
Setulus hatinya Angga berniat membantu Wenda, dia akan membiayai rumah sakit dan akan menunggu kapanpun siap untuk kembali.
Seberat dan sebesar apapun ujian hidup, Wenda haru kuat dan mengambil hikmah dari semuanya sehingga dirinya mampu bertahan.
"Semangat Wenda cepat pulih dan beraktivitas kembali, kita semua menanti kamu." Ai mengusap punggung menatap Wenda dengan sangat puas.
"Terima kasih Aira, jika aku ada salah maafkan aku, terima kasih juga Black, terima kasih karena kalian sudah datang daan mensupport." Air matta Wenda menetes, tidak kuasa menahan air matanya.
Kepala Angga mengangguk, pamit keluar untuk menemui dokter bersama dengan Gilang.
"Sayang kamu tunggu di sini," pinta Angga kepada istrinya yang langsung mengangguk pelan.
Lama Aira daan Wenda terdiam, kepala Wenda tertunduk dalam penuh rasa penyesalan.
"Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui soal Angga, jadi berhentilah berlaga kamu hebat hanya karena mengenal dia lebih dulu." Ai menepuk telapak tangan Wenda yang terasa dingin.
Selama berkarir Ai jarang mengusik siapapun karena banyak orang yang tahu siapa dirinya. Sejak awal berkarir Ai tidak memiliki bakat, tapi dirinya bertahan karena Blackat.
Jika Wenda mengangumi suaminya dapat Aira maklumi karena mereka publik figur, tapi Wenda sudah berbuat licik sejak hari ijab kabul dengan mengirim wanita hamil hanya untuk merusak nama baik Angga.
"Aku tidak akan menyerang jika kamu tidak berulah, jangan anggap remeh orang lain hanya karena mereka diam." Ai memberikan peringatan jika dirinya masih berbuat baik tidak melenyapkan Wenda karena menghargai kebaikan Wenda dahulu kepada suaminya.
"Aku minta maaf," pinta Wenda penuh penyesalan.
"Aku tidak suka memaafkan, semoga cepat sembuh. Kembalilah jika sudah siap, tapi ingat jangan mengusik rumah tangga kami. Aku bisa melenyapkan kamu dengaan sangat mudah," ancam Aira tanpa banyak basa-basi karena dirinya ingin tenang bersama suaminya.
Kepala Wenda menggeleng cepat, berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama karena sadar jika dirinya salah.
Aira melangkah keluar membiarkan Wenda sendiri dan menyelesaikan pembicaraan dengaan Angga karena sudah cukup dirinya menyakiti Wenda karena dia tidak mungkin berani berbuat lebih.
Penyelidikan yang Aira lakukan jika Wenda hanya wanita kelas tengah, dia menghilang dari entertainment karena hamil dan terpaksa menikah secara rahasia.
Tidak mungkin Aira merenggut seorang ibu dari anak yang bahkan sudah kehilangan sosok Ayah.
__ADS_1
Hanya beberapa saat Angga juga kembali ke mobil, mengkhawatirkan Aira yang pergi lebih dulu tanpa mengatakan apapun.
"Sayang, kenapa tiba-tiba kembali ke mobil?"
"Aira hanya ingin istirahat, jika masih ada perlu Aira bisa menunggu." Senyuman Ai terlihat membiarkan suaminya masuk mobil.
Tangan Angga menyentuh kening Aira, khawatir jika istrinya demam dan tidak sehat karena tidak banyak bicara.
"Aira baik-baik saja Ayang," ucap Ai menyakinkan.
"Kita pulang saja, kamu istirahat di rumah, jangan terlalu banyak pikiran apalagi terbebani." Tangan Angga menyentuh pipi istri yang sangat dicintainya.
Senyuman manis Aira terlihat, teringat kembali saat pertama mereka bertemu di rumah sakit.
Angga pasang badan untuk melindungi adiknya karena mereka tidak memiliki sosok Ayah. Meskipun Angga tahu Aira lahir dari keluarga berada tidak membuatnya takut sedikitpun.
"Dulu kita bertengkar di sana, sekarang sudah banyak perubahan." Ai menunjuk ke arah yang membuat Anga tertawa.
"Kamu waktu itu berpikir jika Anggrek laki-laki, tapi sangat terkejut jika dia seorang wanita." Tawa Angga lepas karena Ai sangat marah, merasa tipu.
"Sayang, kamu harus menggenggam tangan aku dengan erat, tidak peduli apapun ujian di masa depan mereka harus selalu bersama dalam suka maupun duka.
Kepala Aira mengangguk, tidak sadar air matanya menetes. Memeluk suaminya tidak ingin berpisah sedikitpun.
Tangan Angga mengusap punggung istrinya, merasa sangat bahagia bisa bersama Aira meskipun Angga tahu banyak resikonya mencintai wanita yang memiliki watak keras.
***
Suara langkah kaki Aira berlari terdengar memeluk suaminya yang baru pulang dari luar negeri.
"Kenapa kamu di bandara, sudah aku katakan cukup diam di rumah." Angga memeluk istrinya sangat erat karena sempat berpisah beberapa minggu karena urusan pekerjaan.
Beberapa wartawan berkerumun memotret kemesraan keduanya, berjalan saling menggenggam tangan.
__ADS_1
"Blackat, apa kalian akaan memiliki anak, bukannya pernikahan kalian sudah lebih satu tahun." Beberapa wartawan mempertanyakan rencana momongan yang menjadi harapan jutaan penggemar.
Langkah Aira terhenti, begitupun dengan Angga yang tidak nyaman dengan pertanyaan yang begitu menusuk hati keduanya.
Genggaman tangan Angga semakin erat, melangkah bersama istrinya masuk ke dalam mobil. Tidak ada senyuman sama sekali dari Angga hanya Aira yang masih nampak baik memberikan senyuman kecil.
Di dalam mobil air mata Aira menetes, bukan satu dua kali dipertanyakan soal kehamilannya.
Dibandingkan keluarga yaang lain, Aira yang paling lama memiliki anak karena hampir dua tahun menikah tidak memberikan hasil apapun.
"Sayang jangan menangis, usia pernikahan bukan ukuran kapan memiliki anak. Aku tidak suka mlihat kamu stres hanya karena pertanyaan orang soal anak." Angga mengusap air mata istrinya yang selalu sedih mengiginkan anak.
"Ai hanya sedih saja karena dulu Ai ingin menunda, ternyata selama ini ditundanya. Andri dan Andra saja hampir dua tahun, sedangkan kita belum ada tanda." Ai tertunduk merasa tidak sempurna sebagai seorang wanita.
Kepala Angga menggeleng, meminta Aira berhenti membandingkan dirinya dengan apapun. Angga tidak ingin hanya karena anak terjadi banyak perdebatan antara mereka.
Setiap rumah tangga mengiginkan keturunan, tapi semua memiliki jangka waktu, ada yang dapat cepat tanpa mereka harapkan namun ada juga yang membutuhkan waktu puluhan tahun.
"Ai, aku mencintai kamu tidak peduli soal anak. Kita menikah tujuan utamanya bukan anak, buah cinta hanya rezeki yang belum diberikan kepada kita." Mata Angga ikutan merah merasakan kesedihan karena selalu melihat istrinya bertanya-tanya kapan dirinya hamil.
Harapan besar Aira menjadi ujian di dalam rumah tangga mereka, Ai ingin menggendong bayinya sendiri.
"Sudah ya sayang, jangan memikirkan hal yang menyakiti kita, sementara kamu jauhi dulu media." Angga memeluk istrinya yang sesegukan menangis.
Pertanyaan soal anak kepada pasangan yang sudah bertahun menikah bukan hal yang pantas, tanpa banyak yang tahu disetiap sujud keduanya meminta diberikan kepercayaan, namun waktunya belum ada sehingga pertanyaan yang disangka dukungan membuat keduanya semakin terpuruk.
"Maafkan Ai yang belum bisa ...."
"Hentikan Aira, aku tidak ingin mendengarnya bagi aku kamu wanita paling sempurna yang aku miliki." Angga meminta sopir berhenti sebelum mereka masuk rumah.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1
***