
Ketukan pintu kamar Aliya terdengar, dia baru saja ingin tidur. Mengecek layar ponsel melihat Putri bungsunya basah kuyup.
Ai berjalan ke kamarnya, berpikir jika Maminya sudah tidur. Ai juga tidak ingin menganggu Papinya.
Pintu kamar Aliya terbuka, berjalan ke kamar Aira yang tidak tertutup rapat. Ai bukan berganti baju hanya duduk di lantai memeluk kedua lututnya.
"Ganti baju, nanti demam." Al menutup pintu mengambil baju tidur untuk Putrinya.
Aliya membuka baju Ai yang masih duduk diam, tidak mengeluarkan air mata dan tidak juga tertawa.
"Buka baju dalam kamu, tidak mungkin Mami yang menyentuhnya. Kamu sudah besar, sebentar lagi juga memutuskan untuk menikah." Al menatap Putrinya yang berdiri melepas pakaiannya berganti dengan baju yang disiapkan.
"Mami jangan membuat gosip begitu, pernikahan itu karena cinta bukan perjodohan." Ai duduk kembali menatap Aliya yang ke kamar mandi membuang baju Putrinya.
Senyuman Al terlihat, menepuk sofa meminta Aira mendekatinya. Al sangat tahu jika Putrinya sedang kebingungan.
"Bagaimana kondisi Papi? katanya sakit. Kak Juna sudah memeriksa belum?"
"Papi baik-baik saja, hanya sakit biasa. Kamu tahu jika Mami dan Papi semakin tua, kalian sudah dewasa maka berhentilah untuk membuat masalah." Al memperhatikan wajah Ai yang terus menghela napasnya.
"Ai hanya ingin Mami dan Papi masih terus menemani Ai hingga lima tahun ke depan, masa Ai masih panjang. Mimpi Aira menjadi artis internasional belum tergapai." Kepala Ai tertunduk seperti tidak memiliki tulang.
"Yakin itu mimpi kamu?"
Kepala Aira menggeleng, dia sebenarnya tidak memiliki mimpi. Segala jenis usaha sudah pernah dia lihat, hanya artis yang belum ada makanya Ai memutuskan untuk merasakannya.
Kedua tangan Aira memeluk Maminya, meminta ditepuk pelan agar perasaan Aira sedikit tenang.
"Katakan apa yang menganggu pikiran kamu?"
"Mami ... Mi, maafkan Aira jika suatu hari membuat keluarga kita kecewa." Ai mengeratkan pelukannya.
"Bukannya itu hobi kamu. Andrian Aira putriku, selama kamu tidak melangkah ke jalan yang menyesatkan maka tidak ada yang perlu dikecewakan. Nak, sehebat atau seburuk apapun orang tua kamu, jalan hidup kita beda. Aira memiliki jalan yang harus dihadapi, jangan menyalakan apapun jika kamu belum menemukan akhir sebuah jalan." Kepala Al mengangguk mengecup kening Putrinya.
Senyuman Aira terlihat, mencium kedua pipi Maminya. Dulu hanya Maminya dan kakaknya Tika yang menjadi lawan Ai untuk bertengkar, setelah Tika dewasa Aira bertengkar dengan Isel.
Sejak keluar dari rumah Ai tidak memiliki lawan lagi, apalagi setelah ditinggal sahabatnya. Ai berusaha mencari kebenaran, dan mengendalikan dirinya agar tidak menyakiti banyak orang.
__ADS_1
Segala upaya Aira lakukan, sampai dirinya tidak lulus kuliah. Ai ingin membela sahabat terbaiknya, tapi semuanya berubah.
"Mi, orang yang Aira bela berubah. Apa yang Ai lakukan salah tidak? kenapa sulit sekali memiliki teman?" Ai memeluk Maminya, jika dirinya melakukan kesalahan sudah membela sahabatnya, tapi selama tujuh tahun dia dibohongi.
Hidup Aira penuh rasa bersalah, dia menyalahkan dirinya tidak bisa menyelamatkan dan berjanji akan mengungkap kematian, tapi kenyataannya Aira dibohongi.
"Terus, wanita itu muncul untuk balas dendam?"
"Iya Mi, kira-kira salah Aira di mana?"
"Salah kamu terlalu hebat menutupi kesedihan, bahkan Mami yang selalu mengawasi juga tidak tahu." Al menatap tajam Putrinya yang kecewa.
"Ai tidak ingin terlihat lemah! lihat seluruh anggota keluarga memiliki kemampuan masing-masing, hanya Aira yang tidak ada Mami." Tangisan Aira terdengar memeluk erat Maminya.
"Apa yang kamu banggakan dari kehidupan Mami yang tidak memiliki orang tua, apa yang kamu kagumi dari Tika saat dia menyimpan amarah, dan kamu bangga dengan Kak Juna, tanpa tahu luka besar apa di masa lalunya. Aira ingin hidup penuh rasa sakit? kamu ingin hidup penuh kesulitan? Ai, kehebatan yang kamu lihat untuk hasil dari luka." Aliya meminta Putrinya tidak iri kepada orang lain, dan lebih menghargai dirinya sendiri.
Aira tidak istimewa di matanya sendiri, tapi begitu berarti bagi orang lain. Rasa peduli kepada temannya menunjukkan jika hati Ai terlalu lembut.
"Kamu merasakan kesedihan orang lain, juga kesulitannya. Ai itu istimewa di dalam keluarga ini, berhati-hati sayang. Amarah orang yang memiliki dendam itu tidak ada penawarnya." Al langsung mengerutkan keningnya teringat ucapan Aira dia belum lulus kuliah.
"Papi, Mami memukuli Aira." Ai memeluk Papinya yang terbangun mendengar keributan.
"Pi, anak satu ini sungguh kurang ajar. Dia menipu kita, Aira belum lulus kuliah." Aliya menghentak kakinya marah besar karena dibohongi soal pendidikan.
Altha menatap Ai yang tersenyum lebar menganggukkan kepalanya, tubuh Altha ikutan lemas kewalahan melihat tingkah Putrinya.
"Papi kecewa Aira, kali ini kamu keterlaluan." Alt memijit kepalanya melihat kemarahan istrinya.
Suara teriakan Aira terdengar, dia sudah mengatakan kepada Maminya jika akan mengecewakan keluarga, tapi Maminya mengatakan tidak ada hal yang mengecewakan selama di jalan yang benar.
"Bagaimana bisa kamu menipu Mami?!" Al teriak-teriak di tengah malam.
Aira melipat kedua tangannya memohon ampun, langsung berlari kencang ke rumah Kakaknya meminta pertolongan.
"Bukan hanya Ai yang membohongi kita, tapi Juan juga." Altha menepuk keningnya melihat si kembar yang kompak.
Aira masuk ke rumah Juna dan Genta, berteriak memanggil Kakaknya. Juna yang membuka baju meminta Shin segera memakai bajunya kembali sebelum Aira masuk.
__ADS_1
"Kak Juna, selamatkan Ai Kak, Mami mengamuk." Aira masuk kamar memeluk Juna yang menepuk jidatnya.
"Ai, kamu tahu ini jam berapa?"
"Tahu Mami marah tidak ingat waktu, Kak Juna Aira tidur di sini saja." Ai ingin naik ke atas tempat tidur, tapi ditendang oleh Shin.
"Aunty kenapa? sini cerita sama Mora." Senyuman lebar Mora terlihat menatap Aira yang acak-acakan.
"Anak kecil tahu apa? Aunty di keluarkan dari kampus, jadinya tidak wisuda." Ai menatap Mora yang menganga.
Tatapan Juna dan Shin langsung tajam, Aira langsung keluar kamar mencari Tika meminta bantuan.
Tika dan suaminya juga terbangun, kaget melihat Juna marah karena kali ini Aira keterlaluan.
"Ada apa?" Tika memeluk adik bungsunya.
"Ai tidak lulus kuliah, berarti dia menipu semua orang." Shin geleng-geleng kepala terheran-heran.
Tika langsung memukul pundak adiknya yang keterlaluan, tidak heran jika Maminya marah besar di tengah malam.
Kepala Aira tertunduk mendengar kemarahan kedua kakaknya yang meminta Aira untuk mengulang kembali.
Mira terbangun menatap Mora yang menganga padahal dia tidak tahu apapun, dan tidak mengerti juga.
"Kamu kenapa?"
"Pura-pura kaget saja, ikut suasana." Senyuman Mora lebar.
"Ai, kamu melakukan apa selama ini? kenapa lalai dalam pendidikan." Genta duduk merapikan rambut Aira.
"Kak, sahabat Aira meninggal tujuh tahun yang lalu, dia dibunuh secara tragis. Ai ingin memberikan keadilan, tapi setelah perjuangan panjang. Ai berhasil mengungkapnya, dia masih hidup dan membenci Ai." Kepala Aira tertunduk memeluk Kakak iparnya yang menenangkan.
Kepala Mora dan Mira menggeleng, meyakini jika Aira bohong. Dia hanya mencari aman dari amukan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1