakiti lagi.
Black keluar dari pesawat bersama Aira dan Gilang, sedangkan tim tetap pergi. Batalnya keberangkatan dirahasiakan, Gilang dan siapapun yang tahu tidak diperbolehkan melapor kepada perusahaan.
Black sangat yakin ada orang dari Tim Aira yang ingin mencelakai Ai, mereka coba memisahkan Blackat dan Aira untuk mendapatkan kesempatan.
__ADS_1
Tim Aira dan Blackat yang diminta mendampingi merasa sedih karena mereka harus terbang tanpa artisnya langsung.
"Aku akan menyiapkan mobil untuk kita kembali," Gilang ingin pergi, tapi Angga menahannya.
Blackat menghubungi Gemal, meminta menjemputnya di bandara, menjelaskan kemungkinan dirinya positif mengkonsumsi obat. Reaksi obat tidak ada karena akan terdeteksi saat tiba di luar negeri.
Tangan Angga DNA Aira saling menggenggam, Ai hanya diam memeluk lengan kekasihnya merasa khawatir.
"Jangan sedih, aku baik-baik saja. Aku harap dugaan aku salah, dan ini hanya tertusuk jarum atau apapun." Black menenangkan Aira yang merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun.
"Mami benar, Aira tidak bisa menjaga diri jika berada di tengah banyak orang, baik ataupun buruk yang terjadi hanya akan dijadikan sorotan untuk dijadikan bahan pemberitaan. Dunia keartisan begitu kejam." Ai memeluk Angga yang tersenyum menenangkan.
"Pekerjaan apapun memiliki resiko yang sama Ai, namun pekerjaan kita rentan dikhianati. Jika satu saja Tim berkhianat, maka artisnya akan terluka." Apapun yang terjadi, Angga tidak akan membiarkan Aira terluka.
"Maafkan Ai,"
"Aku Blackat di mata orang sebagai aktris dan penyanyi, tapi aku disisi kamu dan keluarga kita sebagai Angga hanya lelaki biasa." Usapan tangan Angga lembut, dia satu orang yang memiliki dua nama.
Tidak lama Gemal muncul, melihat Aira. Langsung mengecek kondisi Ai mencemaskan si bungsu yang selalu menjadi incaran wartawan.
Gemal melihat luka kecil di lengan Angga, langsung mengambil darahnya untuk melakukan pengecekkan.
"Kalian ikut Kak Gem, kita cari tempat aman." Aira dan Angga keluar tanpa ada satupun yang tahu jika mereka meninggalkan bandara.
Penjelasan Blackat tidak memberikan bukti apapun karena dia tidak melihat wajah, tapi Black sangat yakin dia orang yang ada di tim Aira.
Tim Blackat tidak ada yang membawa kamera, beda dengan tim Aira yang memiliki fotografer pribadi.
"Orang itu membawa kamera?"
"Iya kak, dia selalu berdiri di dekat Aira, namun wajahnya tertutup rapat." Black menutupi tubuh Aira sehingga dia yang tekena tusukkan.
"Kira-kira, dia ikut penerbangan tidak?" Gemal memperhatikan wajah Angga.
"Tidak, aku tidak membawa fotografer hari ini karena dia izin menyusul karena ada urusan pribadi." Aira tahu siapa pelakunya dan sangat yakin jika pelaku dari timnya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1