SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
INGIN BAHAGIA


__ADS_3

Teriakkan Isel terdengar, berjalan cepat ke arah Weni yang terduduk lemas di ruang tunggu.


Semalaman tidak tidur, ingin pulang namun dilarang oleh Bian. Dirinya tidak bisa berbuat apapun.


"Kenapa kamu berantakan sekali Wen?"


"Apa menurut kamu semalaman di sini wajahku ini bisa berseri-seri bagaikan bunga mawar yang mekar di pagi hari?" mata Weni bahkan hampir hitam karena tidak sempat memejamkan mata.


Tawa Isel terdengar menepuk pundak Weni yang duduk pasrah, bahkan high heels sudah terlepas.


Keduanya duduk menunggu, pasien dibawa keluar ruangan untuk melakukan pemeriksaan, Bian mendampingi Mamanya untuk diantar ke ruang pemeriksaan.


Terlihat sekali jika Bian begitu menyayangi mamanya meskipun tahu kondisinya yang memprihatinkan.


"Wen, kamu pasti bangga kepada Bian yang begitu menyayangi mamanya."


"Bangga jidatmu, tidak melihat kepala aku dibentur, rambut dijambak, melihatnya saja aku malas." Weni meringis meminta pulang.


Tawa Isel terdengar, memahami jika Weni berada dalam kesulitan, tapi semuanya bisa berakhir jika berhasil menaklukkan.


"Kenapa kamu tidak belajar mencintai Bian saja?"


"Otak kamu di mana? Wanita tolol model apa yang mau hidup bersamanya, aku bisa mati perlahan bodoh."


"Aku tidak melihatnya, kamu memiliki pikiran lain. Berhentilah membohongi aku, apalagi membohongi diri sendiri." Senyuman Isel terlihat merangkul sahabatnya untuk mencoba menerima.


Tanpa diperjelas Isel paham hubungan masa lalu yang saling menyakiti, tapi tidak ada sangkut-pautnya dengan Bian dan Weni.


Jika Bian marah hal yang wajar, dia pasti sangat terpukul melihat kondisi Mamanya, tapi bukan berarti membenci.


"Dia menyakiti aku Sel, lihat kening aku benjol." Tangan Weni menujuk keningnya.


"Sakit di awal bahagia di akhir Wen, percaya sama aku." Isel meniup kepala Weni dengan hembusan napas kencang.


"Anjing busuk hawa, kamu gosong gigi atau tidak Sel? Masa iya Dean tidak muntah merasakan bibir kamu bau bangkai." Weni berdiri ingin pulang karena capek.


Pukulan Isel kuat ke arah paha, suara Weni meringis kesakitan terdengar menatap pahanya yang merah.


Tatapan mata Bian tajam, Isel melangkah mendekat menanyakan kondisi Mama Bian yang masih di ruangan periksa.

__ADS_1


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


"Weni ingin pulang katanya muak melihat wajah kamu." Isel melangkah pergi ke arah ruangan periksa untuk melihat Mamanya.


Tawa Weni terdengar bersahabat dengan Isel dosa terbesar, baru kali ini ada teman yang mengantarkan sahabatnya ke jurang kematian.


"Aku mau pulang, kepala pusing, mual, tubuh gerah, mata aku lihat sudah mirip panda atau babi ini. Nanti malam aku datang lagi, terserah diizinkan atau tidak aku akan tetap pulang." Weni melambaikan tangannya melangkah pergi sambil memegang high heels mahalnya.


Dirinya datang bagaikan bidadari, pulangnya mirip kuntilanak. Bertemu Bian kesialan terbesar dalam hidupnya.


Saat kepala Weni menoleh, Bian ada di belakangnya. Menatap tajam seakan ingin melenyapkan.


"Kenapa lagi Bian?"


"Aku juga ingin pulang karena ingin ganti baju, Kakak Diana yang akan mengurus Mama, tiga jam lagi kita balik ke tunggu sakit."


"Kita ... Kamu aja, aku tidak." Kepala Weni geleng-geleng.


Pintu mobil terbuka, Weni kaget karena Bian mengambil alih mobilnya. Weni menatap ke arah Isel yang melambaikan tangannya menyemangati sahabatnya agar bisa keluar dari genggaman Bian dalam keadaan hidup.


"Jika aku mati kamu orang pertama yang aku hantui." Weni mengumpat kasar masuk ke dalam mobilnya.


Mata Weni tertidur, sekalipun Bian membawanya ke neraka sudah tidak peduli lagi, sudah waktunya pergi ke alam mimpi.


Sampai di rumah Bian menatap Weni yang tidur nyenyak, mengendong ke kamar. Tubuh Weni diletakkan secara perlahan, sedangkan Bian melangkah pergi menemui bawahannya.


"Kenapa Isel menghubungi aku?" Bian melakukan panggilan.


"Jangan sakiti Weni, dia tidak salah jangan libatkan dia," pinta Isel.


"Aku tahu, selama dia bisa diatur aku tidak akan memperlakukannya dengan buruk. Satu lagi, titip Mama sebentar." Bian mematikan panggilannya melihat Ren dan Dean sudah tiba di rumahnya.


Senyuman Dean terlihat, masih merasa mengantuk. Jika Ren tidak memaksa mungkin Dean tidak akan pergi.


"Rumah ini mewah sekali, apa kamu memutuskan menetap?" Dean duduk tanpa dipersilahkan.


Kepala Bian mengangguk, menyerahkan laporan yang Ren inginkan untuk menghukum Tuan Kim yang sudah membuat hidup seseorang hancur.


"Itu kejahatannya, kamu bisa menyelidiki."

__ADS_1


"Di mana Weni?"


"Kenapa kamu begitu peduli, padahal kalian tidak ada hubungan apapun?"


"Dia Adikku, kita sama-sama pendosa Bian, tapi ada banyak kesempatan untuk memperbaiki diri." Ren tidak ingin Weni tersakiti karena dia keluarga yang menghargai orang lain.


Tangan Dean menepuk pelan, meminta Ren tidak mencemaskan Weni. Jika Bian berada dalam genggamannya maka hidupnya hancur.


"Aku akan menangani kasus Kim agar kamu merasa tenang, jangan sampai Isel tahu dia bisa menjadi Mak comblang sampai membawa anaknya mencarikan jodoh." Kepala Dean geleng-geleng karena istrinya memiliki tujuan mendapatkan jodoh untuk sahabatnya.


Tawa Bian dan Ren terdengar, Isel memang wanita aneh dan unik. Menjodohkan sesuka hatinya.


"Jika kalian ingin makan minta di belakang ada maid, jika ingin minuman ruangan itu ada bar, aku ingin mandi."


"Seperti aku harus pamit, kita bertemu di rumah sakit nanti malam." Dean melangkah pergi tidak ingin menganggu.


Mata Ren dan Bian bertemu, berjalan bersama ke arah ruangan tempat Bian bertapa.


Ada banyak jenis minuman keras di dalamnya, Ren terkagum karena Bian terlalu kaya.


"Ambil saja apa yang kamu mau, aku temani." Bian mengeluarkan beberapa botol.


Keduanya minum sampai habis banyak, Ren menarik napas panjang karena dirinya merasa sedikit tenang.


"Kamu mencintai Weni?" tanya Bian.


"Mana mungkin aku berani, dia yang sudah menyelematkan aku. Weni wanita baik, hanya saja keadaan membawa ke tempat sekarang. Dia tidak memiliki perlindungan sehingga menbuat cangkang untuk dirinya sendiri," ucap Ren sambil meneguk minuman.


"Mama tidak mungkin menderita jika tidak karenanya," balas Bian pelan.


"Masa lalu biarkan berlalu, kamu harus maju Bian. Kesempatan tidak datang dua kali, jika kamu tidak menurunkan ego akan berakhir seperti Brayen." Mata Ren terpejam tidak sadarkan diri.


Tangisan Bian terdengar, jika tuhan ada satu kali saja dirinya untuk bersujud dan melihat arti bahagia. Kesembuhan mamanya doa terbesar Bian, ingin berbakti kepada mamanya yang sudah melahirkannya.


"Jika akhir bahagia itu ada, aku menginginkannya. Aku juga ingin merasakan keluarga bahagia, jika tidak bisa padaku setidaknya anak-anakku." Tangisan Bian pecah terbayang wajah mamanya yang masih berjuang untuk pulih.


Harapan Bian tuhan mengabulkan doanya, sehingga Diana bisa tepati janji jika mamanya bisa sembuh.


***

__ADS_1


Follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2