SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
WANITA LAIN


__ADS_3

Di rumah sakit, wanita yang berhasil diselamatkan benar adanya jika dirinya korban dari Bian. Dia sudah ditahan lebih dari lima bulan untuk melayani dan menjadi korban pemukulan.


"Di mana korban Bian lainnya?" tanya Dean yang berharap ada informasi soal Isel.


"Mereka semua sudah bebas, tapi dianggap gila dan berada di rumah sakit jiwa. Di mana letak rumah sakit itu, aku tidak tahu." Glora memejamkan matanya sambil menangis karena siapapun pasti akan mengalami depresi jika terbebas dari Bian.


Kening Dean berkerut, ternyata Isel ada di rumah sakit jiwa. Dean meminta kepolisian setempat menggali informasi sedetail mungkin agar bisa memberatkan kasus kasus Bian.


Dean melangkah pergi bersama Brayen untuk menemukan Isel, Dean sudah mendapatkan beberapa alamat rumah sakit jiwa yang cukup besar.


"Sel, bagaimana keadaan kamu, kenapa tidak memberikan kabar sedikitpun?" tangan Dean mengusap dadanya karena masih memikirkan Isel yang tidak diketahui keberadaannya karena tidak terlacak.


Di rumah sakit jiwa, Bian naik ke lantai atas yang menjadi tempat tinggalnya. Sedangkan di lantai bawah menjadi tempat tinggal pasiennya.


Tubuh Isel diletakkan di ranjang king size, kedua tangan Bian mengusap wajah dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Akhirnya kita bisa hidup bersama, saat cincin pernikahan dengan Dean dilepaskan karena kamu harus menggunakan cincin pengikat dari aku." Bian memegang telapak tangan Isel, melepaskan cincin pernikahan yang langsung dibuang di tempat sampah.


"Binatang kamu Bian, jika cincin tidak ditemukan maka kamu harus bayar dengan nyawa." Isel masih menahan diri, dia masih membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaganya.


"Cincin ini jauh lebih cocok di jari manis kamu, daripada cincin dari Dean. Percayalah Sel, kamu akan menjadi wanita terakhir dalam hidupku." Bian menarik selimut membiarkan Isel tidur.


Isel yang mendengar ucapan cinta rasanya ingin muntah, jijik mendengar suara Bian yang membuatnya geli.


Ungkapan cinta apapun tidak akan pernah bisa mengubah rasa cinta Isel kepada Dean. Bahkan kematian saja tidak akan mampu mengubahnya apalagi hanya manusia seperti Bian yang berencana memisahkan.


"Kamar ini besar juga, aku harus tidur agar tenaga aku segera pulih dan bisa menemukan keberadaan Hairin." Isel mencabut cincin dari Bian, dilemparkan ke arah balkon.


Cincin terpental kembali, kaca yang menjadi pembatas cukup kuat dan tidak bisa ditembus peluru, jangankan pecah suara saja tidak terdengar.


Suara pintu terbuka membangunkan Isel yang sedang beristirahat, seorang wanita berjalan pelan. Meletakkan makanan dan minuman di atas meja.

__ADS_1


Teriakkan wanita terdengar langsung terduduk di lantai karena pukulan Isel yang sangat kuat. Pintu kamar tertutup dan terkunci. Mata Isel berkeliling melihat CCTV yang langsung mati semua karena Isel mengantikan penghilang sinyal dari jam tangannya sehingga bisa melenyapkan rekaman pengawas.


"Kalian ingin menangkap aku, salah target." Isel menatap seorang wanita yang menatap Isel penuh keterkejutan.


Jangankan wanita pelayan, Isel juga sama terkejutnya karena wanita yang ada di hadapannya sangat mirip seseorang.


"Hairin," panggil Isel pelan.


Wanita buruk rupa karena sebelah wajahnya terbakar, Isel tidak mungkin salah orang karena dia mengenali mata Hairin, meksipun berbeda cara pandang.


"Kamu mengenal aku? siapa kamu?"


Isel melangkah mendekat, mengulurkan tangannya agar Irin berdiri. Meskipun belum tahu kejadian, Isel yakin pasti ada rahasia besar.


Gedoran pintu terdengar, suara Bian meminta pintu di buka terdengar dengan nada marah dan mengancam.


Melihat wanita buruk rupa, Isel sangat yakin jika Hairin tidak takut dengan Bian yang terkenal kejam.


"Alika buka pintunya, jika kamu tetap diam maka satu-persatu pasien gila ini akan mati dan bermandikan darah," ancam Bian agar pintu segera dibuka.


Tamparan kuat menghantam Alika, teriakkan Bian terdengar merasa emosi karena tingkah laku Lika selalu membuat darah Bian mendidih ingin melenyapkannya.


"Menyentuh kamu saja sebenarnya aku jijik, tapi kenapa kamu selalu membuat aku marah." Kepala Alika dibenturkan di dinding


Tangan Isel tergempal, emosinya juga naik karena mendengar Bian memukuli Hairin tanpa rasa kasihan. Isel salut karena tidak terdengar suara tangisan.


Panggilan di ponsel Bian masuk, dia langsung bergegas keluar karena ada urusan penting. Meminta Alika kembali ke lantai bawah.


"Kenapa kamu tidak menangis dan tetap diam saja setelah mendapatkan penyiksaan?"


"Ini pilihan aku yang tidak bisa meninggalkan tempat ini, aku tidak mampu membiarkan banyak yang tersakiti." Hairin menatap Isel yang tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Apa yang kamu pertahankan, seharusnya kamu hentikan? apa kamu menunggu sampai Bian mati agar penderitaan semua orang yang ada di sini menghilang? iya kalau Tuhan cepat mengambilnya jika tidak. Pernah kamu berpikir bagaimana nasib orang tua angkat kamu yang akan dipecat karena kejahatan Hairin yang palsu?" Isel turun dari ranjang tanpa dijelaskan Isel langsung tahu jika Hairin wanita baik dan dia juga memiliki hati yang lembut.


Memiliki mental kuat dan berusaha menyelamatkan orang lain tanpa peduli dirinya sendiri.


Tangan Isel menyentuh wajah Hairin yang hancur, Isel yakin demi menghindari Bian dengan terpaksa Hairin membakar wajahnya sendiri.


Air mata Hairin menetes, terpikirkan keadaan kedua orangtuanya yang ternyata berada dalam masalah. Irin pikir kedua orangtuanya bahagia.


"Bagaimana keadaan Mama dan Papa, kenapa Alika menyakiti mereka?"


"Kamu ternyata membiarkan Alika hidup menjadi kamu dan menerima penderitaan di sini. Sekarang aku tahu alasan dia datang ke sini dan menyelidiki Bian, semua karena kamu." Isel teringat dengan Dean yang ternyata mencari Hairin yang asli.


Dean melakukan segala cara untuk menangkap Bian dan menemukan wanita baik yang sejak awal dijodohkan dengan dengannya.


"Kamu tidak akan mampu bertahan, melawan jalan satu-satunya. Ada banyak orang yang menderita karena hilangnya kamu, terutama Dean." Isel berjalan ke arah balkon, mengusap kaca yang ingin sekali Isel pecahkan karena hatinya mendadak sakit karena bertemu dengan wanita yang dicintai Dean.


Tidak pernah mengatakan langsung siapa wanita yang bersama, tapi Isel tahu. Sejak hilangnya Blackat, Hairin orang yang selalu mendampingi Hairin.


"Siapa kamu?" tanya Hairin yang masih binggung.


Suara Bian terdengar kembali, Hairin langsung berjalan keluar meninggalkan Isel sendirian. Kaca balkon yang awal tenang langsung bergetar karena pukulan Isel, retakan terlihat sehingga pemandangan di luar tidak terlihat lagi.


"Kenapa aku merasa tersakiti? padahal aku tahu ini akan terjadi, tapi tetap nekat ingin memiliki. Resiko yang sudah aku tahu, namun dengan beraninya aku tetap maju." Teriakkan Isel terdengar, menggema di dalam ruangan yang langsung yg hancur berantakan.


Tatapan mata Isel merah, tidak ingin terima jika lelaki yang dicintainya mencintai wanita lain.


"Isel apa yang kamu lakukan?" Bian kaget melihat kondisi kamar.


Langkah Bian mundur saat Isel berbalik melemparkan garpu hingga menancap di atas dada Bian.


"Pergilah sebelum kamu mati ditangan aku!"

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2