
Mendapatkan kabar Aira kecelakaan cukup mengejutkan Lea, langsung bergegas menghubungi Aira, namun tidak ada jawaban.
Kabar kecelakaan Aira langsung tersebar, jantung Lea berdegup kencang mendapatkan kabar buruk soal artisnya.
Mobil yang seharusnya membawa Aira kembali ke apartemen hilang kendali setelah melewati kecelakaan maut hingga terjun bebas ke bawah jembatan.
Sudah dua jam Lea menunggu tidak ada kabar terbaru, korban yang jatuh ke jembatan masih simpang-siur. Pihak perusahaan belum bisa mengkonfirmasi sebelum penyelidikan terbukti benar.
Pintu ruangan Lea terbuka lebar, pukulan di atas meja kuat. Blackat menatap tajam Lea yang menolak melihatnya.
"Apa ini Lea? kenapa kamu melakukan ini?"
"Jaga ucapan kamu Black! kenapa aku harus menyakiti Aira?" Lea memegang dadanya meminta tim lebih banyak lagi untuk menemukan Aira.
"Bukannya Aira dari keluarga terpandang, kenapa tidak ada satupun pihak keluarganya yang turun tangan?" Gilang menatap Black dan Lea yang saling tatap.
"Bagaimana penyelidikan kamu di lokasi?" Lea meminta kepastian karena dia sangat mengkhawatirkan Aira.
Kening Black berkerut, langsung duduk melihat pemberitaan soal Aira yang mengalami kecelakaan dan belum ditemukan.
Kedua tangan Black meremas rambutnya, mengkhawatirkan kondisi Aira yang belum ada kabarnya.
"Lea, berikan aku nomor Juan," ucap Blackat.
Lea langsung menyebutkan nomor kontak Juan, Lea juga tidak terpikirkan untuk menghubungi kakak Aira setelah berjam-jam.
Panggilan masuk, Black menyampaikan kasus kecelakaan Aira. Meminta pihak keluarga untuk tetap diam dan tidak datang ke lokasi.
Jika keluarga Aira datang, banyak yang akan tahu siapa Aira. Selama proses pencarian belum menemukan titik terang.
[Kalian yakin Aira kecelakaan?] suara Juan bertanya dengan nada pelan.
[Iya, coba lihat pemberitaan.] Blackat mengecek ulang banyak doa untuk Aira.
Suara tawa terdengar dari balik ponsel, Dean merasa lucu dengan tim yang menjaga Aira. Mereka tidak tahu jika Aira manusia paling licik di keluarga Rahendra. Dia bahkan menipu Mami dan Papinya sendiri, apalagi orang lain.
Aira tidak akan mudah disingkirkan, apalagi baru menghasilkan satu film, setelah delapan belas tahun mengkhayal menjadi artis.
"Apa yang mereka katakan Blackat?"
__ADS_1
"Keluarga Aira akan tetap diam, mereka menunggu kabar baik,"
"Apa tidak ada tim khusus yang dikirimkan?" Gilang merasa aneh dengan keluarga Aira yang terbilang sangat cuek dengan keturunannya.
"Ada. Juan meminta bantuan tim SAR lebih banyak lagi untuk membantu pencarian." Black memilih berbohong, jika keluarga Aira terlihat tenang maka Black yakin Aira dalam keadaan baik.
Kecemasan Lea semakin terlihat, tangannya sudah gemetaran menatap ponselnya yang belum ada tanda-tanda Aira ditemukan.
Black meminta Gilang keluar, mengawasi pencarian Aira. Black tidak mungkin muncul ke sana, dia bisa membuat heboh lokasi.
Tubuh Lea hampir terjatuh, Black menahan. Menggendong tubuh Lea ke tempat duduk, Black berjongkok menggenggam tangan adiknya yang sudah meneteskan air mata.
"Aku tidak ingin hal ini terjadi kepadanya,"
"Aira pasti baik-baik saja,"
"Apa dia bisa selamat seperti dulu?" Lea memegang kepalanya menyalahkan dirinya yang seharusnya ikut mengantar Aira pulang.
"Dek, Aira bukan wanita lemah. Dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri." Black tidak melihat kekhwatiran dari keluarga sama seperti saat kejadian yang menimpa Anggrek.
Keluarga Aira terlihat santai saja, padahal mereka orang yang sangat berpengaruh. Blackat yakin, keluarga Aira tidak tahu kasus yang menimpa Aira. Mereka tidak mungkin menutupinya, Blackat sangat yakin ada orang lain yang terlibat.
"Kemungkinan, aku hanya heran. Kenapa Aira tidak mengingat apapun soal Anggrek, dia langsung memutuskan sekolah di luar negeri." Black mengangkat kedua alisnya mencoba menebak pikiran Aira.
Suara panggilan masuk, Lea langsung menjawab dan cukup terkejut saat melihat Aira sedang makan sambil joget-joget mendengar lagu yang Blackat ciptakan.
[Di mana kamu Aira?]
[Jangan marah dulu, temui aku di gudang kosong. Hanya kita berdua yang tahu tempat ini.] Panggilan langsung Aira matikan.
Suara teriakkan Lea menggema memanggil nama Aira, Lea sangat marah melihat wanita yang coba dia jaga, namun bermain-main.
Setelah menarik napas panjang, Lea mengusap dadanya. Lea bernapas lega karena Aira dalam keadaan baik-baik saja. Dia masih bisa makan dengan lahap.
"Aira sialan! manusia licik satu itu tahu siapa aku!" Lea langsung mengambil kunci mobilnya ingin segera pergi.
"Biar aku yang menyetir, tangan kamu masih gemetaran." Black meminta Lea berjalan lebih dulu.
Di depan pintu tanpa sengaja Lea bertemu dengan Gilang yang baru sampai mengatakan jika kecelakaan yang menimpa Aira murni kecelakaan, tanpa campur tangan siapapun.
__ADS_1
Mulut Lea baru saja terbuka, tapi suara Blackat terdengar lebih besar meminta Gilang menemukan Aira, bukan mencari tahu penyebab kecelakaan.
"Apapun yang terjadi kabari kami, tidak perlu datang. Aku tidak mempercayai siapa." Black menepuk pundak Gilang yang langsung pergi kembali.
Sesekali Lea melirik ke arah Blackat yang sudah memakai topi dan masker, menutupi wajahnya agar tidak ada yang mengenalinya.
Mobil yang digunakan juga wajib menggunakan mobil lain, Blackat tidak ingin mobil Lea ataupun mobilnya.
"Kamu sedang mencurigai seseorang?"
"Aku tidak memiliki jawaban, jadi di mana kita bisa menemui Aira?"
"Gedung. Tempat dia dan Anggrek biasanya bertemu, tapi di mana tempat itu?" kening Lea berkerut masuk ke mobil salah satu karyawan perusahaan demi keamanan.
Tatapan Blackat tajam, bagaimana cara mereka bisa menemukan Aira jika tidak ada yang tahu di mana gedungnya?
Lea mencoba mengingat kembali diary yang pernah dirinya baca, semua isi tentang Adiknya. Lea meminta Blackat ke gedung tempat Anggrek ditemukan sekarat.
Tangan Lea tergempal, tidak pernah dirinya bayangkan akan datang kembali ke bangunan lama yang menyimpan luka.
"Kamu baik-baik saja Lea? apa kit ke dokter dulu?" Blackat khawatir melihat kondisi Lea yang terus memegang kepalanya.
"Tidak, aku hanya masih belum bisa melupakan Anggrek yang terluka." Bibir bawah Lea digigit kuat tidak ingin memperlihatkan sisinya yang lemah.
Mobil tidak bisa masuk ke dalam lagi karena banyak semak belukar yang tumbuh tinggi menutupi bangunan tua. Lea langsung keluar berlari masuk, tapi tidak melihat tanda-tanda ada orang yang sedang berkunjung.
Blackat berjalan pelan, menatap sekitar yang sulit dilalui karena semak-semak semua. Lea bahkan sampai batuk karena sulit bernapas.
Suara tawa Aira terdengar, merasa lucu dengan Blackat dan Lea yang masuk ke bangunan tua, padahal dia tidak ada di sana.
"Apa yang kalian lakukan ke sini? kabarnya dulu tempat ini menjadi area pembantai?" Ai ikut berjalan di belakang Blackat sambil memegang bajunya.
Senyuman Aira terlihat, wajah putih membuat Blackat berteriak hantu memeluk Lea sangat kuat.
"Itu masker," ucap Lea.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1