
Di dalam kamarnya Dean hanya bisa duduk diam, berpikir keras cara menghadapi Isel juga permintaan maaf atas rasa bersalahnya.
Perdebatan di depan kamar terdengar, Bian memohon kepada Juan agar bisa bertemu dengan Isel.
Kekhawatiran Bian sangat besar, cukup baginya melihat keadaan Isel baik maka hatinya begitu tenang.
"Siapa kamu, jangan bilang kecelakaan Isel ada sangkut pautnya?"
"Aku tidak mungkin punya niat menyakiti Isel karena aku sangat mencintainya."
"Gila, Isel sudah punya suami." Juan tersulut emosi melihat pria dewasa yang berjalan menggunakan bantuan tongkat karena mengalami cendera.
Bian merasa sangat binggung karena banyak orang yang mengatakan jika Isel dan Dean sepasang suami istri, tapi hubungan Dean dan mamanya Isel bersaudara maka berarti mereka menikah sesama keluarga sendiri.
Senyuman sinis Juan terlihat, tidak ada yang tahu soal keluarga mereka, orang asing seperti Bian tidak perlu tahu karena bukan jangan dia untuk tahu.
"Benarkan pernikahan mereka berdua palsu?"
"Keduanya sah suami istri, Dean dan Isel tidak ada hubungan darah. Kenapa orang asing merusak kebahagian mereka?"
"Aku tidak merusak,tapi hanya ingin membahagiakan Isel," balas Bian begitu percaya diri.
Pintu ruangan terbuka, Dean melangkah keluar melayangkan pukulan kuat. Darah menetes dari tangan Dean karena melepaskan infus secara paksa.
"Dean, lepaskan dia." Juan menarik tubuh Dean yang memukuli Bian secara membabi buta, tidak peduli jika penuh darah.
"Apa salah aku mencintainya?" Bian menatap wajah Dean melihat darah keluar dari hidungnya.
"Di mana letak benarnya perasaan kamu? Aku yang puluhan tahun mencintai, rela menyimpan rasa demi kebahagian Isel, tapi kamu datang melenyapkan kebahagian itu. Aku salah, tapi bukan berarti aku merelakannya bersama orang lain." Mata Dean berkaca-kaca, dunianya dan Isel sedang hancur ditambah lagi oleh Bian yang membuat suasana panas.
Juan memeluk erat Dean, memintanya tidak meladeni orang gila hanya buang tenaga dan menambah masalah.
Keberadaan Bian seharusnya tidak Dean rasakan keberadaanya karena hanya akan menjadi konflik.
"Aku tidak salah karena tulus mencintainya," ujar Bian yang masih saja membuat Dean dan Juan tersulut emosi kembali.
"Siapa kamu yang punya hak mencintai adikku?" tanya Ghion yang tepat berada di belakang Dean.
__ADS_1
"Siapa kamu?"
"Bagaimana bisa kamu mencintai Putri tunggal Leeondra, jikapun Isel mencintai kamu maka aku akan melenyapkan kamu secara diam-diam. Wanita yang kami jaga, tidak akan dilepaskan kepada penjahat seperti kamu." Ghion menatap sinis, dia tahu siapa Bian karena pernah mendengar kasusnya.
"Apa yang kamu dengar tidak sepenuhnya benar, bahkan apa yang kamu liat belum tentu memang benar terjadi." Bian berusaha berdiri meskipun tubuhnya tidak bertenaga.
Tawa Ghion terdengar, seseorang yang merugikan orang lain tetap saja namanya penjahat, manusia tidak punya hak menghakimi, apalagi menghukum, tapi negara yang memiliki aturannya. Siapapun yang salah berhak dihukum seberat mungkin.
Memiliki pikiran menyakiti orang lain juga sudah menjadi tujuan jahat apalagi merugikan. Suap, pencucian uang, pendanaan ilegal, penyeludupan semuanya merugikan. Bagaimana mungkin Bian merasa dirinya tidak sepenuhnya jahat?
Mata Dean berkaca-kaca, berusaha untuk berdiri menatap ke arah Ghion yang sudah mengecek data milik Dean soal kejahatan Bian.
"Bagaimana kondisi Isel?"
"Dia sudah bangun dan keguguran, pendarahan sudah berhenti, tapi masih menunggu keputusan dokter untuk kondisi selanjutnya. Dokter mengkhawatirkan Isel tidak bisa hamil dengaan mudah." Ghion menjelaskan apa yang dia bicarakan dengan dokter.
Tidak menunggu ucapan Gion selesai, Dean langsung masuk ke dalam kamar rawat mengunci pintu tidak mengizinkan siapapun menganggu nya.
"Apa dokter mengatakannya begitu?" tanya Juan tidak yakin.
Kepala Juan menggeleng, Ghion tidak akan mengerti karena dia masih kecil sehingga tidak paham hubungan suami istri seperti apa.
"Setelah kamu jatuh cinta baru tahu rasanya," ujar Juan yang menatap punggung Bian berjalan ke kamar rawat dengan tertatih.
Kisah cinta Dean dan Isel ternyata cukup rumit, apalagi kehadiran Bian yang berpegang teguh dengan pendiriannya. Juan juga yakin jika Bian memiliki kekuasaan.
Suara langkah berlarian terdengar, Mommy Anggun melangkah mendekati Juan menanyakan keadaan Isel apalagi kabarnya keguguran.
"Isel ada di ruangan sebelah Mom, Juan antar ke sana." Tangan Juan merangkul Mommy agar tetep tenang.
"Bagaimana kondisi Isel, Juan?" tanya Diana yang masih sempat memakai lipstik.
"Mama Di, di sini. Tidak ada wajah cemasnya, masih sempat memakai riasan." Aira menatap sinis karena Diana tidak ada panik sama sekali.
Pintu ruangan terbuka, Diana dan Mommy Anggun melihat Isel yang masih terbaring di atas tempat tidur. Wajah Isel pucat dan sangat lemas.
"Ada juga masa tumbangnya, sekali sakit kehilangan." Diana mengusap kepala putrinya yang belum bangun.
__ADS_1
Air mata Mommy Anggun menetes tidak tega melihat Isel yang masih tergeletak, biasanya Isel sangat berisik dan ceria, melihatnya terpuruk sangat menyedihkan bagi keluarga.
Bukan hanya sekedar kehilangan, tapi rasanya keceriaan Isel juga lenyap begitu saja bersama dengan kesedihannya.
Diana mengecup kening putrinya, Dean dan Isel masih muda perjalanan kedua masih panjang sehingga tidak harus berlarut dalam kesedihan.
Perlahan mata Isel terbuka, tangisannya langsung pecah memeluk Mommy Anggun yang juga tidak kuasa menahan kesedihannya.
Pelukan lembut terasa, Mommy menasihati Isel agar ikhlas dan bersabar karena apa yang hilang akan diganti berkali-kali lipat.
"Mana Papa?"
"Papa kamu lagi ada di luar kota, belum bisa dihubungi mungkin sedang bermain bersama orang hutan. Kakek juga akan menyusul, sudah tidak perlu menangis lagi, mata kamu sudah bengkak nanti pecah bola mata kamu." Senyuman Diana terlihat menghibur putrinya.
"Kenapa Mama di sini, Isel capek buatnya. Jangan senyum depan Isel." Tangan lemah Isel memukuli Mamanya yang cengengesan.
"Apa susahnya, bisa buat lagi. Paling sudah itu membesarkan sampai kepalanya keras seperti kamu pada akhirnya jadi anak pembangkang." Diana mendorong kening Isel membuat tangisannya semakin kuat.
Aira masuk meminta izin untuk pulang, putrinya masih kecil dan Angga ada di luar negeri. Mereka akan menyusul setelah suaminya kembali.
"Kamu pulang saja Ai, terima kasih sudah menjaga Isel." Diana memeluk Aira melangkah keluar.
Bibir Isel manyun, kepada Aira begitu baik, tapi kepadanya tidak pernah lembut. Isel hanya meminta dipeluk bukan ceramah.
Di luar kamar air mata Diana menetes, ditepis berkali-kali semakin deras keluar. Hati Diana sakit melihat tangisan putrinya.
"Menangis saja Aunty, jangan ditahan."
"Kamu tahu bagaimana aku memperjuangkan Isel, tapi sekarang dia yang gagal mempertahankan." Tangisan Diana pecah tidak sanggup menangis di depan putrinya.
Aira langsung memeluk Diana, mengusap punggung agar lebih sabar. Ai hanya bisa menyampaikan jika kecelakaan Isel disengaja, ada orang yang menginginkannya lenyap.
"Kenapa Isel tidak bisa menjaga diri? minta Tika dan Shin yang datang ke sini, mereka harus menemukan pelakunya. Aku akan mencabut nyawanya sama seperti dia melenyapkan kebahagiaan putriku." Diana menatap tajam mengusap air mata yang yang mengalir di pipinya.
***
follow Ig
__ADS_1