
Kedua tangan Lea memegang tangan Juan, menatap binggung karena Juan tidak melakukan apapun. Maminya langsung dibawa ke ruangan khusus.
"Kenapa Mami tidak melakukan perawatan?" tangan Lea sudah gemetaran, bibirnya juga bergetar tidak berani mengeluarkan kata lagi.
"Lea, kamu harus kuat dan lebih tegar lagi." Juan memeluk Lea yang meremas baju Juan yang basah dengan sangat erat.
Juan mengatakan jika Maminya sudah meninggal di tempat kecelakaan, dan membiarkan perawat membersihkan.
Tubuh Lea bergetar dengan tangisan tanpa suara, perasaannya sangat hancur dan tidak bisa berkata lagi.
Air mata Juan menetes, mengusap punggung Lea yang memeluknya sangat erat merasakan kehancuran.
Dunia Lea serasa hancur, tidak ada alasan lagi dirinya harus kuat karena kedua orangtuanya memutuskan meninggalkan dirinya sendirian.
Black tiba, melihat Juan menetes air matanya. Sudah bisa Black ketahui apa yang terjadi jika musibah sedang bertubi-tubi menghantamnya.
Lea menatap Blackat yang menatapnya tanpa ekspresi, langkah Lea mencoba mendekati Kakaknya. Tubuh Lea langsung terhentak duduk, tenaganya menghilang.
Blackat langsung menahan memeluk erat Lea yang sudah lemas, kedua matanya juga terpejam merasakan hancur.
"Lea, Dek. Kakak tahu ini berat, tidak ada anak yang akan tegar dengan ujian seberat ini. Kamu harus kuat Lea, Kak Black ada bersama kamu." Pelukan Blackat erat mengusap wajah Lea yang tidak bisa membendung perasaan dukanya.
Dari kejauhan, Aira, Dean dan Isel melihat kondisi Lea. Juan yang biasanya dingin juga meneteskan air matanya.
Air mata Isel juga menetes, merasakan rindu kepada Mamanya. Dia yang selalu membatah, dan tidak pernah menuruti sehingga membuatnya merasa bersalah.
Jika sudah seperti Lea, maka tidak ada gunanya lagi kata maaf. Hati Isel hancur melihat kondisi Lea yang ditinggal kedua orang tuanya.
Kedua tangan Black menakup wajah Lea, bicara dari hati ke hati agar Adiknya tetap menjadi wanita kuat dan tangguh. Mereka pernah diuji sebelumnya, dan sanggup bertahan. Lea harus melakukan hal yang sama satu kali lagi.
__ADS_1
"Kak sakit, Lea tidak sanggup Kak." Bibir Lea gemetaran meremas kedua tangan Blackat.
"Bisa, Lea sanggup. Kak Black tahu kamu wanita kuat dan tangguh sehingga diberikan ujian yang sangat berat. Dek kamu punya Kak Black." Tidak sedikitpun Black menunjukkan air matanya, terus menguatkan Lea jika dirinya diuji untuk menjadi lebih baik.
Perlahan Lea bangkit dibantu oleh Black untuk menemui maminya, Lea ingin selalu bersama maminya selama dirinya masih bisa.
Ai berdiri di samping Lea yang mengusap wajah Maminya, kepala Lea diletakan di dada Maminya sambil memeluk lembut.
"Mami, Lea tidak ingin berpisah. Tidak bisakah kalian kembali. Kenapa Mami memilih bersama Papi, dan meninggalkan Lea." Pelukan Lea semakin erat.
Tangan Aira mengusap kepala dengan sangat lembut, salut dengan Lea yang tidak jatuh pingsan meksipun tumbuhnya hampir tumbang.
"Ai, takdir begitu jahat sehingga melakukan ini kepadaku. Tidak memberikan aku waktu untuk menata hati, takdir kejam sekali." Lea mengenggam tangan Aira dengan sangat kuat.
Tidak ada lagi yang akan melindungi, menyayangi, dan membela Lea lagi di saat dirinya dalam masalah. Semua pergi begitu saja, kehilangan sosok Kakak yang selama ini dirinya percaya, dan disusul oleh Papi dan Maminya.
"Kenapa kamu takut? ingin menyerah. Apa yang bisa aku lakukan untuk mengurangi rasa sakit itu?" Ai bicara dengan serius ingin sekali memeluk Lea mengingatkan dirinya jika Ai ada di sisinya, tapi rasa kecewa dikhianati Anggrek membuat Ai tidak percaya persahabatan lagi.
"Peluk aku sebentar saja Ai, rasa aku hampir mati." Lea menatap Aira sambil berderai air mata.
Ai langsung memeluknya, mengusap punggung dengan sangat lembut. Ai tahu sakitnya Lea, tapi dia tidak boleh mati sebelum bahagia.
"Ai, apa yang harus aku lakukan? sekarang aku tidak memiliki penopang, tidak memiliki tiang penyangga untuk berdiri kokoh. Aku begitu lemah saat ini,"
"Ya, aku tahu. Papa seperti penopang sedangkan sosok ibu bagaikan tiang tanpa mereka maka kita akan runtuh. Tidak ada salahnya hancur satu kali, runtuh dan berhamburan. Tidak ada salahnya bangunan itu hancur sampai tidak menyisakan sedikitpun puing. Bangkit lagi Lea, bangun lagi dengan kekokohan yang baru." Ai mengusap air mata Lea, meminta bukti atas ucapan Lea sebelumnya yang ingin Aira menjadi sang bintang yang berkilau paling terang di antara bintang lainnya.
Lea masih memiliki tanggungan untuk menerbangkan Aira hingga mencapai puncak, memiliki janji untuk berjuang dan sukses bersama.
"Kamu tidak boleh menyerah, kematian bukan akhir kehidupan. Dosa kamu masih banyak, perbaiki dan perbanyak amal." Ai menundukkan kepalanya tidak sanggup melihat wajah Lea yang begitu sedih.
__ADS_1
"Ai, boleh minta sesuatu?"
"Tentu. Asalkan jangan meminta uang,"
Senyuman Lea terlihat, mengusap air matanya menggenggam jari jemari Maminya untuk mencoba ikhlas kedua kalinya.
"Ai bisa kamu jaga aku, boleh tidak lindungi aku. Lea takut berjalan sendiri melewati masa depan, tolong janjikan kepada Mami jika Lea akan hidup dengan baik." Lea menciumi tangan Maminya.
Ai mengenggam tangan Mami dan Lea, dirinya bukan seorang Putri yang hebat, bukan juga wanita yang tangguh. Ai hanya wanita biasa yang ingin menjaga Lea menjadi penopang juga tiang dan perisai untuk menjaganya.
Tidak bisa Aira janjikan jika Lea akan sanggup bersamanya, tapi Ai pastikan jika dirinya akan menemani Lea hingga menemukan bahagianya.
Kedua saling pandang, kepala Lea mengangguk meminta Maminya bahagia bersama Papinya dan tidak mengkhawatirkan Lea lagi.
"Mi, Lea lemah sekali. Lea tidak sanggup kehilangan kalian, tapi ini jalan takdir Lea. Sanggup tidaknya Lea harus kuat." Tangisan Lea terdengar sesegukan berteriak kuat.
Aira merangkul Lea menutup wajah Mami yang sudah berpulang. Saat matahari terbit, Lea menghantarkan Papinya, keesokan harinya saat matahari terbit kembali dia harus mengantarkan Maminya.
Pintu terbuka, Lea berjalan keluar bersama Aira. Tubuh Lea terlihat lemah sekali, Black langsung menggendongnya. Juan meminta Lea diinfus sementara.
Kedua tangan Aira menutup wajahnya, menangis di depan pintu jenazah. Tangisan Aira tulus karena merasakan kesedihan yang Lea rasakan.
Tidak bisa Ai banyangkan jika dirinya yang ada di posisi Lea. Mungkin hidupnya akan hancur berkeping-keping.
"Setidaknya berikan sedikit saja waktu untuk bernapas,"
"Kenapa Kak Ai terlihat sangat terpukul? Isel jadinya sedih lagi. Kakak Imel jahat sekali kepada Kak Lea, mereka berada di rahim yang sama, tapi memiliki sikap yang berbeda." Isel menunjukkan hasil rekaman CCTV.
Kepala Aira mengangguk, mungkin saat ini Imel sedang tersenyum puas melihat Lea kehilangan kedua orangtuanya. Akan ada waktunya dia yang akan menangis karena tidak akan ada yang menangisi kematiannya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira