
Kondisi konser semakin kacau, beberapa orang mulai memanggil nama Aira yang berada di depan. Tidak ada jalan bagi Ai untuk melarikan diri sehingga semakin banyak yang berdesakan ingin melihat wajah asli Aira.
Black meminta para penggemar tenang, tidak saling berdesakan karena kasihan jika sampai berdempetan untuk penonton di depan.
Penjaga membuka gerbang, Black langsung lompat ke bawah panggung menarik tangan Aira untuk masuk bersamanya.
Ai melepaskan tangan Dean, menyambut tangan Black yang terulur. Dean menatap tangannya yang diabaikan.
Kehebohan semakin terdengar, Black mengandeng Aira untuk naik ke atas panggung. Teriakan banyak orang histeris semakin menjadi-jadi melihat pasangan terfavorit ada di atas panggung secara bersamaan.
"Di konser kali ini Aira menjadi sumber kegaduhan dan pusat perhatian,"
"Maafkan aku Black, kali ini izinkan aku sebagai seorang penggemar." Ai tersenyum menatap Blackat.
Tangan Black terus menggenggam Aira, bernyanyi bersama seluruh penggemar. Suara Aira juga sangat merdu sehingga bisa bernyanyi bersama Black dan mengimbanginya.
Sampai konser selesai Aira masih bersama Black, terlalu bahaya jika keluar tanpa pengawal.
"Kak, selamat atas konsep gabungan yang sangat memuaskan." Lea tersenyum memeluk Blackat.
"Kamu baik-baik saja, tidak terluka berada di tengah kerumunan?"
Kepala Lea mengangguk, ada pria tampan yang merangkulnya agar selalu aman. Tidak ada yang bisa menyentuh karena Juan sigap di belakangnya.
"Kita pulang duluan, Kakak hitam jangan lupa istirahat." Ai berbisik lembut membuat staf senyum-senyum iri melihat keduanya yang terlihat sangat romantis.
Tawa kecil Blackat terdengar, menundukkan kepalanya karena merasa malu menjadi ejekan musisi lain karena menunjukkan hubungan di depan publik.
Ai kembali lebih dulu bersama Lea, keduanya melewati jalur khusus yang dijaga dengan ketat oleh pengawal.
Hati Aira merasa sangat bahagia, hubungannya dan Black seperti sepasang kekasih sesungguhnya. Bahkan Black tidak canggung merangkul pinggang Ai di atas panggung.
"Ai, kamu mencintai Kak Black?" Lea memperhatikan wajah Aira yang begitu berseri-seri.
"Tidak,"
Mata Ai terpejam merasakan kakinya sakit karena terlalu lama berdiri, Lea melepaskan high heels agar Aira bisa beristirahat.
Keduanya pulang ke rumah Aira, ada mobil yang dikendarai Isel, Gion, dan Juan sedangkan Aira bersama Dean dan Lea.
__ADS_1
Keluar mobil Dean langsung membanting pintu membuat Lea berteriak kaget begitupun dengan Aira yang langsung bangun.
Tanpa mengatakan apapun, Dean berjalan ke arah rumahnya. Bahkan Isel memanggil meminta tolong membawakan tasnya juga tidak dihiraukan.
"Kenapa Dean terburu-buru sekali?" Lea keluar mobil membantu Ai untuk keluar agar beristirahat.
Tiba di rumahnya, Dean langsung membanting pintu kamar lompat ke atas tempat tidur.
Pintu kamar terbuka, Diana yang sedang berkunjung ke rumah Mommy Anggun binggung melihat adik lelakinya yang nampak emosi.
"Ada apa tuan muda Dean Dirgantara?" Di lompat ke atas tempat tidur mengacak-acak rambut adik lelakinya.
"Tidak ada apapun hanya lelah,"
"Bohong, kamu itu Daddy Mommy yang digabung menjadi satu dan ini jadinya. Tidak ada kata lelah apalagi menyerah, kekesalan kamu itu tidak terbentuk untuk berdiam diri kecuali patah hati." Di memperhatikan wajah Adiknya yang langsung berpaling.
Tawa Diana terdengar, patah hati tidak ada obatnya. Tidak ada pilihan kecuali berjuang dan melepaskan.
"Kak Di bisa tinggalkan Dean sendiri?"
"Siapa wanita itu? jangan katakan dia Aira?" Diana tertawa terbahak-bahak melihat adik lelakinya yang tertawa lepas langsung melangkah keluar dari kamar adik lelakinya.
Tangisan terdengar, Dean menutup telinganya tapi suara tangisan semakin besar membuatnya cemas.
Mommy Anggun meminta Diana berhenti, memeluk cucu perempuan satu-satunya yang menangis sesenggukan karena ketahuan membawa emas batangan seberat lima puluh kilo.
"Mama tanya dari mana emasnya?" Pukulan Diana semakin kuat sampai tangan Isel berdarah.
"Ada apa Kak?" Dean berlari melihat Isel menangis di pukul tangannya.
"Sudahlah Diana, bagaimana bisa bicara jika tangannya kamu sakiti?" Mommy Anggun ikutan menangis melihat Isel menangis sesegukan.
"Kak cukup!" Dean mengambil penggaris langsung mematahkannya.
"Lihat emas batangan itu, dia menarik tasnya sampai hampir sobek. Besok dia mengganti tas menggunakan besi. Dari mana anak seumuran Isel mendapatkan emas asli?" Di menatap tajam Dean yang mengecek sepuluh batang emas.
Kesabaran Diana diuji oleh Isel yang tidak ingin mengatakan asal emas yang dia dapatkan.
Kedua tangan Isel dilihat oleh Dean memintanya mengatakan dari mana dia mendapatkan emas. Tidak sembarang orang yang memilikinya kecuali memang orang terpandang.
__ADS_1
"Katakan kepada Uncle jika hak orang kita kembalikan, tidak boleh anak di bawah umur memiliki aset seperti ini." Dean mengusap air mata Isel yang terus menetes.
"Tidak boleh dikembalikan, itu punya Isel. Teman Isel yang memberikannya untuk bayaran karena sudah membantu dia dan Maminya." Tangisan semakin kuat karena Dean akan menyita emas miliknya.
"Teman kamu semuanya berada di bawah kamu, tidak mungkin mereka memilikinya. Jika Isel tidak ingin mengatakannya terpaksa Uncle yang menyingkirkannya." Suara tegas Dean terdengar.
"Jangan Uncle, Isel mendapatkan mempertaruhkan nyawa. Itu emas dari Putrinya Nenek Taher,"
Diana langsung batuk, memukul punggung Isel karena berbohong tidak masuk akal. Di tahu jika Nenek Taher memiliki lima putra, keempat putranya sudah meninggal sedangkan satunya menghilang.
Cucu Nenek Taher yang memimpin bisnisnya, kecuali Ken yang dikeluarkan. Dia membuka klinik sendiri, tapi cicitnya Kevin mengelola rumah sakit keluarganya.
"Warisan jatuh kepada seribu panti, mereka semua tidak memiliki hak atas apapun peninggalan nenek Taher." Isel memeluk emas batangnya.
Diana menatap Mommynya yang membenarkan jika ada pengumuman jika kekayaan keluarga Taher sudah dibagikan.
"Sepuluh emas ini didapatkan dari nenek Taher?" Dean menatap Isel yang menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu bisa mendapatkannya?" Di meminta Isel bicara.
"Isel, bantuin mereka melarikan diri dari negara ini,"
Diana mengacak-acak rambutnya melihat tingkah laku Isel yang ikut campur dalam urusan keluarga orang.
"Gion! ini pasti atas bantuan Gion. Kenapa anak-anakku membuat gila." Diana berlari pulang untuk mengadu kepada suaminya.
Kepala Dean geleng-geleng, Isel meminta bantuan membawa emasnya ke kamar. Dean juga baru tahu jika Isel ada kamar di rumahnya yang identik dengan warna emas.
Isel tersenyum lebar menyusun emas di ranjang tidur. Mommy Anggun dan Dean yang melihatnya hampir jantungan karena ada lima tingkat batang emas.
"Astaghfirullah Al azim, ya Allah. Cucuku mengoleksi emas di sini. Daddy lihat cucumu." Mommy Anggun berlari keluar menghubungi suaminya untuk pulang.
"Wow, kamar Isel bagus sekali?"
"Kenapa kamu membuat kamar seperti ini?"
"Agar mirip seperti Queen,"
"Ya Allah, bisa gila aku melihat wanita satu ini. Dean langsung melangkah pergi, otaknya terasa mendidih.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira