SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MAK COMBLANG*


__ADS_3

Ketukan pintu terdengar, Dean melangkah masuk melihat sepupunya sedang melamun menatap lantai.


"Masalah dengan Vio belum kelar?" tanya Dean yang memutuskan untuk duduk di samping Devan.


"Kenapa ke sini, lebih baik ke rumah sakit." Devan menolak untuk bicara karena secara tiba-tiba moodnya rusak.


Senyuman Dean terlihat karena perasaan cinta memang sulit dipahami, terkadang jatuh ke tempat yang tidak tepat.


"Vio sengaja mendekati kamu demi menyakiti aku, gagal mendekati kamu pindah mendekati Ghion, dia seperti wanita murahan," ucap Devan dengan perasaan penuh amarah.


"Apa yang kamu rasakan, dia murah karena mencintai bajingan seperti kamu," sindir Dean sambil tertawa.


Seandainya Devan memang cinta berusaha untuk mendapatkan bukan marah, wajar seorang wanita ingin mendekati orang terdekat karena hatinya sakit.


"Hanya karena Bunda kamu seorang dokter, Ayah kamu pengusaha dan kamu pria bergelar sehingga menganggap tidak sebanding dengan yang hanya yatim piatu dan berjuang untuk memiliki standar yang sama." Di mata Dean, Vio wanita yang sangat tangguh karena melawan takdirnya sendirian.


Tidak heraan Isel memilih tutup telinga jika ada yang menjelekkannya. Sekalipun dia sakiti, Isel mengganggap Vio sahabat terbaiknya.


Tidak semua wanita mampu berdiri di kaki sendiri, di tengah hati yang hancur. Berjuang tanpa ada satupun orang tercinta.


"Aku harus bagaimana Kak? Devan binggung cara bicara sama Bunda yang memiliki hubungan baik dengan keluarga dokter itu." Tangisan Devan terdengar langsung lompat ke atas tempat tidur seperti anak kecil.


Kepala Dean geleng-geleng karena Devan dipaksa untuk hebat di depan kedua adiknya yang memiliki status yang tinggi juga.


Devan bisa menjadi Kakak yang baik, tapi dia gagal membahagiakan dirinya sendiri karena harus menjaga keluarganya.


"Van, Bunda kamu sosok ibu yang lua biasa dia tidak pernah memaksa kehendak anak, buktinya dia bisa mandi dokter yang hebat dan selalu disegani, masalahnya hanya ada di Ayah kamu yang terllau keras," jelas Dean meminta Devan berhenti menangis karean tidak akan mengubah apapun.


Devan dan Dean terkejut karena melihat Daddy berdiri di depan pintu memegang undangan pernikahan.


Tatapan matanya tajam, Devan langsung duduk mengusap air matanya karena sangat takut kepada Dimas yang sangat dingin kepada siapapun.


"Di mana ayah bunda kamu?" tanya Dimas dengan nada dingin.


"Di rumah mungkin Uncle," jawab Devan sambil tertunduk.


Dimas melangkah keluar melakukan panggilan dengan Dika, meminta segerr pulang ke rumah karena ada pembicaraan penting.


"Apa yang mereka pikirkan?"


"Kenapa Daddy?" Mommy mengambil undangan tersenyum lebar mengucapkan syukur karean Devan akhirnya memutuskan menikah.


"Kak Devan itu korban perjodohan, padahal dia punya pacar," ujar Isel yang langsung duduk.

__ADS_1


Mommy nampak kaget mendengar ucapan Isel jika Devan punya pacar, tidak bisa membayangkan perasaan kekasih Devan jika tahu menjadi tamu undangan.


"Bagaimana kamu bisa tahu Sel?"


"Tentu Isel tahu, pacarnya Devan sahabatnya Isel, bahkan sempat hamil, tapi gara-gara Devan keguguran," jelas Isel membuta karangan dengan mimik wajahnya yang serius.


Mommy Anggun memperbanyak istighfar, menggelengkan kepalanya karena masih tidak percaya jika Devan melakukan terlalu jauh.


Tangan Dimas memijit pelipisnya, tidak bisa membayangkan pergaulan anak muda semakin parah.


"Panggil teman kamu ke sini sekarang," pinta Dimas memberikan perintah.


Kepala Isel langsung mengangguk, berjalan ke arah kamarnya mengambil ponsel. Tawa Isel terdengar karena rencananya pasti berhasil.


Isl menghubungi Vio yang langsung menjawab panggilan karena masih menemani Laura untuk pindah rumah.


"Kalian di mana?" tawa kecil Isel terdengar.


"Kenapa kamu tertawa Sel, pasti ada niat hati yang keji," jawab Vio yang sudah paham karakter Isel.


"Vio, sekarang juga kamu datang ke sini, ada hal mendesak," pinta Isel memaksa.


Vio kebingungan karena dirinya tahu asuk kawasan rumah keluarga Isel tidak mudah, hanya orang dalam yang memiliki akses untuk masuk.


Senyuman Isel terlihat karena dirinya harus menyatukan Vio dan Devan, agar bukan hanya dirinya yang menjadi ibu-ibu, tapi temannya juga.


Setelah Vio, rencana Isel berpindah ke Weni, lalu ke Laura meskipun pasti sulit karena Laura memiliki luka gagal bagai.


"Apa arti senyuman kamu sayang?" Dean memicingkan matanya karena ingin mengantar Isel ke rumah sakit dengan beribu alasan.


"Besok saja, Isel punya banyak pekerjjaan hari ini," ujar Isel mulai kesal.


"Ayolah sayang, Kak Di sudah menunggu di rumah sakit, kita pastikan dulu kandungan kamu." Dean masih mencoba membujuk Isel.


"Berapa lama, Isel punya banyak urusan."


"Urusan apa?"


"Sekarang Isel sudah menjabat menjadi Mak comblang," jawab Isel sambil terkekeh.


Kepala Dean geleng-geleng, terserah dengan urusan baru Isel, paling penting mereka harus periksa kandungan untuk memastikan kondisi bayi.


Tepaksa Isel setuju karena ada mamanya yang menunggu di rumah sakit, memeriksakan kandungannya yang sudah masuk tujuh bulan.

__ADS_1


Dean dan Isel pamit pergi kepada Mommy Daddy yang berniat ikut, tapi masalah Devan juga penting.


"Nenda, telepon Isel jika ada tamu. Isel hanya sebentar saja," pinta Isel dengan suara yang besar.


Kepala Mommy Anggun hanya mengangguk, meminta Dean berhati-hati membawa mobil karena kandungan Isel sudah besar.


"Abi, Ura ikut," teriakan Ura terdengar berlari kencang ke arah Dean.


"Ikut terus bocah satu ini." Isel membukakan pintu membiarkan Ura masuk.


Ketiganya berangkat ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, Isel merasa perutnya sudah sesak, tapi misinya masih panjang.


Suara tawa Dean dan Ura terdengar, terlihat sangat dekat. Ura juga nyaman saat berbicara dengan Abinya.


"Ura, kamu sudah punya daftar nama belum?" tanya Dean pelan.


"Ada, adiknya Ura ada dua. Catunya Ambiya dan catunya lagi Ambara, angilnya Am Am." Tawa Ura terdengar diiringi oleh Isel yang juga merasa lucu.


"Kalau anaknya Aunty Lea?"


"Wewek nanaknya, amanya Anisya." Mata Ura mulai mengantuk karena lelah berpikir mencarikan nama.


Tangan Isel mengusap kepala Ura, membiarkannya tidur pulas karena masih ada waktu sebelum tiba di rumah sakit.


"Sayang kira-kira siapa nama anak kita?" tanya Dean belum memiliki daftar nama untuk anak kembarnya.


Kepala Isel menggeleng masih mencari nama paling baik untuk anaknya, hanya ada beberapa nama yang belum fix.


"Jika cowok namanya Delvin, tapi seandainya cewek namanya Devara."


"Seandainya cewek-cewek?"


"Desvara dan Desvira, panggilannya Vara dan Vira." Isel tersenyum kecil karena takut anaknya nakal seperti Ura.


"Angilnya Ara dan Ira Adiknya Ura," jawab Ura yang membuka matanya sebelah.


Kepala Devan mengangguk, gemes melihat Ura yang sangat mengemaskan hanya sekedar bicara sambil tidur.


"Jika cowok namanya Delvino dan Delvano," saran dari Dean tidak sabar lagi ingin melihat bayinya.


***


Follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2