
Suara musik berdentum terdengar, senyuman bartender cantik berambut merah selalu menjadi pusat perhatian banyak orang.
Banyak pemuda dari kelas atas duduk di hadapan bartender cantik, meminta rekomendasi minuman terbaik.
"Nona, siapa nama kamu?"
"Apa tuan orang baru, atas hanya alasan ingin memulai pembicaraan?" tawa kecil Isel terdengar, sudah biasa basa-basi bertanya nama.
Seseorang menyerahkan secarik kertas, Isel hanya membaca sekilas lalu mengabaikan begitu saja di atas meja.
Senyuman seorang pemuda terlihat, mengangumi kecantikan Isel bagaikan putri raja. Kulitnya putih bersih, senyuman manis dengan rambut panjang berwarna merah.
Mata Isel melihat ke arah pemuda yang tersenyum menatapnya, hanya dengan melihat sorot mata, Isel sudah tahu tujuan orang-orang datang.
"Pria kaya raya, haruskah aku menghabiskan uangnya?" batin Isel di dalam hati.
Tubuh seseorang terlempar di atas meja depan Isel, beberapa minuman yang tersusun tumpah dan pecah berhamburan.
Suara pertengkaran terdengar membuat banyak pelanggan yang berhamburan pergi, Isel menghela napas panjang.
Bunyi high heels terdengar, Isel melangkah keluar dari tempatnya bekerja, menarik kerja baju pria besar tinggi yang memukul seorang wanita.
Pertarungan tidak bisa dielakkan, Isel melayangkan pukulan hingga tendangan kuat membuat lawannya terlempar jatuh di atas meja hingga pecahan berhamburan.
Tepuk tangan terdengar, banyak pelanggan Bar yang mengenal baik Isel. Si cantik yang ahli bela diri, tidak menyukai keributan sehingga suka turun tangan.
"Sudah sering aku peringatkan untuk tidak mengacau di sini!"
Seseorang melemparkan botol ke arah Isel, tapi seorang pemuda melindunginya hingga pecahan botol tepat di kepala.
Beberapa orang berlari keluar, meninggalkan kekacauan yang terjadi. Manager Bar yang berniat memarahi Isel mengurungkan niatnya saat tahu pria yang menolong Isel bukan orang sembarangan.
Senyuman Isel terlihat, mengusap darah yang mengalir di kening meminta maaf karena dirinya harus ada yang terluka.
"Apa kamu pikir darah ini gratis?"
"Benarkan, apa aku pernah meminta?" tawa Isel terdengar dia tidak akan mudah ditaklukkan hanya karena seseorang memiliki kekuasaan.
__ADS_1
Langkah kaki Isel meninggalkan tempatnya bekerja, berjalan bersama pria yang menolongnya menghabiskan malam yang penuh dengan gemerlapan.
"Kenapa kamu tidak bertanya soal aku?"
"Apa itu penting?" tanya balik Isel karena dia tahu segalanya, hanya memberikan batasan untuk tidak megungkap siapa dirinya.
Pergelangan tangan Isel ditahan, keduanya berdiri berhadapan. Hembusan napas terasa satu sama lain.
"Jangan samakan aku dengan wanita malam tuan muda Bian, aku sedang melarikan diri dari lelaki yang aku cintai. Apa aku terlihat seperti wanita yang membutuhkan belaian?" Isel berjalan kembali karena bisa melihat tatapan mata kaget.
"Ternyata kamu wanita yang spesial, dari mana kamu tahu soal aku?"
Kepala Isel menggeleng, dirinya tidak punya kewajiban untuk menjawab karena memang tidak ada hal penting yang harus dirinya jawab.
Bian langsung berjalan di depan Isel, penasaran dengan kehidupan Isel yang terbilang bebas juga tidak biasa.
"Tidak banyak orang tahu soal aku, bukannya unik jika kamu tahu?"
Langkah Isel terhenti, menatap tajam Bian. Pengusaha kaya raya yang memiliki segudang bisnis ilegal, sekumpulan orang-orang dari dunia hitam.
Jika hanya ingin tahu orang seperti Bian terlalu mudah bagi Isel, hanya ada beberapa orang spesial yang tidak mampu dirinya selidiki salah satunya para ulama yang tidak mungkin berani Isel dekati.
Tangan Isel melambai, langsung melangkah masuk ke dalam mobilnya. Melaju pergi tanpa melirik sedikitpun kepada Bian yang tersenyum bahagia bisa bertemu Isel.
"Aku menyukai wanita berkelas seperti kamu, jangan sebut aku Bian jika tidak mampu memiliki kamu." Tawa Bian terdengar langsung masuk mobil yang sudah menjemputnya.
Sepanjang perjalanan Isel bernyanyi kecil, tidak menyangka keputusan untuk pergi disambut baik keluarganya, tidak ada satupun yang menyelidiki keberadaannya seakan semuanya lepas tangan.
"Sebentar lagi aku ulang tahun yang kesembilan, seharusnya aku menikah, tapi kenyataannya aku menjadi bartender yang sepanjang malam harus tersenyum manis." Isel menatap tangannya yang penuh luka bekas berkelahi, ada banyak bercak darah dari tubuhnya yang luka karena pecahan kaca.
Mobil Isel berhenti di apartemen kecil, berjalan masuk dan melihat sekumpulan orang mabuk. Memanggil Isel memintanya untuk bergabung.
"Cantik, kemarilah," pinta pria yang hampir tumbang karena banyak minum.
Senyuman Isel terlihat, memasukkan sesuatu ke dalam botol minuman. Tidak membutuhkan waktu lama sekumpulan pemabuk tumbang.
Mata Bian terbuka lebar, dia sengaja mengikuti Isel dan sangat terkejut dengan cara simpel Isel menyingkirkan pengganggu.
__ADS_1
"Tuan, sudah waktunya kita kembali," ujar sopir memberikan peringatan.
Kepala Bian mengangguk, melihat lampu apartemen Isel menyala, tidak berapa lama mati lagi.
Dari lantai atas Isel melihat mobil Bian yang melaju pergi, sejak awal sudah Isel duga jika dirinya diikuti.
"Kalian tidak akan pernah bisa mendekati aku." Isel melangkah pergi kembali karena dia tidak tahu apartemen siapa yang dia masuki.
Siapapun yang mencoba mencari tahu alamat Isel pasti akan gagal, tidak ada yang boleh tahu di mana dirinya tinggal.
"Kak Gion," ucap Isel menatap layar ponselnya.
Isel memilih tidak menjawab, dia masih belum bisa melawan perasaannya karena ditolak seluruh orang. Lebih mementingkan hubungan keluarga tidak sedarah, daripada perasaannya.
"Apa salahnya jika kami menikah, bukannya bagus membuat terikat keluarga?" Isel menghela napasnya masih saja egois.
Panggilan kembali masuk, Isel terpaksa menjawabnya. Mendengar kemarahan kakaknya karena hampir tiga bulan Isel tidak memberikan kabar.
"Kamu di mana, pulanglah. Kasihan Papa dan Mama tidak pernah bisa tidur tenang memikirkan kamu," ujar Gion di balik telepon.
"Sama kak, Isel juga dua tahun tidak mampu mengendalikan perasaan. Banyak yang mengatakan jika semuanya butuh waktu, pertanyaan Isel sampai kapan waktunya?" Isel tidak akan pulang sebelum hatinya mampu berdamai.
Panggilan langsung mati, Isel juga ingin pulang merayakan ulang tahunnya seperti sebelumnya dikelilingi oleh keluarganya.
Perasaan Isel sangat sedih, tapi dirinya juga tidak bisa mengendalikan diri. Lebih baik sejak awal Dean membencinya, daripada hubungan mereka baik namun menyakitkan.
"Isel rindu Uncle, kenapa tidak ada sedikitpun ruang untuk Isel?" mobil Isel berhenti di hotel mewah, meksipun hidupnya kekurangan tetap saja Isel tidak akan tidur di tempat murah.
Langkah Isel terhenti, langsung cepat bersembunyi karena tanpa sengaja melihat Dean sedang check-in hotel.
"Luasnya dunia, masih bertemu juga. Tidak mungkin aku halusinasi, Uncle ada di sini." Kepala Isel menggeleng, menepuk wajahnya agar sadar dari halusinasinya.
Saat Isel melihat lagi, Dean sudah menghilang. Isel bergegas langsung ke arah kamarnya, jantungnya berdegup kencang.
Isel sangat yakin tidak mungkin Dean tahu tempat dirinya tinggal, mustahil juga datang karena mengkhawatirkannya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira