
Masker wajah langsung Aira lepaskan, menatap Blackat yang memegang dadanya kaget. Di tempat yang begitu menyeramkan, tapi Aira masih bisa bercanda.
"Kenapa kalian berdua ke sini?"
"Berhentilah berpura-pura Aira!" mata Lea tidak berkedip sama sekali, tatapan matanya sangat tajam mengintrogasi Aira.
Senyuman Aira terlihat, tangannya menunjuk ke arah bangunan kosong namun masih terawat. Ai tidak menyangka jika Anggrek tidak mengetahui tempat mereka selalu bermain.
Sekarang Aira baru tahu, jika wanita yang bersamanya bukan sahabatnya lagi. Dia orang lain yang mirip saja.
"Aku akan memberitahu kamu siapa aku,"
"Tidak perlu Lea, aku tidak ingin tahu. Kamu ingin mencelakai aku, yakin bisa?" tawa Aira terdengar, berjalan ke depan, membuat jalan untuk masuk ke dalam bangunan.
Suara Aira mengumpat terdengar, rerumputan hidup dengan subur hingga melahap satu bangunan tanpa menyisakan jalan.
"Minggir, aku saka yang di depan." Blackat menarik tangan Aira.
"Kebanyakan gaya ingin di depan, belum tahu nanti ada ...."
"Aira, jangan bercanda!" Black menatap sinis.
"Hantu!" Aira berlari menarik tangan Lea, mentertawakan Blackat yang terduduk marah.
"Aira berhentilah bercanda!" Lea juga ikutan kesal, berjalan di depan sekali sampai akhirnya masuk.
"Semuanya berawal dari tempat ini, dan kita mulai juga dari sini." Tatapan mata Aira tajam, begitupun dengan Lea.
Kejadian yang paling menghacurkan beberapa tahun yang lalu, seorang remaja meninggal karena pengeroyokan beberapa siswa tingkat atas.
Hal yang paling menyakitkan, tidak ada satupun pelaku yang ditahan. Kasus juga diselidiki secara tertutup, mungkin lebih tepatnya tidak pernah diselidiki.
"Seandainya aku datang tepat waktu mungkin Anggrek masih ada di sini. Andaikan aku dulu ahli bela diri, mungkin bisa menyelamatkan. Seharusnya aku terlambat sedikit saja, kamu akan mendapatkan keadilan." Kedua tangan Aira tergempal kuat, melangkah masuk ke dalam gedung yang sudah berantakan.
"Ternyata kamu tidak melupakan apapun, tapi melarikan diri." Lea menarik lengan Aira untuk menatapnya.
Ai langsung menepis tangan Lea, dia tidak tahu rasanya ada di posisi Aira. Jika Ai hanya menginginkan terungkap hal mudah baginya, tapi belum tentu bisa mengembalikan Anggrek.
Mata Blackat melihat ke arah lantai, menyentuh tempat Adiknya terbaring babak belur. Black langsung berkelahi, tapi dari kejauhan ada yang menembak dadanya hingga langsung tersungkur berlumuran darah.
__ADS_1
"Tempat ini menyakitkan sekali, kenapa keluarga kamu menutupinya Ai? ini tidak adil untuk kami." Black melihat ponsel yang berdering.
Aira langsung mengambilnya dan mematikan panggilan, Ai menatap wajah Blackat sangat dekat sampai hampir tidak ada jarak.
"Keluarga aku tidak tahu apapun, aku sendiri yang menutup kasus ini." Tangan Aira menyentuh dada Black yang terluka, mengecupnya sekilas membuat Black langsung mendorongnya.
Tawa Aira terdengar, Lea yang melihatnya langsung menunduk menahan tawa karena Aira masih punya waktu menjahili Blackat.
Tangan Black menepis dadanya, merasa geli dengan tingkah laku Aira yang sangat jahil. Dia sedang serius, tapi Aira mengambil kesempatan.
"Lalu apa tujuan kita datang ke sini? kamu tahu pelakunya?"
Kepala Aira mengangguk, dia tidak menemukan apapun, dan tidak ada rencana apapun. Kedatangan mereka ke gedung hanya untuk mengingatkan saja jika bukan hanya Blackat yang terluka, dan bukan Lea saja yang kehilangan. Aira juga mengalami hal yang sama.
Berat bagi Aira berpura-pura baik-baik saja, seakan-akan dia melupakan segalanya. Aira tidak melarikan diri, hanya saja dia kehabisan cara untuk bertahan.
"Ternyata kamu juga tidak ada manfaatnya Aira, kita bertiga tidak tahu apapun." Black langsung memutuskan untuk pergi.
"Kecelakaan yang menimpa aku sudah direncanakan oleh seseorang, dan dia mungkin orang yang ada di sekitar kita bertiga." Ai mendekati Black, tapi Blackat melangkah mundur tidak ingin diserang secara tiba-tiba.
Lea menatap Aira dan Blackat, jika kecelakaan Aira direncakan, berarti ada orang yang tidak menyukai hubungan keduanya.
"Emh ... pengemar dia jutaan, bagaimana kita bisa tahu?"
"Dia pasti memiliki kekuasaan." Blackat melihat ke arah posisi tembakan datang.
Tangan Black mengusap dadanya yang merasa tidak nyaman, Lea langsung meminta Black minum obat. Cengkraman Blackat kuat ke arah dadanya, duduk sambil bekerut merasakan sakit datang.
Aira langsung mendekat, mengusap tangan Blackat meminta tenang. Ai meniup dada Black, mengenggam erat tangannya.
Mata Lea menangkap sebuah kayu, langsung mengambilnya melihat punggung Aira yang berusaha menenangkan Black.
"Berani kamu memukul aku, maka Black akan mati!" tangan Aira memegang dada Black, lalu menoleh ke arah Lea yang menatapnya sinis.
Teriakan Aira menggema, langsung memeluk Blackat yang sedang kesakitan. Lea hanya bisa geleng-geleng melihat keduanya menganggap dirinya patung.
"Mami, tolong." Aira duduk dipangkuan Black tidak ingin turun.
"Aira Aira, apa kamu pikir aku akan membunuh kamu begitu cepat." Lea menarik ular yang berukuran besar dan panjang.
__ADS_1
Mata Blackat merah, merasa tidak nyaman ada yang duduk di atas tubuhnya. Aira nyegir meminta Blackat menggendongnya.
"Turun,"
"Tidak mau, takut. Kakak hitam gendong." Aira mengeratkan pelukannya.
"Sampai kapan kalian berdua seperti itu? ini bukan shooting adegan romantis, cepat berdiri kita pergi dari sini." Lea menarik tangan Aira agar melepaskan Blackat, Lea juga membantu Blackat berdiri.
Ketiganya berjalan beriringan, Aira dan Blackat tarik-menarik tidak ingin berjalan di belakang, tidak ingin juga di depan karena ingin berjalan ditengah.
"Kakak Hitam sialan!" Aira lompat ke atas punggung Blackat, memeluk erat lehernya. Jika diturunkan Aira akan mencekik kuat.
Black tidak punya pilihan, membiarkan Aira berada di punggungnya. Keduanya berjalan pelan mengikuti Lea.
"Apa kamu melihat kondisi Anggrek?"
"Ya, dia menghubungi aku dan meminta aku tidak datang. Jika nanti dia pergi
lebih dulu, Anggrek ingin aku menonton film kakaknya dan kita bisa beradu akting bersama." Aira memeluk erat Blackat, menenggelamkan wajahnya di leher Black.
"Lea juga akan menjaga kamu,"
Kepala Aira menggeleng, keduanya memang kembar, tapi watak mereka berbeda jauh. Anggrek wanita yang lembut dan penyayang, sedangkan Lea iblis bertanduk yang banyak bersandiwara.
"Kalian berdua sedang menjelekkan aku?"
"Siapa lagi, kamu manusia paling buruk yang aku temukan." Aira menjulurkan lidahnya, mengejek Lea yang ingin memukul kepala Aira, tapi terkena Blackat.
Kepala Blackat sakit mendengar debat Aira dan Lea yang seperti adu siaran langsung. Tidak ada satupun yang ingin mengalah.
"Oh ya, satu lagi. Berhati-hatilah dengan Gilang, dia mencurigakan." Aira meringis kesakitan karena dijatuhkan oleh Black.
"Jangan menjelek-jelekkan Gilang,"
"Aku serius, berhati-hati kepadanya." Ai memegang pinggangnya.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1