
Makan malam sudah disiapkan, seluruh keluarga sampai tiga meja penuh. Mommy tersenyum lebar karena seluruhnya berkumpul.
"Bahagia ya Kak, bisa lihat keluarga kumpul begini. Kita akan mengantarkan anak-anak lagi untuk berumah tangga, sebenarnya mereka yang cepat besar atau kita yang semakin tua." Aliya memeluk lengan Anggun, jika dulunya hanya ada dirinya dan Anggun sekarang sudah berkembang biak menjadi banyak sekali.
Kepala Anggun mengangguk, dulu dia sulit sekali mengatur Aliya yang sangat nakal apalagi pergaulannya yang tidak normal.
Siapa yang menyangka jika ada banyak versi Aliya yang hadir dengan tingkah berbeda-beda, kehadirannya menambah kebahagiaan.
"Ayo makan dulu baru mengobrol." Dimas merangkul Aliya dan Anggun yang tersenyum meletakkan tangan mereka di pinggang Dimas.
"Umi, Kakak tampan dan Kakak cantik itu artis, tapi Reno tidak diizinkan berfoto. Kenapa Umi?" suara anak berusia tiga lima tahun menatap Hana yang baru saja ingin makan.
"Memang tidak boleh karena mereka artis Reno, identitasnya harus terjaga." Yandi menegur si kecil yang ingin berfoto.
"Percuma mereka artis jika tidak diizinkan berfoto?" Dika menatap Kakaknya yang langsung sinis.
"Kamu ingin identitas keluarga kita terbongkar?"
Senyuman Dika terlihat meminta maaf karena dia baru tahu jika Blackat merahasiakan soal keluarganya.
"Dewa makan dulu, tidak akan ada sudahnya meladeni mereka." Daddy memanggil meminta Angga duduk bersama mereka untuk makan.
"Selamat makan semuanya," ucap Angga yang langsung ditatap banyak mata.
"Selamat makan." Tawa langsung terdengar karena masih tidak percaya ada aktor terkenal di dalam keluarga mereka.
Tangan Dika menggores tangan Angga menggunakan kukunya, dan bisa melihat tidak ada kotoran sedikipun.
"Kamu perawatan kulit berapa ratus juta?"
"Angga mandi Uncle, harus mandi minimal dua kali sehari." Angga tersenyum melihat pria disampingnya yang adu kulit putih.
"Sudahlah Dika kamu jangan membuat malu, dia memang sejak lahir tampan dan sempurna apalagi seorang aktor harus berpenampilan menarik." Diana mencubit tangan Dika yang suka memperlakukan keluarga.
"Apa bedanya sama aku, kita sedarah?"
"Dia darah suci kamu darah kotor." Di meminta mulut Dika diam membiarkan Angga makan dengan tenang.
__ADS_1
Suara Dimas berdehem terdengar, belum sempat Dika membalas Diana langsung berhenti sebelum dapat teguran.
Selesai makan kedua belah pihak keluarga kumpul, membicarakan soal ijab kabul karena jika pesta akan menjadi urusan perusahaan.
"Di mana Aira? Altha melihat Putrinya berlari kejar-kejaran bersama Isel yang sudah berdarah.
" Apa yang kalian berdua ini lakukan? sudah besar masih saja," tegur Aliya yang melihat keduanya berhenti.
Mommy menujukkan sesuatu kepada Aira, dirinya tidak mempunyai banyak pengetahuan soal selera, tapi yang Mommy pilih bersama Diana berusaha menjadi pilihan terbaik.
"Emh ... Mommy tahu tidak jika Ai ingin menikah, masalah lainnya terserah paling penting sah." Ai melihat banyak contoh gaun dan pelaminan dari WO.
Pembicaraan terdengar serius, Aira hanya duduk bersandar di dada Angga sambil memejamkan matanya. Dia menerima apapun selama dirinya bisa menikah.
Seserahan untuk lamaran juga pihak Altha tidak meminta, mereka tahu tradisi tetapi pemikiran Aira beda dari wanita lain yang menyukai pesta mewah, sedangkan Ai hanya mengikuti saja.
"Aira, tanggal sudah ditentukan bagaimana menurut kamu?" Altha menghela napas melihat Putrinya tidur dengan sangat nyaman sambil memeluk Angga.
Pukulan Aliya kuat membuat Aira langsung bangun, mengusap iler yang hampir jatuh karena sandarannya terlalu nyaman.
"Setuju, Aira besok juga langsung siap." Ai tersenyum bersandar kembali.
Kepala Altha hanya bisa geleng-geleng, meminta Angga memajukan tanggal pernikahan satu bulan ke depan.
Semua orang terkejut, dua bulan saja sudah termasuk cepat, sedangkan Altha meminta dimajukan.
"Geser Aira." Juan meminta Adiknya melepaskan Angga.
"Kakak,"
"Geser, jika tidak menikah saja sekarang. Hari ini menjadi terakhir kalian bertemu, sampai selesai pernikahan tidak ada pertemuan." Tatapan Juan tajam, Aira langsung menangis melangkah pergi begitu saja dia tidak ingin bicara apapun.
Kepala Juna geleng-geleng, Aira lebih parah dari pada Tika. Sebelum dapat lengket seperti lem, tapi setelah menikah lupa dengan suaminya pilih menonton film.
"Sabar Angga, Aira memang aneh, jika iman kamu tidak kuat mungkin sudah lama ada bayi di sini," ujar Juan juga ikutan kesal.
"Aira bukan wanita seperti itu, dia sangat menjaga kehormatan. Meskipun jahil dan suka menggoda, Aira wanita yang mampu menjaga dirinya. Dia berani kepada Angga karena tahu dia pasti aman, berbeda bila dengan pria lain. Ai terdidik akhlaknya, dan dia tahu batasannya." Angga tidak membenarkan jika Aira dipandang sangat genit dan tidak sabaran dalam hubungan.
__ADS_1
Tidak pernah satu kali pun Ai menerima sentuhan dari lelaki manapun, apalagi lelaki yang lancang menatapnya penuh rasa kagum.
Shin dan Tika bertepuk tangan, Rindi juga ikutan meskipun tidak mengerti apa yang menarik dari ucapan Angga.
"Atika juga begitu sama Yangyang Gem saja berani, dia tidak mau nyosor, Tika yang langsung menyerangnya. Tetapi jika lelaki lain, aku patahkan lehernya." Tika gemes melihat lelaki yang sangat pengertian.
Senyuman Altha terlihat, menyukai pikiran Angga yang sangat memahami putrinya. Menikahkan keduanya pilihan paling tepat yang Altha ambil.
"Lalu bagaimana dengan tanggalnya?"
"Angga ikut Daddy dan Papi saja,"
"Baiklah, bagaimana jika dua minggu lagi? mulailah bersiap dari sekarang. Atika, Shin, Hana, Rindi semuanya yang sudah berpengalaman bantu adik kalian untuk persiapan. Setelah ijab kabul akan diadakan pesta dan kita bukan keluarga yang mendampingi, tapi tamu agar tidak ada yang mengetahui identitas keduanya." Dimas menatap Altha yang sangat setuju sampai berjabatan tangan.
"Kenapa dipercepat sekali Daddy?" Juan menatap binggung karena Lea sedang hamil untuk mengurus perusahaan yang pasti akan kacau jika dia aktris besar menikah.
"Kamu ingin dua bulan lagi, sibuk pernikahan juga lahiran. Kita selesaikan pernikahan baru menyambut baby twins." Alt menatap Gion yang duduk diam tersenyum manis.
Soal perusahaan yang akan heboh, dihandle oleh Gion daripada dia sibuk berpacaran dengan aktris papan atas lebih baik dia bekerja.
Semua mata melihat ke arah Gion yang menyembunyikan ponselnya, Diana menyita ponsel melarang Putranya pacaran.
"Sebentar lagi Isel yang akan menikah." Dika merangkul si centil yang tersenyum manis.
"Isel akan menikah satu tahu lagi?"
"Memangnya kamu punya pacar?" tawa Dika terdengar, Isel memang cantik, tapi siapa yang berani menikah cucu perempuan pertama yang memiliki kekayaan terbanyak diantara saudara lainnya.
Suara Ian terdengar menegur Isel yang ingin menikah muda, dia bahkan belum mampu mengurus dirinya sendiri, tapi sudah berani ingin mengurus anak orang.
"Siapa lelaki idaman kamu Sel?" tanya Salsa sambil mengusap kepalanya.
"Blackat ... versi lain." Senyuman Isel terlihat ke arah Angga yang tersenyum juga sambil geleng-geleng.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1