
Tangisan Mira dan Mora terdengar merengek-rengek ingin ikut pergi ke pelabuhan padahal di sana sangat bahaya.
"Kalian berdua awas saja jika sampai luka, tanggung jawab sendiri." Shin menatap kedua putrinya yang duduk santai siap untuk pergi.
Tarikan napas Tika dalam, memberitahu kondisi di pelabuhan. Mira dan Mora tidak boleh bergerak tanpa instruksi.
"Siapa yang memimpin penangkapan mereka?" tanya Mira melihat Mamanya.
"Mama, tapi kalian berdua tidak boleh ...."
"Iya Ma, kita akan kerja dalam tim. Keselamatan tim diutamakan, sebelum melindungi siapapun harus menjamin jika keselamatan diri sendiri juga terjaga." Mimor menjawab secara bersamaan, saling genggam tangan untuk bersatu.
"Kita harus kompak Mor, pasti menyenangkan sekali." Ekpresi Mira tidak sabar lagi.
"Tidak ada yang menyenangkan dalam pertarungan, pastinya akan ada yang terluka." Shin menatap tajam menujukkan posisi orang yang berjaga.
Kepala Mimor mengangguk, mengunakan earphone yang digunakan oleh Shin dan Tika sejak mereka remaja.
Tatapan Shin penuh kasih sayang, berharap keduanya bisa mengikuti jejak mereka saling melindungi.
"Ini punya Mama sama Mami, sekarang kita boleh memakainya." Mora tersenyum bahagia karena dia sangat ingin menggunakan alat komunikasi Maminya.
"Mami memberikannya karena sudah jelek, buat Mimor saja," ujar Shin yang fokus kembali ke depan.
Kecupan di pipinya terasa, Mora mengecup pipi Maminya, sedangkan Mira pipi Mamanya. Kedua tampak bahagia karena sudah bisa merasakan moments menegangkan.
Mobil berhenti, Shin langsung keluar begitu dengan Tika. Mimor saling pandang karena jarak pelabuhan masih cukup jauh.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Mira.
Kepala Mora menggeleng, mengikuti dua wanita yang sudah melangkah lebih dulu di dalam kegelapan.
Senyuman Mimor terlihat karena bisa melihat di dalam kegelapan, dari kejauhan sudah bisa melihat beberapa orang berjaga di pelabuhan.
"Maju, lumpuhkan mereka semua," perintah Tika kepada Mimor yang langsung berjalan cepat.
Shin dan Tika ada di belakang melihat dua gadis remaja menjatuhkan penjaga dengan sangat mudah, tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
Jantung Mira berdegup kencang saat ada yang datang mencoba menyerang Mora, tapi gerakan Shin jauh lebih cepat mematahkan leher sampai pingsan.
"Kira-kira dia mati tidak?" tanya Mora kepada Mira.
Tangan Tika ada di bibirnya, melarang ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Hidup atau mati sudah menjadi resiko bekerja untuk kejahatan.
Dua pekerjaan yang sudah siap mati, orang yang menjaga keamanan dan orang melakukan kejahatan.
Empat orang semakin mendekati pelabuhan, tangan Tika terangkat kembali karena melihat banyak sekali orang yang berdiri di pelabuhan.
Mata Shin berkedip saat Ren muncul, kepala Ren mengangguk bergabung dengan tim Tika.
Tangan Mira melambai ke arah Ren, pukulan mendarat di punggungnya. Mata Tika melotot hampir keluar, Mira masih ada waktu untuk menyapa.
"Apa yang kamu lihat di sini?" Tanya Shin.
Ren menjelaskan jika ada banyak polisi yang berbintang, orang-orang yang biasa menyeludupkan banyak barang ilegal.
Tuan Kim yang memimpin pergerakan, salah satunya menahan Laura. Dia kunci dari aset yang dimiliki oleh Mami Rose.
Ada kekayaan milik mereka di pulau terpencil, dan sampai kematian Mami Rose tutup mulut, begitupun dengan Laura yang tidak mundur dari penyiksaan.
"Mereka pasti akan pergi ke pulau." Ren menujuk ke arah kapal yang menepi.
Senyuman Shin terlihat, sudah lama dirinya tidak melihat kapal selam. Tidak akan ada yang meninggalkan pelabuhan.
Tika melemparkan sesuatu, hanya melalui remote kecil Tika sudah bisa memasukkan benda kecil ke dalam kapal.
Terdengar teriakkan Laura yang mendapatkan pukulan, Kim menendang wajahnya dan akan melenyapkan nyawa Laura.
"Kalian pikir aku bodoh, setelah kalian mendapatkannya maka aku tetap akan mati. Bawa Brayen ke hadapanku, biarkan aku membunuhnya, maka kalian bisa mendapatkan apa yang diinginkan, dan silahkan bunuh aku." Laura tidak akan mati, sebelum suaminya tercinta mati lebih dulu.
Selama hidup Laura memang tidak menyukai Maminya, tapi bukan berarti mengiginkan kematian wanita yang sudah melahirkannya.
"Kamu cemburu karena Brayen menyanjung Putrinya Gemal, wanita bernama Isel pasti istimewa sekali baginya." Tawa Kim terdengar sangat penasaran jika Gemal kehilangan putri satu-satunya.
"Cemburu ... hal yang wajar jika seorang istri cemburu saat suami membandingkan dengan sahabat sendiri, tapi aku tahu jika Isel tidak akan berkhianat." Senyuman Laura terlihat, dia tahu sahabatnya tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
Brayen tidak mungkin mampu membawa Isel, dia hanya membahayakan nyawanya sendiri berurusan dengan Isel.
Hubungan Brayen hanya hitungan tahun, tapi hubungan Laura dan Isel sejak mereka kecil. Banyak hal yang dilakukan bersama-sama.
"Sel, Wen, Vio, aku ada di sini, di depan bajingan yang ingin merampas pulau kita. Jika aku mati, kamu harus melawan mereka bertiga." Mata Laura berkaca-kaca memastikan Kim akan hancur ditangan tiga sahabatnya.
Shin dan Tika yang mendengar merasa terharu, tidak heran sejak kecil dunia Isel begitu menyenangkan, dia memiliki banyak teman yang menghargai perbedaan, membuat semuanya menjadi satu kesamaan.
"Kamu tidak akan mati Laura, mungkin saat ini hati kamu sedang hancur, tapi keyakinan kamu masih kuat." Tika menatap Shin yang mengeluarkan bola kecil.
"Hal yang paling menyakitkan, jika suami membandingkan. Aku bahkan tidak terima saat Juna memuji kecantikan Mora, hati terluka jika lelaki yang dicintai lebih mempedulikan wanita lain meksipun putrinya sendiri." Lemparan Shin kuat ke arah air membuat ledakan besar.
Ada banyak penjaga yang sudah berhamburan ke arah pantai, Tika meminta Ren masuk kapal karena Laura akan dipindahkan ke kapal selam.
Mimor harus melumpuhkan semua orang yang ada di kapal, dan menghacurkan kapal selam agar tidak melarikan diri.
"Bagaimana dengan Mama?" Mira memegang baju Mamanya karena terlalu banyak jika melawan bersama.
"Lakukan saja perintah, sebentar lagi kepolisian datang. Ada Papa dan kakek, jangan sampai kalian tertangkap." Tika berjalan maju bersama Shin untuk menghadapi berdua.
Mimor melangkah ke arah kapal, melumpuhkan siapapun yang mencoba menghalangi Ren untuk masuk.
"Gila, dua anak kembar ini hebat sekali." Ren berhasil masuk melihat Laura sudah terikat dengan bom.
Mimor melihat Kapal selam mencoba menjauh menggunakan kapal selam. Tuan Kim juga ada di sana untuk menghindari pengejaran.
"Tidak akan aku biarkan kamu lolos." Mira mengambil senjata dari penjaga yang sudah terjatuh.
Senjata di arahkan ke kapal, Laura menahan Mira melepaskan tembakan. Jika dia menebak, bom yang ada di tubuhnya akan meledak.
"Mir, lihat itu." Mora berlari ke arah jet ski, langsung menghidupkan mengeluarkan dari kapal.
"Bocah kembar, hati-hati mereka bersenjata," ucap Ren yang melempar senjata miliknya.
"Kita bukan bocah, kita sudah besar. Tidak lihat sudah ada body Seksi ini." Kemarahan Mira terdengar, mengibas rambutnya langsung duduk di belakang.
"Mimor, ternyata dia si kembar beda rahim yang selalu Isel bicarakan." Senyuman Laura terlihat menatap jetski sudah turun ke air.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira