SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PULANG


__ADS_3

Langkah kaki Isel dan Dean tiba di negaranya secara diam-diam tidak ada yang tahu kedatangan mereka.


Janji dua hari ternyata dua bulan dihabiskan untuk berkeliling beberapa negara berdua, menikmati meminta berdua yang seharusnya mereka lakukan setelah menikah.


"Welcome tanah kelahiran, Abi lahir di sini tidak?"


"Tidak, aku lahir di rumah sakit setelah Mommy pendarahan sehingga dipaksa lahir sebelum waktunya karena Twins beda jenis kelamin meminta lahir bersama." Dean tertawa rindu dengan Andra Andri dan Ura yang sudah aktif dan sangat pintar mengoceh.


Si kecil yaang jalan dua tahun, tidak memiliki adik dan teman sehingga mengacau dua saudara lelakinya.


"Kira-kira jam segini rumah sepi tidak?" Isel masuk mobil bersama suaminya yang ingin menculik Ura, putri selebriti terkenal.


"Jangan macam-macam, Kak Angga bisa mengamuk jika Ura tidak terpantau." Dean meminta supir membawa keduanya pulang.


Sampai di rumah, Isel dan Dean turun di gerbang, tidak mengizinkan mobil umum masuk.


"Pak nanti tolong kopernya dibawa ke rumah Dimas Dirgantara," pinta Dean mengejek Daddy-nya.


"Tuan Dean, butuh kendaraan tidak untuk masuk ke dalam sana?" Penjaga menawarkan sepeda listrik yang tidak terpakai.


"Terima kasih Pak, tahu saja kita lelah." Dean mengambil sepeda, Isel langsung duduk memeluk pinggang suaminya jalan masuk ke dalam perumahan.


Dari jauh terlihat setiap rumah sepi karena ada yang bekerja dan anak-anak yang lain juga sibuk sekolah.


Kening Isel berkerut melihat anak kecil keluar dari rumahnya membawa barang berharga Isel yang dia kumpulkan sejak lama.


"Hei pencuri, kamu mencuri," tuduh Isel menatap Ura yang menggendong susah payah dua batang emas.


"Ini unya Ura," balas si kecil yang lanjut jalan.


"Enak saja, kembalikan." Isel mengambil dua batang emasnya.


Kedua tanga Ura terlipat di dada menantang Isel yang mengakui miliknya. Ura tidak merasa salah karena mengambil emas dari rumah kakeknya.


"Ini emas Isel, dasar tuyul kecil pencuri di siang bolong." Isel meminta Ura pulang minum susu daripada mencuri.


"Ura dak curi, itu lumah Pipi. Asar nenek eot," balas Aura yang membalas Isel dengan beraninya.


Dean yang melihat hanya menonton saja merasa lucu melihat Aura yang melawa untuk mempertahankan miliknya.


Isel tidak salah karena memang miliknya, Ura juga tidak salah karena mengambil dari rumah Pipinya.

__ADS_1


"Kamu mengatai aku nenek peot, kamu Ura pencuri."


"Dak, Ura anya ambil, Kekek kata Ura oleh embil cemua." Kepala Aura didorong oleh Isel sampai terduduk di rerumputan.


Dean sempat panik berpikir akan menangis ternyata salah besar, Aura mengigit kaki Isel sangat kuat memukulnya mencakar tangan Isel.


Suara tangisan terdengar, bukan Ura yang menangis, tetapi Isel karena gigitan Ura sangat kuat.


"Ura jangan." Dean menggendong si kecil yang nampak emosi.


Teriakan Ura terdengar, mengoceh dengan bahasanya mengatai Isel jelek. Ura tidak tahu siapa apa Isel karena jarang bertemu, tidak tahu juga siapa pemilik asli dari emas yang dia ambil.


Isel memeluk Dean erat mengadu karena Ura dan Aira sama saja suka mengambil miliknya. Kaki Isel sampai berdenyut sakit.


"Dean, kapan kalian pulang?" Angga berlari dari rumahnya merasa sangat bahagia melihat adiknya pulang setela sekian lama.


Dean memeluk Angga erat, meminta maaf karena pulang tidak memberikan kabar terlebih dahulu sengaja ingin memberikan kejutan.


"Isel, apa kabar/?" Angga merentangkan tangannya menyambut Isel yang masih menangis.


"Kak Black, melihat Aura mencuri emas Isel padahal aku juga mau." Bibir Isel monyong tidak suka dengan Ura.


Teriakan Isel terdengar, Angga dan Dean hanya bisa tersenyum saling rangkul berjalan masuk ke rumah.


"Kak Angga tidak shooting?"


"Jadwal shooting tidak terlalu padat lagi karena aku lebih fokus di perusahaan, hari ini kebetulan tidak pergi karena Aira kurang sehat."


Pertengkaran Ura dan Isel terdengar di dalam kamar. Isel marah besar karena ranjang emasnya sudah hilang. Setengah dari ranjang habis terkikis.


"Ura, balikan semua emas Isel." Teriakkan Isel terdengar berlari mengejar Ura yang sudah kabur membawa dua batang emas.


Sura Ura terjatuh terdengar tanpa sengaja mengenai remote televisi yang menunjukkan papanya sedang di wawancara.


"Wow Pipi URa, iat nenek eot itu Pipi Ura." Tangan Aura menunjuk kearah layar televisi.


"Siapa wanita di samping Pipi kamu, apa Pipi kamu punya wanita baru?"


"Iya, tantik cekali, Mimi Ura jelek." Tawa Aura terdengar mengejek Miminya padahal wanita yang di samping Pipinya juga Miminya.


Tawa Isel juga terdengar merasa lucu melihat Aura yang tidak mengenali Miminya sendiri hanya karena Aira mengunakan hiasan wajah yang tebal.

__ADS_1


"Ura tidak kenal siapa wanita itu?"


"Acar Pipi," balas Aura yang mengagumi Pipinya.


Senyuman Isel terlihat, anak perempuan memang sangat dekat dengan sosok Papanya, tidak terkecuali Aura yang menjadi penggemar Pipinya meskipun dirinya tidak bisa muncul ke publik demi keamanan Aura sendiri.


"Balikan emas aku Ura," pinta Isel.


Suara kepala Isel dipukul menggunakan emas terdengar kuat membuat Isel hampir jatuh pingsan. Dia baru sadar betapa kuatnya tenaga Ura yang bisa mengangkat emas batangan.


Senyuamn Ura terlihat, membawa kembali emasnya menggunakan tas untuk pulang ke rumah, meninggalkan Isel yang mengeluh kesakitan karena mendapatkan pukulan.


"Isel, sudah cukup sayang, Aura bukan lawan kamu." Dean geleng-geleng melihat istrinya berlari kencang keluar rumah menuju kediaman Aira karen Ura kabur pulang ke rumah.


Teriakan Isel terdengar menggema, Ai yang kurang sehat merasa pusing mendengar teriakan Ura.


"Ura, kamu bisa diam tidak?" teriakan Aira terdengar merasa pusing punya anak satu, tapi sangat berisik tidak ada lawan.


"Nek eot ini kejal-kejal Ura erus." Kemerahan Aura terdengar membawa sapu memukuli Isel yang mengacak-acak kamarnya.


Tangisan Ura terdengar melihat Isel ingin mengambil kembali emas yang sudah susah payah dia angkut sapu-persatu demi bisa membuat ruamh mini untuk kucingnya.


"Ada apa?" Ai kaget melihat Isel ada di kamar putrinya.


"Lihat anak kamu mencuri," ujar Isel yang melihat Ura membuat rumah kucing dari emas.


"Penerus kamu itu setengah gila membuat rumah kucing." Ai memijit pelipisnya yang terasa sakit.


"Lagi sakit Kak, kenapa pucat sekali?" Isel membiarkan emasnya diambil oleh Aura, melihat Aira yang nampak lemas.


Ai meminta Ura diam dan bermain sendiri dengan kucingnya, tidak boleh teriak karena Miminya lagi sakit kepala.


Kepala Ura mengangguk, belum bergerak kaki Aira putrinya sudah teriak kuat karena kucingnya hilang.


"Elang, Eling di mana ucing Ura?"


"Ittuuu ... makanya melihat menggunakan mata bukan mulut yang teriak dulu, tapi matanya terpejam!" Aira ingin memukul putrinya yang mulutnya sangat besar, suka berteriak seperti manusia sinting.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2