
Di rumah ramai, ada kedatangan Kakek dan Nenek dari luar negeri. Isel dan Dean bisa santai karena ada banyak yang menjaga.
Isel hanya memompa air susunya, setelahnya bisa santai tiduran dan manja kepada suaminya.
Aira dan Lea belum pulang karena Ai yang lahiran operasi masih belum bisa banyak bergerak, sedangkan Lea masih menunggu anaknya yang harus masuk tabung demi keamanan.
"Sayang, ada keluhan?" tanya Dean mengecup bibir istrinya yang duduk santai di pinggir ranjang.
"Tidak ada, Isel ingin menghubungi Vio." Isel melakukan panggilan karena masih kesal tidak bisa datang.
Panggilan dijawab oleh Vio yang baru sudah mandi, Isel menatapnya tajam melalui panggilan video.
"Kenapa Sel, kamu baik-baik saja?"
"Aku lahiran bodoh. Tidak ada niat kamu menjenguk aku?"
Tawa Vio terdengar memberikan selamat kepada Isel, berjanji akan datang berkunjung jika sudah punya waktu.
Kepala Isel menggeleng, melihat Devan yang belum menggunakan baju, baru selesai mandi. Sudah bisa Isel tebak apa yang terjadi.
"Selamat jadi ibu Sel, selamat juga tidak bisa main bersama Dean." Tawa Devan terdengar menyalahkan Isel karena dirinya harus pulang cepat karena banyak yang lahiran.
Dean duduk di belakang Isel, memeluknya dari belakang melihat pasangan pengantin yang nampak bahagia.
Dean meminta maaf karena tidak bisa turut hadir di hari bahagia, hanya bisa memberikan selamat dan selalu bahagia.
"Terima kasih doanya, tapi jangan lupa amplop atau hadiah setidaknya mobil atau rumah." Devan juga memeluk istrinya dari belakang.
Suara napas Dean menghela terdengar, seharusnya dirinya yang meminta hadiah atas kelahiran tiga anaknya.
"Kenapa keluarga di sana lahir kembar?"
"Namanya juga keturunan Devan. Aku doakan nanti kalian kembar lima." Isel tertawa mendengar jawaban Vio dan Devan yang sama.
Keduanya masih ingin pacaran dan meyambut satu-persatu, jika sekaligus takutnya kekurangan kasih sayang.
"Ya sudah, lanjutkan bulan madu kalian." Dean dan Isel melambaikan tangan.
Giliran Dean yang melakukan panggilan dengan Juan dan Kakaknya, ingin tahu kabar Aira dan Lea juga bayinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Kak Dewa, bagaimana kondisi Ai?"
Angga tersenyum manis membuat Isel juga tersenyum karena ketampanan Black masih yang paling manis.
Terlihat Aira sedang menyusui Putranya, dan yang satunya bersama dengan Mommy Anggun.
Senyuman semua orang terlihat, tidak sabar lagi ingin bertemu. Dean menatap Aira dan Angga sibuk di rumah sakit, sedangkan Juan juga sibuk mengurus istrinya, pikiran Juan teringat dengan Ura.
"Di mana Ura?" Dean mencemaskan Ura yang masih kecil.
"Ada Tika dan Shin yang mengurus Ura dan Twins A. Mungkin hari ini pulang." Angga belum membawa Ura bertemu adiknya karena sedang asik bermain, memiliki banyak teman.
Ura senang berada di tempat baru apalagi banyak orang, berbeda dengan di rumah dia sendiri perempuan dikelilingi oleh para lelaki.
"Jangan cemaskan Ura, dia pintar beradaptasi dengan lingkungannya. Tidak tahu sama Ayah Dika stres melihat Ura panen ikan." Tangan Aira menutup mulutnya ingin tertawa, tapi perutnya sakit.
Tawa Dean dan Isel terdengar karena di manapun Ura berada dia selalu membuat rusuh dan orang kerepotan.
"Bagaimana kondisi anak kamu Sel?"
"Sehat Kak Blackat, kita bisa bersantai karena ada Kakek Neneknya."
Terkadang kehadiran anak-anak menyatukan keluarga, awalnya jarang bertemu bisa berkumpul. Biasanya sepi, bisa jadi ramai.
"Selamat ya Nak, maaf jika Mommy Daddy belum bisa menjenguk kalian." Mommy Anggun mengusap air mata karena kedua putranya memiliki anak bersamaan.
"Iya Mommy, Dean mengerti. Kita hanya berpisah sebentar, lusa juga kalian kembali." Dean ingin sekali memeluk Mommynya.
Angga mengusap punggung, memeluk lembut Mommy menggantikan Dean yang kebiasaan manja kepada Mommynya.
Akhirnya panggilan terhubung kepada Juan yang sedang menggendong putrinya setelah selesai menyusu.
"Bagaimana kondisinya Kak Juan?" tanya Dean karena bayi perempuan masih terbilang prematur.
"Sejauh ini sehat, mungkin besok pulang. Lea juga sudah bisa berjalan, hanya menunggu Aira saja." Juan menujukkan wajah Putrinya yang membuat Isel gemes.
"Kecilnya sama seperti Ira dan Ara," ujar Isel karena bisa melihat tiga Putri dan putra.
"Namanya siapa Sel?" tanya Lea.
__ADS_1
"Belum tahu kak, masih menunggu Ura pulang. Jika yang cowok namanya Delvin Galaxy Dirgantara." Isel melihat bayi Aira dan Lea yang bergerak aktif.
Cukup lama melakukan panggilan akhirnya Isel menyudahinya, ingin melihat keberadaan ketiga anaknya yang tenang tanpa tangisan.
Tatapan Isel melihat suaminya yang tertidur karena terlalu lama menunggu Isel bercerita bersama Lea dan Aira.
"Selamat tidur Abi, siap-siap saja nanti malam begadang." Isel tidak bisa tidur memompa susu untuk stok, sedangkan Dean harus memegang botol susu.
Di dalam kamar bayi, Isel melihat Mamanya sedang menyelimuti tiga bayi. Mengaktifkan CCTV agar ketiga cucunya dalam pantauan.
"Ma, sudah tidur Twins?"
"Iya, kenapa kamu tidak tidur? Perbanyak istirahat karena malam kesulitan tidur."
Pelukan Isel erat, duduk bersama Mamanya yang mengusap lembut kepala Isel karena masih muda sudah menjadi ibu tiga anak.
"Ma, saat kita bayi dulu siapa yang paling tenang?" Isel meletakkan kepalanya dipangkuan Mamanya.
"Ghiandra, dia anak kedua sehingga memiliki sikap yang tenang karena semua fokus ada di anak pertama dan bungsu." Diana tersenyum karena dulu Diana pernah menangis karena air susunya tidak keluar lagi, sedangkan Ian belum menyusu.
Tawa pelan Isel terdengar, kasihan melihat kakaknya yang selalu menjadi yang terakhir dalam segala hal.
"Ma, apa Kak Ian pernah manja?"
"Pastinya, jika kamu dan Ghion tidur dia pasti manja meminta perhatian." Diana rasanya ingin kembali ke moments anak-anaknya masih mengemaskan.
Diana menasihati Isel untuk lebih dewasa, kedewasaan tidak dinilai dari usia. Apalagi sudah memiliki anak, ada banyak sekali masalahnya. Ada kalanya anak itu ujian hidup, baik sikapnya, aktifnya, bahkan sakitnya.
Apapun yang terjadi, seorang ibu harus siap siaga, tidak boleh sakit. Jika seorang ibu sakit, maka anak dan suami tidak terurus.
"Apa Mama pernah menyesal jika sedang stress?"
"Bukan begitu Sel, Mama tidak memiliki orang tua, jika bisa anak-anak Mama tidak boleh merasakan apa yang dulu Mama rasakan, begitupun kamu harus memastikan jika anak kamu akan mendapatkan cinta lebih dari kamu."
"Isel merasa apa yang Mama dan Papa berikan sudah terbaik, Isel ingin anak-anak Isel sehebat Mama dan Papa. Isel masih ingin pacaran, Mama urus mereka bertiga ya?"
Pukulan di kening Isel kuat, Diana menarik kuat telinga karena Isel dan Dean yang membuat anak dan meminta dirinya yang mendidik.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazaira