
Suara petikan gitar terdengar, Blackat menciptakan lagu barunya sesuai dengan perasaan yang saat ini dirasakannya.
Suaranya yang lembut, dan indah menbuat Isel memejamkan matanya menikmati alunan musik. Perasaan Isel tenang hanya berduaan dengan Blackat.
"Apa yang kamu lakukan Isel? baru saja pindah sekolah baru, kenapa bisa pulang cepat?" kepala Blackat menoleh ke belakang, melihat senyuman Isel yang sangat lebar.
Kepala Isel hanya menggeleng, dia pulang karena tidak dibutuhkan lagi. Sesuai ucapan Blackat, Isel harus menunjukkan jika dia siswa yang pintar sehingga bisa masuk ke gedung pejabat negara.
Guru Isel mengizinkan pulang lebih dulu untuk dirinya belajar, besok Isel akan mengalahkan ratusan siswa berprestasi.
"Jika kamu tidak nyaman jangan dilakukan, aku ingin kamu memiliki kehidupan normal seperti siswa lain." Black melanjutkan main gitarnya.
"Ayang, boleh Isel tahu nama asli Ayang Blackat?"
"Jangan panggil aku Ayang, nanti orang berpikir aku memacari anak dibawah umur, itu salah satu kejahatan." Senyuman Black terlihat, tidak terganggu dengan keberadaan Isel meksipun dia terkenal sangat nakal.
"Baiklah, saat Isel berusia tujuh belas tahun boleh panggil Ayang?" tawa Isel terdengar mendapatkan anggukan dari Blackat.
Meksipun waktu Isel masin lama untuk memanggil Blackat ayang, setidaknya Isel akan bersabar. Bisa melihat Blackat dari jarak dekat sudah membuatnya bahagia.
"Kak Blackat nama aslinya siapa?"
"Angga, jika kamu tidak nyaman dengan panggilan Black panggil saja Kak Angga,"
"Kenapa dipanggil Black? bukannya nama Kakak bagus?"
"Seseorang yang memberikannya, dia masih salah satu keluarga kamu. Aku juga baru mengetahuinya, dia orang yang pernah menyelamatkan perekonomian aku." Senyuman Black terlihat, jika dirinya mengingat masa lalu ada beberapa orang tanpa nama yang berjasa dalam hidupnya.
"Apa dia seseorang yang ada di lagi pertama Kakak?" Lagu yang membuat Isel mengangumi sosok Black saat membawakan lagu yang cukup menyedihkan
Isel memahami maknanya, dan kagum dengan seseorang yang menjadi motivasi bagi Blackat.
"Kamu ternyata penggemar setia, apa judulnya?"
"Black card,"
__ADS_1
Tawa keduanyaa terdengar, Black hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya kagum dengan selera Isel yang setia mengikutinya bertahun-tahun.
Black mengeluarkan Black card, dia ingin segera mengembalikannya kepada Shin Maminya Mora.
Dia penyelamatan bagi Black dan seseorang yang memberikannya nama. Shin pernah berpesan jika Black harus mengembalikan uang kepada orang yang membutuhkan seumur hidupnya.
Seumur hidup Black dia harus menghidupi banyak anak panti, lansia, juga orang yang membutuhkannya.
"Kak Angga harus segera kembali jika memiliki hutang sebanyak itu. Jadilah aktris selamanya agar bisa menjadi penyelamat bagi banyak orang." Air mata Isel mendadak menetes karena hidup Black memiliki banyak masa kelam.
"Sel, apa kamu memiliki saudara?"
Kepala Isel mengangguk, dia memiliki dua Kakak laki-laki yang sekolah di luar negeri. Kakak pertamanya pintar, dan memilih sekolah kedokteran. Di usianya yang baru belasan tahun sudah belajar dunia medis.
Sedangkan kakak pertama Isel juga pintar, tapi tidak bisa diam. Dia terlalu kreatif dan playboy di bawah umur. Kakak pertama juga mengambil sekolah kepolisian, sejak mudah dia sudah berada d lapangan dan bermain senjata.
"Wow, keduanya pasti sangat tampan dan keren. Kamu juga memiliki wajah yang sangat cantik,"
"Tentu mereka tampan, Isel jika bertemu mereka sering tidak kenal." Tawa Isel terdengar, dia merindukan Kakaknya yang sudah lama tidak kembali.
"Lalu cita-cita kamu apa?"
"Cita-cita kamu jelek sekali." Kepala Blackat geleng-geleng, merasa aneh dengan Isel yang istimewa, tapi tidak punya cita-cita dan mimpi yang besar.
Rasa penasaran Isel semakin terlihat, ternyata Black mengenali Aira sejak lama. Semua orang mengenal Ai sebagai pengacau yang berpidah sekolah berkali-kali.
Dia juga seseorang yang tidak memiliki tujuan belajar, Ai hanya tergila-gila dengan dunia selebriti yang dikelilingi oleh media dan dicintai banyak orang.
Wanita secantik Aira memilih jalan yang rumit, dia bisa mewarisi harta Keluarganya, tapi Ai memilih berjuang sendiri dengan keringatnya.
"Kenapa Aira ingin menjadi artis?"
"Kak Ria, dia dulunya dipanggil Ria. Manusia paling nakal, dan tidak ada tempat takutnya. Sampai saat ini Aira dilindungi oleh dua kakaknya, juga Uncle Dean." Bagi Isel, Aira hanya sengaja keluar dari zona nyaman karena selalu melihat banyaknya orang lemah, dan tidak seberuntung dia.
"Aira, dia wanita aneh. Selama bertahun-tahun aku menyimpan benci kepadanya, tapi beberapa bulan bersama rasa benci langsung hilang." Black sadar satu hal, dirinya bukan membenci Aira, tapi dirinya sendiri.
__ADS_1
Bibir Isel langsung maju ke depan, merasa kecewa mendengar ucapan Blackat. Semua lelaki terpesona dengan kecantikan Aira, juga kepribadiannya yang unik.
"Kak Blackat suka Kak Ai?"
Tawa Blackat langsung terdengar, tidak mungkin dirinya berani mencintai Aira yang memiliki segalanya, dan keluarga besar Ai tidak mungkin menerimanya.
Black melihat banyak perbedaan, bukan soal harta, tapi perbedaan jalan dan tujuan. Black suatu hari akan pergi jauh seperti mimpinya.
Tatapan Blackat jauh ke depan, sejak kecil Black hidup kekurangan. Dan melihat banyak kematian, kehilangan sosok Ayah yang meninggalkan keluarga juga hutang yang banyak, lalu ditinggalkan adik dengan kebenaran jika tidak sedarah. Juga kehilangan sosok Ibu.
Hidup sendirian tanpa keluarga, gila bekerja tanpa ingat waktu. Usia terus bertambah, Black tidak pernah menikmati kehidupan masa mudanya karena terlalu sibuk mengurus harta dunia.
Suara ledakan terdengar, Black langsung berdiri menarik tangan Isel untuk berlindung karena ada serangan dari luar.
"Blackat keluar! ini akan menjadi pemakaman kamu,"
Kening Blackat bekerut, dia tidak mengenali suara. Isel langsung ingin keluar, tapi ditahan oleh Black tidak ingin Isel terluka.
"Sel, kamu tetap berlindung di dalam. Kak Blackat akan menyingkirkan mereka." Kedua tangan Black memegang pundak Isel.
"Kak, dia orang yang mencelakai Anggrek, lelaki itu ...."
"Kak Blackat tahu dia Elo, lelaki yang bertanggung jawab atas kematian adikku." Mata Blackat tajam, langsung ingin pergi, tapi Isel menahan bajunya.
Mulut Isel terbuka ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya pahit. Isel tidak tahu pantas tidaknya memberitahu Blackat.
"Ada apa? apa bukan Elo?"
"Bagaimana Elo bisa berada di tempat yang berbeda, menyingkirkan dua orang secara bergiliran. Mati saja sudah sangat mengejutkan, bagaimana bisa dua?" Isel memeluk erat Blackat, suara tembakan terdengar peluru memejamkan komputer Blackat.
"Apa pelakunya Ayah?" bibir Blackat bergetar, tangannya juga bergetar mengeluarkan senjata untuk menghabisi lelaki sialan yang sudah merusak Keluarganya.
Tidak akan Black maafkan, dan lebih memilih membunuhnya daripada melihatnya hidup. Black melepaskan Isel meminta tetap duduk diam.
Black mengisi peluru langsung melangkah keluar dari jalan belakang. Isel binggung ingin menghubungi siapa? otaknya tidak jalan karena Blackat ternyata tahu jika Ayahnya masih hidup.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira