SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PERINGATAN 1


__ADS_3

Penerbangan Dean sampai langsung menuju apartemen miliknya, dia juga sangat mencemaskan Isel yang sudah tiba lebih dulu.


Panggilan Dean tidak direspon sama sekali, Dean takut Isel melakukan apa yang dia ucapkan jika ingin bersenang-senang di bar.


"Kenapa nomornya aktif, tapi tidak ada jawabannya?" Dean meminta sopir mempercepat laju mobilnya.


Sampai di apartemen, Dean langsung masuk untuk. Membuka pintu untuk mengecek Isel yang mengabaikannya.


Langkah Dean terhenti melihat seorang pria yang tidur di ruang tamu, tatapan langsung tajam mencari Isel.


Pintu kamar terkunci, tapi Dean tetap bisa membukanya. Di dalam kamar Isel tidur dengan nyenyak.


"Siapa pria itu? keterlaluan sekali kamu Sel membawa laki-laki ke dalam rumah yang aku siapkan." Dean tidak tega membangunkan Isel yang sedang tidur dengan tenang dan nyaman.


"Sel, siapa pria itu?" Dean membenarkan tidur Isel menyelimutinya dengan lembut.


Dean mandi setelahnya barulah tidur di samping Isel. Dean tidak ingin menuduh hal buruk tanpa mendengarkan pendapat Isel.


Pelukan Isel langsung erat, perlahan mata Isel terbangun mengecup bibir suaminya yang sangat hangat


"Kapan Uncle datang, Isel sudah menunggu lama sekali?" tangan Isel mengusap wajah Dean yang sangat tampan.


"Uncle, cepatlah buka hati uncle untuk Isel sampai kita menemukan arti keluarga sakinah mawadah warahmah." Isel mendekatkan bibirnya ke arah leher Dean, mengigit pelan.


Tubuh Dean bergerak merasakan perih, senyuman Isel terlihat mengecup leher suaminya yang sudah merah berbekas.


Ketukan pintu terdengar, Isel berpura-pura menutup matanya agar Dean tidak tahu apa yang dia lakukan.


"Sel, buka pintunya. Isellllll," teriakan terdengar.


"Siapa pemuda kurang ajar ini yang lancang masuk rumah ini?" Dean langsung bangun membuka pintu.


Brayen memukul kepala Dean, langsung kaget karena dia pikir Isel, ternyata ada pria lain yang tidur dengan wanita pengacau.


"Siapa kamu, kenapa bisa ada di rumahku?"


Brayen masih terdiam mengangumi ketampanan Dean yang sungguh tidak ada cacatnya.


"Kamu siapa?"


Senyum sinis terlihat, Dean mendorong Brayen menjauhi kamarnya agar tidak menganggu tidur istrinya.

__ADS_1


Cepat Brayen menjelaskan jika dirinya dan Isel tidak ada hubungan apapun, Brayen hanya membantu Isel yang dijemput paksa oleh Bian.


"Bian, kenapa Bian ingin menjemput Isel?"


"Kamu tidak tahu jika Bian tergila-gila kepada Isel, pertemuan pertama langsung jatuh cinta dan love love tidak bisa berpaling." Brayen mengulurkan tangannya ingin berkenalan.


Kepala Dean menggeleng, tidak meyambut tangan Brayen sama sekali. Pikiran Dean langsung kacau karena Bian mengincar Isel.


"Jangan cemas, Isel bukan wanita lemah. Dia memang miskin, tapi akalnya cemerlang." Tangan Brayen mengambil tangan Dean memperkenalkan dirinya.


"Kamu siapa?" Dean menepis tangan Brayen.


"Aku Brayen, Kakak namanya siapa?"


"Aku tidak ingin tahu nama kamu," bentak Dean dengan nada tinggi.


"Saya hanya seorang pelayan di bar, dan juga supir panggilan untuk pelanggan mabuk. Brayen dan Isel hanya teman seperjuangan karena kita sama-sama miskin." Penjelasan Brayen sangat detail sampai meyebutkan jika dirinya yatim piatu.


"Keluar dari apartemen ini," pinta Dean mempercayai Brayen jika dia jujur.


"Emh ... Kakak tolong pekerjaan aku menjadi apapun asalkan bisa tinggal di rumah mewah ini, please." Tangan Brayen memohon, tapi Dean tetap memintanya untuk segera angkat kaki.


"Itu istananya Bian, tidak sembarang orang bisa masuk ke sana apalagi kita orang biasa." Brayen yang tahu seluk-beluk kota menjelaskan kepada Dean yang dia ketahui.


"Itu kastil, ada satu hal yang aku ingin ketahuan, apa kamu tahu di mana kedua orang tua Bian, dan tahu rupanya?"


"Kakak hebat sekali bisa tahu kastil, aku sudah memikirkannya bermalam-malam. Pertanyaan kakak juga terlalu mengerikan karena orang miskin seperti aku bagaimana bisa tahu?" tanya Brayen yang garuk-garuk kepala.


Senyuman Brayen terlihat menatap leher Dean yang merah bekas isapan, memegang jantungnya yang gemes.


"Kak," panggil Brayen.


"Panggil saja aku Dean, kenapa kamu tersenyum begitu?"


"Coba Kak Dean berkaca, lihat leher sebelah kanan." Senyuman manis Brayen terlihat, langsung tertawa lepas melihat Dean berjalan cepat ke dalam kamarnya.


Pintu kamar terbuka, Dean tergagap melihat Isel yang hanya mengenakan pakaian dalam karena cuaca panas.


"Kepala Dean tertunduk, membuang selimut ke arah Isel yang manyun karena Dean melarangnya menggunakan baju kurang bahan.


"Kak Dean, mana koper Isel?"

__ADS_1


"Koper? bukannya koper seharusnya bersama kamu?"


Kepala Isel menggeleng, dia meninggalkan koper di bandara karena malas membawanya. Membawa tiga koper tidak mungkin sanggup.


"Isel, kita pakai baju apa?" Dean hanya ada dua tiga baju di lemarinya karena jarang datang ke apartemen.


"Salah Kak Dean sendiri karena mementingkan Hairin, meninggalkan aku." Isel membuang selimut, tetap tidur meggunakan baju satu jari.


Dean menarik tangan Isel untuk mengusir Brayen, Dean sudah cukup baik tidak marah dan berpikir buruk.


"Ini peringatan terakhir Sel, jangan pernah membawa siapapun ke rumah ini lagi." Tatapan mata Dean tajam memberikan peringatan pertama.


"Berarti boleh membawa ke hotel?"


Telinga Isel langsung ditarik kuat, Dean mengulangi ucapan agar Isel mengerti jika hubungan mereka suami istri dan harus menghargai. Apapun yang bersangkutan dengan rumah tangga Isel maupun Dean tidak boleh melanggar.


Kepala Isel mengangguk, mengecup hidup Dean yang jarak wajah mereka sangat dekat. Berada jarak dekat membuat Isel nyaman apalagi Dean diam saja jika mendapatkan kecupan.


"Maaf, kemarin kamu pergi sendirian, secara tiba-tiba kantor menghubungi aku jika Irin ditahan." Dean menjelaskan secara detail apa yang terjadi agar Isel tidak salah paham.


"Iya Uncle, Isel sangat paham dan tidak akan memprotes apapun yang Uncle lakukan karena Isel percaya Uncle." Kedua tangan Isel memegang wajah Dean ingin mengecup bibirnya.


"Sel, berikan aku sedikit waktu. Aku belum siap untuk melakukannya." Dean melepaskan tangan Isel langsung menghubungi seseorang untuk mengambil koper.


Senyuman Isel terlihat, hal yang dia suka dari Dean selalu memegang keyakinan jika nanti dia bisa menerima meksipun hatinya berat.


Panggilan di ponsel Isel masuk, Isel hanya menatap saja tidak berniat menjawab karena dia ingin melihat reaksi Dean..


"Siapa itu?"


"Tidak tahu, kemarin juga Bian meminta aku datang ke kediamannya. Apa Isel boleh ke sana? bukannya Uncle juga menyelidikinya," ucap Isel yang mematikan panggilan.


Mata Dean tajam, dia tidak akan pernah mengorbankan Isel hanya untuk mendapatkan informasi soal Bian.


"Jangan ikut campur, kamu cukup diam dan tidak membuat aku cemas. Ingat Sel, kamu kelemahan aku." Dean mengambil ponsel langsung menjawab panggilan.


"Apa bedanya cinta dan perhatian?" gumam Isel pelan.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2