
Senyuman Isel sangat lebar melihat Ai benar hamil, hatinya begitu gembira karena saudaranya akan segera menambah momongan.
"Cie Ura punya adek," ujar Isel yang menggoda Ura.
"Mana?"
"Nanti, tunggu sembilan bulan barulah Ura bisa bertemu adiknya Ura." Pelukan Isel erat kepada si kecil yang mimik wajahnya biasa saja.
Dokter memberitahukan jika kandungan Ai jalan delapan minggu, perut Ai juga sudah terlihat membesar seharusnya curiga sejak awal.
Aira sangat bahagia, tapi ada perasaan sedih melihat senyuman Isel karena adiknya yang sangat menantikan keturunan.
"Alhamdulillah, Kakak Black pasti senang sekali." Isel memeluk Ai memberikan selamat.
"Terima kasih Sel semoga cepat menular ke kamu." Ai menyentuh perut Isel agar segera memiliki baby.
"Isel belum boleh Kak, setidaknya dua tiga tahun lagi. Anak kak Ai juga anaknya Isel," ujar Isel yang tidak masalah belum hamil asalkan bisa menggendong baby.
Kepala Ai mengangguk meminta Isel jangan pernah pantang menyerah karena dirinya juga wanita istimewa yang sangat dicintai.
"Dok, tolong cek ipar saya juga," pinta Isel menatap Lea.
Perasaan Lea tidak enak karena dia tahu bagaimana perasaan Isel yang sempat gagal mempertahankan anaknya.
Pamer kehamilan di depan seseorang yang gagal sama saja tidak menjaga perasaan, sebagi sesama wanita Lea merasa sedih.
Jika ada di posisinya Isel mungkin sudah menangis bukan tersenyum, apalagi dengan vonis dokter.
"Kak Lea, apa yang dilakukan hanya duduk saja?"
"Nanti saja Sel, tunggu bersama Juan saja." Lea menolak untuk diperiksa.
"Kita sudah di depan dokter langsung, kenapa harus nanti? Kak Lea tidak enak kepada Isel?" tanpa diberitahukan Isel juga paham pikiran Lea daan Aira karena dirinya wanita yang sangat peka.
Cepat Lea menggelengkan kepalanya, tidak membenarkan ucapan Lea bergegas untuk diperiksa karena dirinya mengalami mual dan pusing di pagi hari.
Dokter meminta melakukan testpack terlebih dahulu untuk memastikan. Lea hanya bisa tarik napas panjang.
__ADS_1
"Bagaimana Dok?" Isel yang paling penasaran.
"Garis dua juga, ibu Lea juga hamil. Ayo tiduran di sini kita cek dulu, kira kira sudah berapa bulan telatnya?"
"Hanya bulan ini saja Dok," jawab Lea yang tidak yakin juga.
"Kamu punya rencana berhenti mengandung?" tanya dokter kandungan karena tahu jika Lea istri Juan.
"Ya, tapi suami tidak mengizinkan. Dia masih berharap memiliki seorang putri."
Kedua tangan Isel bertepuk saat tahu usia kandungan Lea masuk lima minggu, Juan berhasil membuat istrinya kebobolan demi seorang putri.
"Tahun ne anen anak ya Bun?"
"Iya, tahun ini kita panen anak karena ada dua bumil, bentar lagi Ura bukan cucu terakhir lagi, tapi menjadi kakak." Tangan Isel mengusap kepala Ura yang tidak senang sama sekali karena malas mendengar suara bayi.
Selesai pemeriksaan Aira memutuskan pulang karena badannya sakit semua, rencana makan juga dibatalkan.
Ai bukan sakit, tapi tidak tega melihat senyuman Isel yang begitu palsu. Meskipun mulut mengatakan tidak ingin, tapi ekspresinya tidak bisa bohong.
"Bun, Ura tidul baleng Bunda aja," pinta Ura yang menolak pulang ke rumahnya karena bersama Isel lebih menyenangkan.
"Maaf ya Sel, kamu pasti sedih bercampur bahagia, Kak Ai sedih memikirkan kamu dan Dean," gumam Aira yang mengusap air matanya.
Tepukan tangan Lea terasa, menyemangati Ai, berdoa yang terbaik bagi Isel dan Dean karena kesabarannya akan membuahkan hasil yang baik.
"Kita yang lelah menjadi orang tua diberikan kepercayan lagi, tapi pasangan yang menanti dan sudah siap diuji." Lea merangkul Ai berjalan pulang ke rumah Aira karena di rumah Lea sendirian.
Pintu rumah Isel tertutup, melihat punggung dua bumil yang berjalan masuk. Kepala Isel tertunduk, hatinya sangat bahagia namun tetap ada perasaan sedih karena dirinya harus menunggu lama.
"Bun, angan cedih."
"BUnda tidak sedih sayang, kamu lapar tidak? sekarang Bunda sudah bisa masak." Isel membuka lemari pendingin mengambil bahan makanan.
Beberapa maid mendekat, berniat membantu Isel masak, tapi ditolak karena Isel biasa melayani suaminya dengan masak sendiri.
"Ura, sini sayang. Bunda suap makan." Isel berteriak memanggil Aura yang tidak terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
Suara berisik terdengar di dalam kamar lama Isel, Ura sudah sibuk mengumpulkan emasnya.
"Habis emas bunda, Ura harus mencari sendiri jika menginginkan emas. Pipi Ura juga kaya raya" sindir Isel mulai kesal.
"Bunda, Ura asih ecil. Eyum oleh cali emas, ini gelatis halus di manaatkan." Ura tersenyum karena dia berencana menambah kucing lagi sehingga membutuhkan tempat baru.
Isel hanya bisa geleng-geleng, mulut Ura sangat pintar menjawab, dia memanfaatkan apa yang ada daripada tidak dirawat lagi.
Ura sibuk mengumpulkan emas, Isel menyuapinya makan agar tidak kelaparan. Isel tahu anak yang aktif sangat mudah lelah, tapi memaksa diri sehingga tubuhnya bisa tumbang.
"Enak, Ura cuka," ujar Ura yang sangat menikmati masakan Isel yang sungguh luar biasa rasanya.
"Kamu menyukainya?" hati Isel sangat bahagia karena si kecil suka masakannya.
Selesai memberi makan, Isel memberikan susu membuat mata Ura sayu mengantuk karena sedari pagi main, lanjut ikut ke rumah sakit.
"Sini gendong Bunda, kita pindah kamar Abi." Isel menidurkan Ura yang sudah tumbang setelah botol susunya kosong.
Tangan Isel mengusap kepala Ura, dirinya berharap segera memiliki anak sehingga tidak kesepian lagi.
"Ya allah Isel pasti egois sekali, diminta istirahat tapi berharap hamil. Isel tahu jika Kak Dean juga menantinya, dan merasa kecewa setelah kehilangan. Apa boleh kami memiliki anak lebih cepat, bisakah kita diberikan kepercayan uuntuk menjaadi orang tau?" Isel mengusap air matanya memutuskan untuk tidur siang bersama Ura.
Dari balik pintu, Diana mengusap air matanya karena Isel sangat ingin menjadi orang tua. Diana juga dulu ingin sekali menjaga anaknya bahkan rela mempertaruhkan nyawa, hingga hadir ketiga buah hatinya.
Perlahan Pintu ditutup, Di berjalan ke arah raung tamu melihat foto keluarganya saat baru bergabung bersama keluarga Dirgantara.
Terlihat Dean yang masih kecil dalam gendongan, tapi sekarang adiknya sudah tumbuh dewasa.
"Kenapa Di?" Daddy yang baru kembali bersama Mommy menatap Diana yang melihat potret masa mudanya.
Hanya kangen Dad, Diana merasa sedih melihat Isel dan Dean pulang dengan senyum kepalsuan. Dean juga bekerja dengan terpaksa, hatinya masih gelisah apalagi melihat rekan kerjanya membicarakan soal anak. Gagal apa memang sesakit itu?" tanya Di yang tertunduk sedih.
Senyuman Daddy terlihat, tidak ada yang bisa mengubah takdir. Apa yang terjadi mungkin yang terbaik, allah sedang mematangkan pikiran dan perasaan Isel dan Dean yang harus tahu arti berusaha.
"Anak yang baik, mereka yang hadir di dalam doa orangtuanya. Kegagalan mereka diganti dengan tunas yang sangat unggul." Mommy mengusap kepala Diana yang harus belajar masak dari Isel karena jauh lebih baik dari mamanya.
Bibir Diana cemberut, menolak masak, lebih suka langsung menikmati hidangan yang tersedia.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira