
Dengan terpaksa Isel menceritakan jika Putri nenek Taher kakak kelasnya, dia wanita baik, cerdas juga sangat lemah lembut.
Saat Isel terbangun dari tidurnya, dia melihat kakak kelasnya yang melangkah diam-diam ingin masuk ke dalam rumah.
Dia berikan sepuluh batang emas untuk bayaran jika Isel membantunya membawa Maminya keluar.
Nenek Taher memiliki simpanan sel telur saat dia masih muda, dan membeli cairan lelaki untuk memprosesnya menjadi janin.
Isel tidak tahu pasti detail pembuatan, wanita yang menjadi pengawal nenek Taher yang mengandung dan melahirkan, namun dia meninggal karena Kevin yang membunuh siapapun yang ada di sisi nenek Taher.
"Jadi, Kakak cantik itu memang benar Maminya?" Gion masih tidak percaya dan kebingungan.
"Ya, dia memiliki dua ibu. Mereka melarikan diri untuk hidup normal jauh dari kekuasaan." Isel sudah memastikan jika harta nenek Taher jatuh ke tangan seribu panti di seluruh dunia.
Setiap anak cucunya hanya ditinggalkan sepuluh persen dari kekayaan, harta mewah milik keluarga Taher akhirnya lenyap.
"Aku tidak tahu ini harus bersyukur atau apa?" Ai memijit pelipisnya karena Isel sungguh luar biasa sudah menjadikan dirinya korban yang harus berurusan dengan Kevin.
"Untuk apa batang emas ini? kita boleh dapat bagian tidak?" Lea memegang sebatang emas.
"Tidak boleh, ini punya Isel semua. Jangan ada yang menyentuhnya." Isel mengambil sepuluh batang emas memasukkan ke dalam tasnya kembali.
"Belum selesai juga ranjang mas kamu?" Gion menepuk jidat, Isel akan melakukan segala cara selama dia bisa memiliki emas batangan untuk menyeleksi ranjang emas di kamarnya.
Kepala Aira dan Lea geleng-geleng, Putri kaya raya yang memiliki segalanya masih saja mata duitan yang mengincar emas batangan.
"Kak, ayo menonton konser, Isel ingin menonton di tempat keramaian." Wajah memelas terlihat.
"Aku bisa diserang fans." Ai menolak karena mereka akan segera pulang.
Teriakan Isel terdengar, memohon kepada kakaknya untuk menonton konser, hal yang belum pernah Isel lakukan.
Ai menatap Lea yang tidak memberikan tanggapan, Isel bahkan sudah membeli banyak tiket untuk teman-temannya.
Akhirnya mobil melaju ke tempat konser, ada teman-teman Isel yang sudah menunggu langsung mengambil tiket dan membawa tas masing-masing yang berisikan mainan.
"Aira, Sel bukannya dia selebriti itu?"
"Sudah aku katakan jika dia saudaraku, jangan hiraukan dia anggap saja dia sama penggemar seperti kita." Isel mengecek tas teman-temannya yang berisikan makanan, juga beberapa hadiah untuk idola mereka.
__ADS_1
Kepala Aira geleng-geleng melihat teman-teman Isel yang heboh semua, pertemanan yang sangat menyenangkan meksipun berbeda sekolah.
Ada yang tinggi, putih, hitam, pendek, kurus, gemuk, tapi semuanya oon dan tukang buat masalah.
"Kak Ai, amankan dulu emas Isel, nanti hilang." Isel menyimpan emas batangan mengambil tasnya yang diisi beberapa minuman.
"Siapa yang ingin mengambilnya?"
Gion pusing melihat keramaian apalagi ada Aira yang harus dijaga karena tidak boleh mengenalinya.
"Uncle, sini cepat." Isel berteriak menatap Dean yang wajahnya sudah mirip monster karena marah.
Bukan hanya Dean yang dipaksa pergi, ada Juan juga yang tepaksa ikut karena Isel memiliki banyak tiket.
"Kenapa kamu di sini Ai? bahaya." Juan mengenggam tangan Aira yang memasang topinya.
"Bukan ini konser yang di hadiri oleh Blackat?" Lea menatap tiket konser.
Teriakan para remaja, dugaan mereka benar jika Blackat akan muncul sebagai kejutan atas kembalinya dia. Beberapa musisi hebat juga ada di acara konser.
"Benarkah ada Blackat? argg suami aku!" teriakan banyak remaja.
"Sialan! Blackat itu milik Isel, aku pecahkan kepala kalian." Teriakan Isel terdengar menjambak rambut temannya.
"Sial! kita dikerjain habis-habisan oleh Isel." Dean mengacak rambutnya mengikuti Ai yang berlari mengikuti Isel yang diawasi oleh Gion.
"Kenapa harus rebutan? kita memiliki tiketnya." Juan menolak untuk berlari karena tiket mereka tetap ada di jalur depan.
"Inilah yang paling menyenangkan dari konser." Lea menggenggam tangan Juan untuk ikut berlari dan bergabung menyerahkan tiket dan segera masuk.
Senyuman Juan terlihat melihat Lea yang membantunya menyerahkan tiket tanpa melepaskan genggaman tangan.
"Uncle cepat sini, kita harus ada di depan sekali." Isel melambaikan tangannya untuk meminta kelompoknya berkumpul di satu tempat.
"Ya Allah aku malu, mana isinya perempuan semua. Apa tidak ada tempat duduknya?" Dean mencari kursi yang tidak ada satupun.
"Dalam konser tidak ada kursi, menangnya ini rapat sekolah." Isel memeluk lengan Dean, sedangkan satu tangannya menggenggam tangan Aira.
Teman-temannya Isel mengelilingi Aira agar aman dari penggemar, bahaya jika sampai ada yang tahu Ai juga menonton konser.
__ADS_1
"Ini menyenangkan sekali bisa berada di tengah ribuan manusia." Ai tersenyum melihat panggung mewah.
Ai menatap Lea yang tersenyum lebar berdiri di samping Juan, semuanya tersenyum bisa berada di antara ribuan manusia.
Teriakan ribuan orang terdengar saat nama Blackat disebut, Ai teriak histeris melihat Black muncul dengan pesonanya membuat ribuan wanita histeris.
"Ganteng sekali, tidak heran banyak yang mencintai kamu begitu besar." Ai mengulurkan tangannya ingin berjabatan dengan Blackat.
Teriakkan banyak orang terdengar saat Black mulai bernyanyi dan mendekati penonton, Aira dan Isel seperti orang kesurupan yang teriakan-teriakan histeris.
"Perempuan sinting, apa bedanya bertemu langsung." Dean merasa kakinya pegal terlalu lama berdiri.
Suara musik yang berdentum terdengar, penonton lompat semua sambil ikut bernyanyi.
"Lea, Isel, Aira istighfar. Kalian mirip wanita Gila." Juan menutup wajahnya menggunakan topi karena malu.
Hanya Gion yang santai mengabadikan momen dengan kameranya, banyak teman Isel yang mendekati Gion hanya untuk dipotret.
"Woy perempuan gatal, kalian boleh mendekati lelaki manapun, tapi bukan menjadi kakak ipar aku." Tatapan mata Isel tajam, menarik tangan kakaknya untuk terus berada di sisinya.
"Ya sudah menjadi Nenek kamu saja aku rela Sel,"
Aira langsung tertawa terpingkal-pingkal, pertemanan Isel sangat menyenangkan tidak heran dia jarang di rumah.
Tanpa sengaja Black melihat ke arah Aira, cukup kaget karena melihat selebriti yang memiliki ribuan penggemar berada di antara jutaan penonton.
"Kenapa dia disitu? bahaya sekali." Black memalingkan wajahnya melihat ke arah lain.
"Blackat ... Will love you." Teriak Isel yang membuat Blackat menutup wajahnya karena tertawa.
Tangan Dean menjambak Isel yang teriak-teriak, suara musik hampir kalah karena teriakan Isel bahkan memanjat pagar.
"Demi apapun aku malu ada di sini, bagaimana caranya aku keluar?" Dean terdorong karena seorang wanita memeluk dari belakang.
Teriakan Dean membuat semua orang teriak ke arahnya, Gion menarik Dean yang sudah ketakutan karena banyak yang menempelkan tubuhnya..
"Uncle membuat malu saja,"
"Enak kalau perempuan seksi, ini besar sekali." Bibir Dean monyong meminta kesal.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira