
Kesibukan Isel padat karena mengurus ketiga anaknya, tapi selalu happy karena didampingi oleh suami, dan kedua orangtuanya.
Peran Mommy Anggun juga sangat besar, bahkan rela ikut bergadang demi giliran menjaga cucunya.
"Good morning anak kesayangan Umi," sapa Isel menatap kedua putrinya sudah mandi.
"Umi, tidak mau sekolah," teriakan Ura terdengar yang masih bermalas-malasan bersama Abinya.
"Tidak usah sekolah Ura, kamu sudah pintar."
"Terima kasih Umi," jawab Ura yang memeluk Abi Dean lanjut tidur.
Mata Dean terbuka, meminta Ura bangun karena dia harus pergi sekolah. Meksipun baru berusia dua tahun lebih Ura sudah disekolahkan.
"Sayang, ayo sekolah. Abi antar ke sekolah, sebentar lagi telat." Dean bangun menggedong Ura untuk masuk ke kamar mandi.
"Kata Umi tidak sekolah tidak apa Bi, Ura capek sekolah. Di cana cuman gambal-gambal doang, panjat-panjat." Ura protes diminta sekolah karena dia bisa menggambar dinding rumah, bisa ikut Mimor panjat pohon.
Suara teriakkan Aira terdengar, meminta Ura pulang berminggu-minggu tinggal bersama Isel dan Dean.
"Kenapa teriak-teriak Ai." Dean menatap Aira yang sudah rapi ingin mengantar Ura sekolah.
Tatapan mata Ura tajam, berjalan pelan menggulung bajunya. Menolak untuk pergi sekolah karena masih ingin tidur.
"Gila perempuan satu ini, tidak ingat pulang lagi. Tidak kasihan sama Abi Umi yang sibuk mengurus bayi, ditambah lagi kamu."
"Ada banyak yang jaga Twins di sini, kerjaan Umi hanya pompa ASI, sedangkan Abi gendong bentar."
"Ada jawaban kamu, cepat pulang. Mimi tidak ingin melihat kamu menginap lagi." Telinga Ura ditarik paksa, sedangkan Ura sudah berguling-guling sampai ke depan pintu karena mengamuk.
Mommy Anggun keluar melihat cucunya sudah jadi bola yang menggelinding tidak ingin dipaksa pulang.
Dean meminta Aira membiarkan Ura, dia masih kecil tidak diwajibkan melakukan apa yang Aira inginkan.
Jika ingin sekolah maka pasti pergi, jika bosan maka biarkan saja karena anak kecil memiliki batas. Apalagi seusia Ura yang ingin bebas.
"Biarkan dia di sini Aira, lagian banyak orang di sini. Bahkan ada lima maid yang berjaga." Mommy meminta Ura bangun.
"Ura sudah lama tidak pulang Mommy, dia ini anaknya aku dan Angga atau anaknya Dean dan Isel." Ai pusing melihat putrinya tidak pulang karena betah bersama Isel yang memiliki banyak obrolan bersama Ura, beda dengan Ai yang selalu bertengkar.
Teriakkan Ura terdengar melihat Pipinya pergi mengeluarkan mobil, lari kencang tanpa baju mengejar mobil yang tepaksa berhenti karena Ura sudah menangis histeris.
__ADS_1
"Kenapa Sayang?" Angga keluar dari mobil, berlari kecil ke arah Putrinya.
"Pipi mau ke mana?"
"Minta Uncle yang jaga gerbang cuci mobil, kenapa harus menangis?" Angga menggedong Putrinya untuk pulang ke rumah.
Senyuman Dean terlihat, meminta Aira tidak terlalu keras kepada Ura. Dia mengerti siapa orang tua kandungnya, tapi dia hanya suka mengacau saja.
"Kamu juga pernah seusia Ura, nakalnya juga sama. Apa yang dilihat sekarang, cerminan diri sendiri." Tawa Dean terdengar karena Aira sudah merasakan menjadi orang tua yang memiliki banyak anak.
"Aku tidak separah Ura," ucap Aira tidak mengakui.
"Tanya sama Kak Juan, kamu yang salah kita yang dihukum. Masih tidak percaya tanya Kak Shin Tika, jika mereka nakal kamu ikut-ikutan, tapi pulangnya nangis, pasti aku dan Juan yang giliran mengendong kamu." Dean tertawa lucu jika teringat masa kecil.
Melihat anak-anak berlarian terasa mengulangi memori lama, seperti sebuah cerita yang terulang kembali.
Dulu tidak banyak anak-anak, sekarang berkali-kali lipat. Sadar diri jika dulu menguji kesabaran orang tua, sehingga harus lebih sabar menghadapi anak-anak.
"Aku hanya tidak enak menyusahkan kamu dan Isel, tahu sendiri nakalnya Ura."
"Kamu sayang tidak kepada Era, jika dia nakal dan ingin tinggal bersama kamu, apa keberatan?"
"Tidak mungkin Dean, Era juga putriku."
"Kalian juga memiliki anak."
Senyuman Dean terlihat, anak-anaknya masih belum mengerti, belum bisa mengobrol, berbeda dengan Ura yang sangat cerewet bisa menghilangkan lelah aktivitas.
"Bi, mana Ura?" Isel teriak-teriak mencari Ura yang menghilang.
"Pulang ke rumah sama Papanya," jawab Dean menatap istrinya membawakan sarapan.
"Kak Ai minta Ura sarapan dulu, makanan ini harus habis." Isel memberikan mangkok makanan berbentuk wajah kucing, juga botol bermotif kucing yang berisikan susu.
Aira mengangguk pamit pulang, menguapkan terima kasih karena Umi dan Abi Ura memang paling bisa memahami anak-anak.
Tangan Dean merangkul istrinya untuk masuk ke dalam rumah, bisa menikmati sarapan dengan tenang karena anak-anak sudah mandi dan minum susu.
"Sebenarnya siapa yang punya anak, kalian berdua hanya membuatnya saja." Mama Diana menatap kesal adik dan Putrinya yang makan dengan tenang.
"Nanti Isel ke dalam Ma," ucap Isel sambil nyengir.
__ADS_1
"Lanjut makan saja, Mama bisa mengurus Delvin, Ira dan Ara." Mama Diana memanggil suaminya, melarang bayi terkena angin.
"Kenapa harus teriak-teriak Diana?"
"Nanti masuk angin," tegur Mama Di.
"Hanya berjemur sedikit, sadar Nenek cerewet," gumam Gemal pelan tidak ingin istrinya mengamuk.
Daddy tersenyum melihat Diana dan Gemal yang masih seperti dulu selalu debat seperti kucing dan anjing.
Keduanya tidak bisa akur, hanya di kamar saja yang kompak, lainnya selalu adu taring. Satunya emosian, dan satunya suka memancing emosi.
"Kenapa Gem?"
"Tidak tahu Nenek satu itu marah-marah, apa cucu cantiknya ini bakal diculik ****** beliung?"
Pukulan Daddy mendarat karena Gemal tidak pernah bisa serius, dia membawa anak-anak berjemur di jam sembilan pagi, seharusnya jam tujuh.
"Lagian kamu berjemur di mana Gemal?"
"Di sana, meksipun tidak ada matahari."
Kepala Daddy geleng-geleng karena menantunya memang tidak normal, bagaimana tidak istrinya emosian.
Suara Dean meminta Daddy-nya sarapan terdengar, kepala Dimas mengangguk melihat makanannya sudah siap.
"Dean, kamu habiskan potongan daging ini, soalnya gigi Daddy tidak kuat lagi." Dimas menyerahkan makanannya.
Tanpa jawaban, Dean mengambil potongan daging, memotongnya kecil-kecil sekali agar tidak sulit mengunyah.
"Jika Daddy malas memotong berikan kepada Dean, jangan berhenti makan." Daging dikembalikan ke dalam piring.
"Kamu tahu Daddy sudah tua, tidak tahu sampai kapan hidup."
"Jangan bicara seperti itu Kek, Isel tidak suka mendengarnya." Mata Isel berkaca-kaca karena saat kecil kakeknya yang memotong daging agar Isel tidak kesulitan.
"Daddy, Dean akan menjadi tangan dan kaki Daddy, jangan pernah ragu meminta apapun." Usapan tangan Dean sangat lembut.
Suara tangisan Isel terdengar, menghentikan makannya karena tidak suka mendengar pembicaraan Dean dan Kakeknya.
Tawa Dimas dan Dean terdengar, melihat Isel pergi sambil menangis sangat mirip dengan Ura yang hobi menangis sambil pergi.
__ADS_1
***
Follow Ig Vhiaazaira