SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
DIMARAH


__ADS_3

Mobil Shin tiba di depan rumahnya, Isel langsung keluar ingin pulang beristirahat. Mimor juga bergegas masuk, tapi keluar lagi sampai teriakan menangis.


"Kenapa?" bentak Tika melihat keduanya keluar.


"Ada apa?" Isel menatap Mimor yang memegang jantung.


Suara langkah kaki terdengar, Juna keluar dari rumahnya. Shin menelan ludah pahit karena suaminya sudah pulang dari luar negeri.


Tatapan Juna sangat menakutkan, kepala Mimor tertunduk begitupun dengan Shin yang mengenggam tangannya erat.


"Dari mana?" tanya Juna dingin.


Mulut Shin tidak bisa megeluarkan sepatah katapun karena takut, Juna jarang sekali menegurnya, tapi jika sudah kesal terlalu menakutkan.


"Kita hanya ke rumah pelangi, ada yang harus dipelajari di sana," ucap Tika memberanikan diri menghadapi kakaknya.


"Oh, meninggalkan anak yang sedang demam tinggi, begitu tanggung jawab kamu sebagai ibu. Menitipkan anak kepada pengasuh."


"Siapa yang demam, aku pergi semuanya dalam keadaan baik," elak Tika.


Suara ponsel dilempar terdengar, mata Tika melihat ke arah ponselnya yang hancur karena sengaja pergi tidak membawa ponsel.


Mata Tika melihat ke arah Genta yang pertama kalinya melempar barang di hadapan Tika dan anak-anak.


Isel melangkah masuk ke dalam rumah, melihat Ajun diinfus. Wajahnya pucat, bibirnya gemetaran karena semalaman sakit.


Banyak barang berhamburan, Genta marah besar saat tahu anaknya sakit, tapi Tika tidak bisa di hubungi.


"Maafkan Isel Kak, ini bukan salah Kak Tika ataupun Shin, ini salah Isel. Aku yang meminta batuan mereka untuk menemukan keberadaan Laura, maafkan Isel."


"Pulanglah, bukan urusan kamu. Aku tahu segalanya." Nada dingin Genta terdengar.


Tangisan Isel terdengar, Genta langsung menatap tajam. Menghubungi Dean untuk pulang agar membawa istrinya pulang.


Semalaman kelayapan, pagi baru pulang. Apa ada wanita hamil yang diminta suaminya pulang, tapi masih berkeliaran.


Tangan Isel ditarik oleh Aira yang semalaman menjaga Vino karena ikutan sakit melihat Ajun sakit.


Tika masuk mengecek kondisi Putranya, tidak peduli jika harus dimarah karena salah dirinya yang lupa jika bukan seperti dulu lagi. Dirinya seorang ibu yang seharusnya memprioritaskan anak-anak.


"Maafkan Mama sayang, bagaimana kondisi Ajun?" Tika menatap Diana dan Aliya yang duduk di sofa.


Diana hanya diam saja, Tika lupa jika dia bukan hanya seorang pengusaha, hacker, tapi dia juga seorang ibu.


"Dari mana kamu, bukannya sudah harus pulang sejak tengah malam?" Al menatap putrinya yang mengusap tangan Putra bungsunya.

__ADS_1


"Aku pergi ke rumah pelangi," jawab Tika.


"Apa tidak ada hari esok, kamu lupa dengan anak-anak setidaknya kamu harus cek tiap CCTV." Diana marah karena Tika lalai.


Di luar Shin dan Mimor diusir, Juna tidak mengizinkan pulang ke rumah. Juna tahu kemampuan istrinya, tapi melibatkan dua gadis remaja terlalu berbahaya.


Shin tidak bisa mengelak karena anting Mira ada di tangan Juna. Mimor tidak diizinkan lagi latihan bela diri.


"Ay, maafkan Shin. Kita memiliki alasan," pinta Shin untuk mendengarkan ucapannya.


"Setiap orang memiliki alasan Shin, tapi tiap orang tahu batasan. Apa hanya kamu manusia terkuat di dunia ini, apa kamu lupa ada anak di rumah? lupa pesan aku sebelum pergi dinas?" Juna sampai pulang saat tahu anaknya menghubungi mengatakan kepala pusing, tapi Maminya tidak ada di rumah.


Mempercayakan anak kepada pengasuh, sedangkan pengasuh asik tidur. Hasan Husein yang mengurus kedua adiknya, sampai memasangkan infus, menyuntik padahal masih kecil.


Subuh-subuh lagi mencari bantuan, sedangkan Maminya tidak ada disisinya saat anak membutuhkan.


"Shin ingin masuk." Tangisan Shin terdengar memeluk lengan suaminya.


Juna menepis kasar, tidak ingin melihat wajah Shin. Jika kebebasan menjadi yang utama, maka tidak perlu pulang.


"Aku bisa menjaga anak-anak, kamu terserah ingin melakukan apa. Kalian berdua juga tidak perlu pulang lagi, terserah ingin pergi ke mana. Jika tidak menyukai aturan di rumah ini silahkan angkat kaki." Juna geleng-geleng karena Mimor bolos sekolah karena mengikuti Maminya.


Pintu ditutup kuat, Shin meremas rambutnya. Mimor melangkah pergi, langsung lari pulang ke rumah Juan yang tidak mungkin memarahi mereka.


"Kakak mau apa?"


"Numpang tidur," jawab Mora yang langsung masuk kamar.


Keduanya santai saja, kemarahan Papanya tidak akan lama, tidur jauh lebih penting setelah semalaman bertarung, dan melakukan perjalanan yang menyita waktu.


Penderitaan hanya dirasakan oleh Shin dan Tika, keduanya diabaikan oleh suami masing-masing.


Mobil Dean sampai di rumah Tika Shin, melihat Shin yang berdiri di depan pintu sendirian.


"Kak, ayo masuk." Dean merangkul pundak Shin.


Pintu terbuka, Dean menatap Tika yang menangis begitupun dengan Isel yang sedih melihat Tika menangis.


"Ayang, Tika tidak akan mengulangi lagi." Pelukan Tika kuat.


"Terserah kamu!" pelukan dilepaskan secara paksa, Genta masuk ke kamar sampai banting pintu.


"Babi!" kaki Tika hampir saja menendang pintu.


Pintu terbuka kembali, Genta mendengar jelas suara Tika menyebutnya babi. Tindakannya seperti babi hanya Tika malaikatnya.

__ADS_1


"Jangan bicara lagi dengan aku karena babi tidak mengerti bahasa manusia." Suara pintu dibanting terdengar kuat, Tika menarik napas panjang.


"Kak nanti biar Dean yang bicara, kalian ke rumah saja. Istirahat di sana." Dean menatap Shin yang memeluk Vino.


"Marah saja, jika air mata aku tidak berguna, aku tinggalkan kamu." Tika menepis air matanya, melepaskan infus Ajun membawanya keluar dari rumah.


Kepala Aliya geleng-geleng, Tika tidak ada lawannya. Jika air matanya tidak membuat luluh maka dengan cara memberontak.


"Mama, Ajun mau sama Papa."


"Aku yang melahirkan aku, kita tinggalkan saja dia."


"Tika!" teriakan Genta terdengar.


Dean mengambil Ajun, meminta Diana membawanya pulang ke rumah. Di rawat di ruangan khusus.


"Pulang saja Kak, biarkan Tika dan Genta bertarung berdua. Mereka sama kuatnya. Jika Tika menang anak-anak ikut dia, tapi jika Genta yang menang maka Tika akan dicerai." Dean meminta mommy membawa Vino juga.


Genta terkejut dengan ucapan Dean yang sangat sembarangan, dirinya menikah belasan tahun dan harus bercerai.


"Dean, tarik ucapan kamu. Dasar kurang ajar, kenapa kamu yang memutuskan rumah tanggaku?"


"Daripada ribut, mungkin menikah belasan tahun sudah bosan?" Dean tersenyum kecil.


"Enak saja, aku mencintai istriku sampai mati. Aku yang bertengkar, jangan ikut campur," bentak Genta tanpa sengaja sedang mengalah.


Senyuman Tika terlihat, memeluk erat suaminya karena menikah belasan tahun bukan mengurangi cinta, tapi menambah.


"Tika juga cinta sama Kak Gen." Pelukan Tika erat.


"Aku tidak."Genta balik lagi ke kamar karena capek marah masih tetap tidak bisa mengurangi rasa cintanya.


Shin berdehem, meminta Dean menyelesaikan masalahnya. Juna bahkan tidak keluar kamar sedikipun.


"Bagaimana nasib Shin?"


"Kamu bujuk Juna di kamar," ucap Al langsung pulang.


***


Follow Ig Vhiaazaira



KISAH IAN DAN SENJA

__ADS_1


__ADS_2