
Mobil yang Altha kendarai tiba di villa, sudah lama tidak merasakan ketenangan alam. Apalagi udaranya yang sejuk.
"Villa nomor berapa Alt?"
"Ikut aku." Altha berjalan lebih dulu, melihat dari kejauhan ada banyak orang luar yang sedang bersantai di Villa sambil bersenda gurau.
Hati Anggun sedih melihat Shena sedang tertawa bahagia bersama keluarga kecilnya, jika sampai Shena memang membuang Blackat sungguh tidak memiliki hati.
"Kalian tunggu di villa ini, aku akan membawa Shena menemui kita." Aliya berjalan ke arah segerombolan orang yang sedang menikmati makanan.
Dari kejauhan Shena melihat Aliya, tidak ada yang berubah dari wajah Al. Dia masih secantik dulu, dan Shena tahu jika Al sudah mengambil posisi Citra.
Wanita nakal yang dulunya selalu bersama Anggun menjadi Nyonya Altha, kepala Shena menoleh ke arah lain berpura-pura tidak mengenal Aliya.
"Kak Shena, apa kabar Kak?" Al memeluk Shena membuat banyak orang kaget termasuk suami Shena.
Al membisikkan sesuatu kepada Shena untuk mengikutinya jika tidak akan tahu akibatnya jika Aliya membuat masalah.
Tangan Shena tergempal, Aliya menyapa keluarga Shena. Dengan terpaksa Shena memperkenalkan Aliya sebagai adik temannya.
"Bukannya kamu seorang pengusaha?"
"Ya benar sekali, selamat datang di negara ini, dan happy holiday." Al pamit untuk menuju villa sebelah karena keluarga Aliya juga sedang berlibur.
"Sayang, aku menyapa keluarga Aliya dulu. Hanya sebentar." Shena mengikuti Aliya setelah diizinkan oleh suaminya.
Al merangkul Shena yang awet muda, juga berpenampilan seksi. Tidak Aliya sangka mereka akan bertemu kembali.
Tangan Aliya langsung ditepis kasar, Shena mengeluarkan umpatan karena Aliya berani mengancamnya.
"Apa yang kalian inginkan? jangan ganggu hidupku karena masalah kita sudah usai." Kemarahan Shena terlihat menatap Altha dan Dimas yang melihat ke arahnya.
"Kamu pikir kita sudi melihat kamu, demi apapun najis." Dimas meludah duduk santai di kursi.
Anggun berdiri dari duduknya, tidak ada yang ingin membuat keributan. Anggun ingin bicara baik-baik kepada Shena berharap dia jujur.
Aliya menghidupkan rekaman, meminta Shena tidak memotong sebelum mendengarkan sampai akhir.
__ADS_1
"Kamu mengenali Angga, dia anak yang kamu buang dengan memberikan sejumlah uang?" Al menunjukkan foto Ayah angkat Blackat.
"Siapa Angga? aku tidak mengenalinya." Shena mengerutkan keningnya.
Anggun menunjukkan foto Blackat, hal yang mustahil Shena tidak mengenalinya karena Black sangat terkenal.
"Bukannya dia Blackat? dia sudah meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu," ucap Shena tidak memahami apapun yang dituduhkan kepadanya.
Aliya sudah bicara keras, memaksa Shena untuk mengatakan kebenaran. Hidupnya tidak akan terusik karena yang dibutuhkan hanyalah kebenaran.
Altha tahu jika Shena tidak bisa diintrogasi, dia sangat tenang dalam menghadapi apapun. Sikapnya yang santai membuat siapapun yang bertanya akan kehabisan kata-kata.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan? aku tidak mengerti. Aku pergi sekarang, jangan pernah temui aku." Senyuman sinis Shena terlihat, meremehkan Aliya yang kehabisan kata-kata.
Dengan senyuman manis dan lambaian tangan, Shena melangkah ingin pergi tanpa memberikan jawaban apapun.
Langkah Shena terhenti, melihat empat orang yang sudah berdiri dengan tatapan tajam. Ada banyak pertanyaan yang sebenarnya jawaban akan menyakitkan.
"Shena, aparat yang berkhianat. Bagaimana jadinya jika pengkhianatan di masa lalu kita publikasi, pasti akan ada perceraian. Untuk membuktikan siapa kamu bukan hal yang sulit bagiku." Dean berdiri di dekat wanita yang seumuran Mommynya namun berpenampilan sangat seksi.
"Siapa kamu? anak muda kurang ajar,"
"Karena aku kurang ajar, lebih jelasnya lagi tutup mulut kamu dan tepis semua tuduhan sampai DNA keluar membuktikan jika kamu Ibu yang membuang anak. Sudah tahu hukumannya apa? aku rasa tahu karena kamu mantan polisi." Tepuk tangan Dean terdengar, mempersilahkan untuk pergi karena dia tidak ingin mendengar suara ibu yang kejam.
Kedua tangan Shena tergempal, tangan ingin sekali menampar Dean, namun mencoba menahan diri.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Shena pelan.
"Kenapa kamu membuang Angga? dia darah daging kamu." Juan berjalan mendekat berharap jawaban Shena berbeda dari yang mereka pikirkan.
"Aku membencinya," jawab Shena singkat.
Dia juga tahu setelah kandungan lima bulan, bekali-kali ingin digugurkan namun tidak berhasil. Bahkan nyawa Shena hampir melayang karena berniat melenyapkan bayi sampai dalam kandungannya.
Karena ketahuan hamil, Shena diusir dan menjadi simpanan demi bisa melenyapkan bayi yang dia kandung.
"Sejak awal aku hanya menganggap dia benalu, sampah dan penghancur hidupku!"
__ADS_1
Suara tamparan Anggun kuat, hadirnya dia juga karena kesalahan Shena sendiri yang menjebak rekan setimnya hanya untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
"Apa salah dia?"
"Salahnya dia hidup, saat digugurkan seharusnya dia mati,"
"Kamu tidak merasa kasihan bicara seperti itu Shena?" Mata Anggun berkaca-kaca.
Kepala Shena menggeleng, dia tidak punya pilihan. Menghidupinya hanya akan menjadi beban, menyerahkan kepada Ayahnya juga tidak mungkin karena dia tidak punya Ayah.
Angga hanya kesalahan yang tidak Shena inginkan, sehebat apapun dia, hidup ataupun mati tidak akan pernah mengubah apapun. Di mata Shena Angga bukan anaknya, dia hanya menumpang lahir.
"Aku berharap dia mati sejak kecil sehingga tidak terlalu menderita, dan aku memberikannya kepada orang lain agar dia tahu dunia ini kejam, dan itu hukuman karena dia memaksa untuk tetap lahir." Tangan Shena menujuk wajah Anggun untuk berhenti bertanya jika tidak ingin rumah tangganya berantakan.
Tidak ada yang perlu mereka ketahui, Angga sudah mati dua tahun yang lalu. Shena merasa lega karena sampah yang menyusahkan selama sembilan bulan akhirnya mati.
Tubuh Dimas lemas mendengar ucapan Shena, Altha juga merasakan dadanya sesak karena Shena sangat kejam.
"Siapa Ayahnya?" Dean menyembunyikan tangannya yang gemetaran.
"Jangan bertanya, kamu akan menghacurkan rumah tangga yang harmonis,"
"Keluarga harmonis di atas luka anak yang tidak bersalah, kamu akan merasakan sakitnya tidak diinginkan oleh seorang anak. Suatu hari kamu akan mengingat dia dan menyesali ucapan hari ini." Tangan Dean tergempal merasa sangat emosi.
"Dia anaknya Dimas dirgantara, Dia anak suami kamu Anggun. Bagaimana rasanya melihat lelaki yang kamu cintai memiliki anak haram dan kotor? dan Dimas tidak pernah mengetahui soal anak itu." Tawa Shena terdengar berharap Anggun tidak menjanda karena Angga yang pembawa sial.
Senyuman Anggun terlihat, mengucapkan terima kasih karena Shena sudah menjawab rasa penasaran mereka. Angga bukan anak haram, dia anak yang kuat dan layak dicintai sehingga ada jutaan manusia yang mencintainya.
"Apa Angga tahu soal kamu dan aku?" Dimas angkat bicara berusaha untuk tenang di depan Putranya.
"Ya, dua tahun yang lalu sebelum dia mati datang menemui aku, dan langsung aku usir karena dia sampah." Shena langsung melangkah pergi meninggalkan semua orang yang terdiam dengan keterkejutan masing-masing.
"Bukan aku yang berkorban, tapi Kak Black. Dia melindungi aku dari rasa sakit patah hati juga sakitnya mengetahui kebenaran sehingga menghilang solusi terbaik." Senyuman kecil Dean terlihat, merasakan dadanya sesak.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1