SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BUKTI


__ADS_3

Penuh kesabaran, Dean menunggu Isel yang masih repot sendiri harus sarapan dan make up. Bukan hanya Dean yang berusaha sabar, Hairin dan Brayen yang menunggu juga sudah was-was dan panik.


"Sudah uncle, ayo kita pergi." Isel mengambil tasnya untuk segera turun.


"Ganti celana kamu, kenapa pendek sekali?"


"Uncle, kita tidak punya banyak waktu," ucap Isel yang tidak ingin berganti celana.


"Maka tidak perlu pergi," balas Dean yang masih duduk tenang.


Hentakan kaki Isel terdengar, langsung berjalan ke kamar untuk ganti celana barulah menyusul Dean ke lantai satu yang sudah memanaskan mobil.


"Lama sekali Sel," ujar Brayen yang ikutan kesal.


"Sabar." Tangan Isel tergempal ingin memukul Brayen yang sangat cerewet.


Isel melacak keberadaan teman-temannya yang berada di hotel mewah. Isel hanya bisa geleng-geleng karena tiga wanita gila sedang bersantai menghamburkan uang.


Sampai di hotel Isel langsung menuju kamar, diikuti oleh Dean dan Hairin. Brayen menunggu di depan pintu karena tidak ingin terlalu ramai.


Saat pintu dibuka, Vio mengerutkan keningnya melihat Dean dan Hairin ikutan datang bergabung.


"Kenapa kamu membawa mereka Sel?"


Isel tidak menjawab langsung lari ke atas tempat tidur memukuli Weni yang masih saja tidur setelah mabuk semalaman.


Dean melangkah masuk, langkahnya terhenti saat melihat pakaian dalam wanita berhamburan, baju, tas bahkan alat make up tersebar di segala tempat.


"Aduh." Hairin hampir jatuh karena menginjak sepatu yang diletakkan sembarangan.


Dean hanya bisa mengucap istighfar karena sikap Isel yang berantakan juga berasal dari pertemanannya yang tidak sehat.


"Sel, ini berikan kepada suami kamu." Suara Yolan terdengar berjalan ke arah Isel yang memukuli Weni.


Dean melangkah mendekati Yolan, wajah Yolan kaget karena suami Isel ternyata Dean Dirgantara.


"Dean." Yolan langsung melepaskan rambut palsunya, berlari ke kamar mandi mengganti baju dengan pakaian laki-laki.

__ADS_1


Tawa Isel dan Vio terdengar karena pertama kalinya Yolan terkejut dan langsung ganti baju karena takut kepada Dean.


"Yolan, ternyata kamu Yoseph?"


"Hanya bercanda saja Kak, tolong jangan memberitahu Mami dan Papi." Tatapan Yoseph tajam ke arah Isel yang tidak berhenti tertawa.


Dean menerima flashdisk, tidak peduli juga dengan kehidupan pribadi Yoseph yang suka berteman dengan perempuan, meksipun sudah memiliki tunangan.


"Aku tidak ingin ikut campur, tapi apa benar kamu tidak normal?"


"Aku normal, hanya saja ini penyamaran. Jika orang tahu aku tidak mungkin bisa bebas." Yoseph melempar Isel dengan sepatu.


Senyuman Hairin terlihat karena pertemanan Isel sebenarnya sungguh luar biasa, mirip dengan kehidupan Aliya jika mamanya bercerita.


Saat muda, mamanya bersama dengan Aliya selalu membuat masalah, tapi Al sangat hebat melindungi temannya dan selalu memberikan bantuan.


Begitupun dengan Isel yang memiliki kehidupan bebas, tapi temannya bukan orang sembarangan. Seorang polisi berbakat, penerus perusahaan IT terbesar, dan seorang wanita cantik yang ahli bela diri, dan Isel paket komplitnya.


"Wen bangun," panggil Isel melihat Weni yang berusaha untuk sadar.


"Weni, bukannya kamu pemilik bar terbesar?" tanya Hairin yang melangkah mendekat.


"Dia hanya wanita bodoh, tidak tahu saja dia siapa saudara kembarnya? seharusnya malam itu kita patahkan saja kaki wanita itu agar tidak bisa melarikan diri." Vio masih kesal karena kasihan melihat wajah Hairin yang hancur.


"Vio, Ren tangan kanan Bian. Dia orang yang membuat barang bukti lenyap." Dean menatap Vio yang langsung duduk di lantai.


Dean tahu jika mereka semua ingin kasus cepat selesai, tidak ingin melakukan kesalahan apapun, tapi kenyataannya ada saja kesalahan yang tidak bisa dihindari.


Jika Vio tidak mengungkap Sandi yang Dean percayakan kepadanya tidak mungkin Ren berhasil membuka file penting.


Kedua tangan Vio memegang mulutnya karena masih kaget, dia menerima panggilan dari Ren yang menanyakan sandi file barang bukti, alasan Ren karena Dean sudah tidur.


"Aku minta maaf soal itu, tidak terpikirkan jika pemuda polos ternyata pengkhianatan." Vio menyesali perbuatannya.


"Aku tidak mempermasalahkannya, kita semua manusia pasti ada salahnya. Kembalilah untuk menyelidiki ulang jangan membuat alasan kesal kepada orang lain padahal kamu asik berpesta." Dean memberikan pengertian agar Vio bisa memahami kondisi Hairin.


Hairin juga melakukan kesalahan, dia merasa dirinya mampu melawan Bian ingin menyelamatkan saudara kembarnya, tapi kenyataannya dia terjebak.

__ADS_1


Hanya kesalahan kecil yang Hairin lakukan, identitasnya diambil alih, pekerjaannya terancam, Alika menggunakan identitas untuk mendapatkan keuntungan, dan memberikan kemudahan kepada Bian untuk memasukkan barang ilegal.


"Sekarang Bian sudah hilang, sekalipun kita berhasil mengungkap kejahatan dia juga tidak berguna," ucap Vio yang menatap Dean tajam.


"Benar, jika tidak ada gunanya karena kita gagal menangkapnya dan memberikan hukuman, tapi setidaknya kita berhasil memberikan kabar kepada keluarga korban yang kehilangan putrinya." Dean yakin namanya kebenaran pasti akan terungkap meksipun memiliki perjalanan yang sulit.


"Hilangnya Bian bukan berarti semuanya berakhir, pasti akan muncul lagi yang namanya Bian versi lain." Yoseph pamit untuk kembali karena dirinya harus menikahi tunangannya jika tidak warisannya akan segera dicabut.


Vio dan Weni memeluk erat, meminta maaf karena tidak bisa hadir. Mereka tidak mungkin masuk ke dalam pesta para pejabat tinggi.


"Sel, jika ada masalah hubungi aku, lain kali katakan siapa suami kamu jadinya aku tidak terkejut." Yoseph memeluk Isel yang juga memeluk erat akan mengirim bom ke acara pesta sebagai ungkapan selamat menempuh hidup baru.


Kening Dean berkerut, menarik kerah baju Yoseph agar melepaskan istrinya karena tidak ada yang boleh menyentuh Isel.


"Terima kasih atas bantuannya Yoseph." Dean tersenyum membiarkan Yoseph mengubah penampilannya kembali agar tidak ada yang mengenali.


Kepala Dean geleng-geleng sampai merinding, seorang pemuda jenius dan sangat tertutup ternyata berhubungan baik dengan istrinya.


Dean menatap flashdisk yang akan dia kirim balik, meminta tim menjadikan Ren sebagai tersangka dan dalam proses pengejaran.


Hairin meminjam flashdisk untuk mengecek ulang detail korban dan identitasnya. Irin mengenal semua korban Bian.


Isel menatap punggung suaminya yang sedang berbicara dengan Hairin dengan sangat serius.


"Kamu tidak cemburu Sel?" Weni melihat wajah Isel yang tenang.


"Aku tidak mencemaskan Hairin, tapi Uncle Dean. Mungkin saja dia masih memiliki rasa," ujar Isel menarik napas panjang.


"Bagaimana jika Hairin menggoda suami kamu? tidak ada kata persaingan sehat di dunia ini." Vio memberikan peringatan agar Isel tidak terlalu santai.


Kepala Weni mengangguk, jika sudah nyaman maka tidak akan ada yang namanya ingin melepaskan. Semua rasa diawali oleh rasa nyaman.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Jangan biarkan mereka berdekatan." Kepala Vio terangkat melihat Isel yang sudah berguling di atas tempat tidur.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2