
Pagi-pagi suara Dean marah terdengar, Helen yang sedang memasak dibantu oleh Irin saling tatap.
"Kira-kira Kak Dean awet muda atau cepat tua setiap saat marah-marah?" Irin tertawa kecil bersama Helen karena merasa lucu dengan rumah tangga Dean.
Yandi yang sedang melakukan panggilan langsung masuk, melihat Dean yang keluar kamar dengan kepala penuh sabun.
"Kenapa kamu Dean?"
"Tidak tahu Isel, dari pagi sudah ngambek." Dean buru-buru keluar tanpa sadar rambutnya belum dibilas.
Suara barang jatuh terdengar dari kamar, Isel membuang bajunya keluar kamar karena apapun yang dikenakan selalu salah.
"Ada apa Sel?" Mama Helen mengambil baju yang dihamburkan.
"Isel salah terus, pakai baju ini salah, celana itu juga salah." Tangisan Isel terdengar merasa kesal.
"Dean marah karena sayang, dia ingin menjaga kamu." Helen menahan tawa melihat Isel yang yang menangis tanpa air mata.
"Aunty tidak ada sejarahnya lelaki tidak suka wanita seksi, Uncle juga lihat wanita seksi langsung senyum. Dulu uncle dekat sama janda, untung saja ada Mami Aliya yang ingin mematahkan leher janda." Isel langsung lari mengejar Dean yang sudah keluar rumah.
Kepala Yandi geleng-geleng ditatap oleh istrinya, dia tidak tahu apa yang Isel katakan karena tidak pernah merasa dengan dengan wanita manapun.
Pukulan Helen mendarat di punggung suaminya yang mencoba menghindar, kejadian yang sudah hampir lima belas tahun masih saja Isel ingat.
Padahal bukan salah Yandi, tapi Gemal. Isel saja masih kecil, tapi ingatannya sampai tua. Sangat suka melihat orang ribut.
"Kamu percaya saja kepada Isel yang mulutnya tidak ada rem," ujar Yandi yang mengelak.
"Papa baik-baik saja?" tanya Irin yang memeluk Papanya.
Helen geleng-geleng menutup pintu kembali setelah melihat Isel balik lagi mengambil kunci mobil.
"Kamu ingin pergi ke mana Sel?"
"Ganti warna rambut Aunty, nanti jangan dihabiskan lauk makannya soalnya Isel sudah lama tidak makan masakan Aunty." Isel langsung lari lagi untuk turun ke bawah.
"Hati-hati Sel," ujar Helen yang mencemaskan Isel lari menggunakan high heels.
Senyuman Isel terlihat, memberikan kunci mobil kepada suaminya yang masih kesal karena Isel memaksa ke salon.
"Uncle, kenapa ada sabun di rambut?" Isel memegang rambut Dean yang penuh sabun.
Mobil langsung berhenti, Dean mengacak rambutnya melihat kedua tangannya penuh busa.
"Ini semua gara-gara kamu." Dean memarkirkan mobil ke arah supermaket meminta Isel membeli minuman untuk bilas rambut.
__ADS_1
"Minuman ya Uncle?"
"Air putih Sel, jangan minuman bergas." Dean memicingkan matanya melihat Isel lari.
"Uncle, Isel tidak punya uang." Tawa Isel terdengar balik lagi.
Tangan Dean mengelus dada, tas besar yang Isel bawa bukan berisi uang, tapi mainan semua.
Lama Dean menunggu, saat Isel keluar bukan hanya minuman yang dia bawa, tapi satu kantong besar cemilan yang memenuhi kedua tangannya.
"Astaghfirullah, sabar Dean. Beginilah resikonya menikahi anak kecil." Dean tersenyum mengucapkan terima kasih sudah lelah ingin marah karena tidak akan mengubah tingkah laku istrinya.
"Isel bantu ya Uncle." Isel mengacak-acak rambut Dean menghilangkan sabun di kepalanya.
Ada banyak orang berlalu lalang melihat keduanya sambil tersenyum mengejek. Dean tidak peduli sama sekali, paling penting sabun hilang dari kepalanya.
Isel mengambil handuk kecil, mengering rambut Dean merapikannya agar terlihat tampan.
"Uncle, bukanya kita ingin pergi ke salon, kenapa tidak membersihkan rambut di salon saja?"
"Terlambat mengatakannya." Dean menatap rambut Isel yang mulai panjang, merasa sayang jika Isel potong.
Pintu mobil terbuka, Dean meminta Isel masuk. Mobil melaju kembali ke tempat yang Isel inginkan.
Senyuman lebar Isel sudah terlihat, tidak sabar lagi dengan rambut barunya dengan warna yang dia inginkan.
"Sel, kamu tidak sayang dengan rambut panjang kamu, lagian warnanya sudah bagus," ucap Dean yang tidak rela rambut indah Isel dipotong.
"Kemarin Uncle mengatakan rambut Isel mirip kuntilanak," balas Isel binggung.
Dean langsung terdiam, membiarkan Isel keluar. Tidak menunggu Dean lagi, Isel meminta rambutnya dipotong sedikit dan dirapikan.
"Kapan aku mengatakannya?" Dean mengerutkan keningnya tidak merasa pernah bicara buruk soal rambut.
Dean keluar dari mobil ingin menemani Isel, tidak lama Isel keluar lagi dengan rambut barunya.
"Kenapa tidak ganti warna, potongan juga sedikit?"
"Uncle ini bagaimana? tadi katanya sayang, sekarang salah lagi. Isel harus bagaimana? masa iya ini rambut dibotak saja." Isel mengacak-acak rambutnya.
Tawa Dean langsung terdengar, memeluk Isel yang sudah marah-marah karena Dean yang banyak protes.
"Iya maaf, ini sudah bagus. Sekarang pasti ada maunya. Kita pergi sebentar tidak enak jika lama soalnya ada Aunty Uncle di rumah." Dean merapikan rambut Isel.
"Uncle tahu saja jika Isel ada maunya." Senyuman manis Isel terlihat langsung berlari ke arah mobil.
__ADS_1
Dean tidak terkejut sama sekali, Isel ingin pergi ke tempat romantis agar bisa berpacaran, tapi sayangnya tempat yang dia tuju masih tutup karena terlalu pagi.
"Bagaimana ini Uncle, padahal Isel ingin memasang gembok cinta." Isel menujukkan gembok di tangannya.
"Kamu tunggu di sini." Dean menemui penjaga, menujukkan identitasnya agar diizinkan masuk.
Senyuman Isel terlihat nampak bahagia, bisa masuk ke tempat impiannya. Mengunci koper kecil yang berisikan surat.
"Apa isinya?"
"Rahasia, Uncle tulis impian Uncle tahun depan." Isel memberikan sesuatu.
Kepala Dean menggeleng, dia tidak memiliki tujuan khusus, tahun depan terlalu singkat untuknya.
"Bagaimana jika tiga tahun ke depan?
"Lima tahun ke depan saja aku tidak tahu," ujar Dean yang binggung.
"Bagaimana jika Uncle menjadi ayah saja." Isel menulis sesuatu langsung menguncinya.
Senyuman Dean terlihat, menjadi seorang ayah. Dirinya memiliki impian menjadi seorang ayah, mungkin juga impian keluarganya namun Dean tidak pernah tahu kapan dirinya siap.
Pandangan Dean jauh ke depan, melihat keindahan alam yang sungguh luar biasa. Isel juga melihat jauh dengan mimpi yang besar.
"Sel, apa impian kamu tiga empat tahu lagi?"
"Tahun depan Isel ingin menjadi ibu, masa iya jadi janda." Isel menatap Dean yang memicingkan matanya.
"Kamu jika memiliki impian pikirkan dulu, bicara sesuka hati saja." Dean langsung meninggalkan Isel.
Kedua pundak Isel terangkat, ucapan Isel serius. Jika dia tidak bisa menjadi ibu maka mau tidak mau dia harus melepaskan Dean. Membuat Dean mencintainya saja sulit.
"Kenapa Uncle marah?"
"Kenapa kamu berpikir jika tahun depan kita berpisah?"
"Karena Uncle tidak mencintai Isel," jawab Isel kesal.
"Kamu tahu artinya cinta tidak Sel?" bentak Isel dengan nada marah.
Mendegar nada tinggi, Isel memilih diam karena Dean tidak suka membahas cinta. Bukan hal yang mudah bagi Dean untuk menikahi Isel yang berstatus keponakannya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
Hadiah giveaway 500ribu ( UANG+PULSA)