
Suara langkah kaki Bian terdengar memasukkan kastil, lampu remang-remang seakan tidak ada kehidupan karena terlalu sepi dan sunyi.
Suara hewan terdengar dari balik dinding, kastil berada di pinggir kota, tapi terasa berasa di tengah hutan belantara.
"Dean Dirgantara, dia lelaki satu-satunya yang berani mengusik hidupku. Hanya lelaki muda yang memiliki kecerdasan, tapi berlaga paling berkuasa hanya karena dia Putra orang berpangkat dan berpengaruh." Tawa Bian terdengar, dia tahu jika Dean adik dari Alina, wanita psikopat yang sangat dirinya takuti.
Jika tidak menghargai perjanjian terdahulu dengan Alina, tidak mungkin Bian diam saja saat Dean menghancurkan bisnisnya.
Saat Bian masih berusia sepuluh tahu dia diselamatkan oleh Alina dari kekejaman keluarganya, Alina mengajari Bian untuk membasmi siapapun asalkan bukan keluarganya karena Alina memiliki seorang Adik yang menjadi nyawanya.
"Ais sialan, jika Dean menghalangi aku mendapatkan Isel maka aku akan melanggar perjanjian itu." Bian melangkah masuk ke sebuah kamar melihat seorang wanita cantik sedang menyisir rambutnya.
Bian melangkah mendekat, memeluk dari belakang langsung membenturkan kepala agar lenyap dari hadapannya.
"Bebaskan aku," pinta wanita yang menyentuh keningnya.
"Kamu yang memutuskan untuk hidup dan mati bersamaku, lalu kenapa ingin pergi?" Bian tersenyum manis.
Tangan wanita bergetar, melihat Bian masuk kamar mandi. Selama Bian menemukan wanita pengganti, maka dia tidak akan pernah bebas harus melayani Bian yang tidak memiliki hati.
Ponsel yang disembunyikan mengirimkan sesuatu kepada seorang dokter psikiater, hanya dokter Isel yang bisa menangani kehancuran hidupnya.
Ponsel Isel di sita oleh Dean, melihat pesan dari seorang wanita jika Bian sudah kembali dan melakukan kekerasan kepada-nya, memohon agar Isel menyelamatkannya.
"Siapa dia?"
"Isel tidak tahu Uncle, pertama kali Isel mendapatkan surat saat bekerja di bar. Kejadian beberapa bulan yang lalu saat Isel pergi, dan mulai mencari tahu soal Bian." Kepala Isel melihat Brayen yang menatap wajah Dean penuh pesona.
"Oh, ternyata wanita ini baru. Pantas saja belum ada laporannya." Dean mengambil ponsel Isel tidak mengizinkannya lagi menggunakan ponsel.
"Bagaimana caranya Isel berkomunikasi Uncle?"
"Gunakan ponsel aku saja, kita satu hanphone soalnya kamu terlalu banyak membohongi aku." Dean mengecek pergelangan tangan Isel tidak ingin ada lecet sedikitpun.
__ADS_1
Senyuman Brayen terlihat karena Isel sangat beruntung memiliki suami yang sangat perhatian, selalu melindunginya.
"Kak Dean, terima kasih sudah menolong kita," ucap Brayen senang karena Dean datang di saat yang tepat.
"Aku tidak berniat menolong kamu, aku melindungi Isel jika kamu terserah." Dean masih saja dingin kepada Brayen yang tersenyum mendengar jawaban yang selalu menjatuhkan mentalnya.
Brayen juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Bian datang ke rumah gubuknya, menanyakan soal Isel yang tidak bisa diketahui identitasnya.
Jangankan Bian, Brayen juga tidak tahu siapa Isel, dan menganggapnya hanya wanita biasa, mandiri, kadang jahat, tapi ada baiknya.
"Bian sangat takut kepada Kak Dean, dia ...."
"Bukan aku, tapi salah satu orang terdekat aku. Bian tahu siapa aku." Mata Dean melihat Isel yang nampak terkejut.
"Kenapa Uncle membiarkan dia tahu?"
"Aku seorang jaksa penuntut Sel, maka ada beberapa hal yang tidak bisa aku hindari apalagi Mommy seorang hakim dan Daddy juga jenderal. Tidak aku mampu menyembunyikan identitas." Dean menatap Brayen yang menganggap kaget sampai iler menetes.
"Kenapa kamu bisa mengenal orang seperti ini?" Dean menatap Isel yang melirik Brayen.
Brayen langsung tepuk tangan, tidak salah dirinya mengagumi Dean karena dia memang bukan keturunan orang sembarangan. Brayen ingin sekali bisa bekerja di bawah perintah Dean.
"Sekarang kamu tinggal di mana, aku antar pulang?"
"Aku tinggal di pojokan kamar mandi apartemen Kak Dean juga tidak masalah." Brayen tertawa karena ingin memeluk Dean, tapi jika dirinya melakukan nyawanya langsung melayang.
Helaan napas Dean terdengar, menatap Isel yang tersenyum karena mata Isel mengatakan jika Brayen anak baik yang sangat sulit dia temukan di tengah kota yang tidak baik-baik saja.
Panggilan masuk di ponsel Dean, dia langsung melangkah menjauh. Brayen menepuk pundak Isel memberkatinya agar selalu bahagia.
"Uncle Dean pria yang sangat baik, dia juga memiliki hati yang besar. Dia tidak pernah menyakiti, selama tidak menyakiti empat wanita." Isel tersenyum karena dia tahu jika Dean memprioritaskan Mommy, Diana, Aira dan Isel.
"Aku tahu jika dia pria baik, cara bicaranya juga sebenarnya lembut. Pertama kalinya aku melihat ada lelaki seperti dia di kota ini." Brayen menarik napas panjang karena dia selalu berharap bisa bertemu orang-orang baik di tengah kehidupannya yang curam.
__ADS_1
Senyuman Isel terlihat, dia meyakini jika Dean pasti mengizinkan agar Brayen tinggal bersama mereka, meskipun pasti akan sering mengomel.
Suara Dean memanggil Isel terdengar memintanya pulang lebih dulu bersama Brayen karena dia harus ke kantor untuk bertemu tim.
"Jaga istriku, awas saja jika macam-macam aku pantau via CCTV. Dari sini ke rumah kurang lebih dua puluh menit jika lebih kamu akan tahu akibatnya," ancam Dean yang tidak memberikan senyuman sedikitpun.
"Baik Kak Dean, tapi kenapa Kak Dean begitu detail sampai tahu waktunya?" tanya Brayen penasaran
"Hati-hati Uncle, cepat pulang." Isel memeluk Dean mengecup bibirnya sangat lama.
Dean langsung pergi karena kebiasaan Isel lebih parah dari Diana, tapi dia tidak tega menolak karena tidak ingin orang lain merasa asing dengan hubungan mereka.
Senyuman Isel terlihat, dia paham jika Dean tidak nyaman dengan pembuatan, tapi Isel ingin melakukannya sampai hati Dean luluh.
"Kak Dean begitu peduli, tapi kenapa rasanya dia tidak nyaman?" Brayen meminta maaf jika pertanyaan menyinggung dirinya hanya mengatakan apa yang dilihatnya.
"Uncle tidak mencintai aku, ada wanita lain namun tidak bisa Isel ketahui siapa." Kepala Isel tertunduk, merasa penasaran dengan wanita yang Dean cari kemungkinan besar korban dari Bian.
Perhatian Brayen melihat ke arah lain, dia tidak menyangka pertanyaan bisa membuat Isel bersedih karena lelaki yang dicintainya mencari wanita lain.
"Maaf Sel, aku tidak bermaksud ...."
"Aku tahu, sekarang kamu sudah tahu jadi jangan merasa asing apalagi bertanya langsung kepada Uncle. Bersikap biasa seakan kamu tidak tahu apapun." Senyuman Isel terlihat, dia sangat mencintai Dean dan akan berusaha mempertahankannya.
Senyuman Brayen juga terlihat dia yakin suatu hari Dean akan mencintai istrinya lebih dari apapun karena cinta yang tulus akan mendapatkan ketulusan berkali lipat.
Kebahagiaan terbesar Isel bisa memiliki Dean, dan menyentuhnya secara halal. Selama Dean tidak menolak, maka Isel akan terus membuatnya takluk.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa follow karena ada give away untuk reader setia.
__ADS_1