
Mata Black terbelalak dengan memperhatikan satu persatu lukisan, kisah Aira dan Anggrek yang selalu menghabiskan waktu bersama.
Ternyata Anggrek pernah bercerita tidak sengaja bertemu dengan seorang pria bersama Aira, tapi Ai tidak terlalu perduli.
Anggrek berkali-kali memperingatinya jika ada seorang pemuda dewasa seumuran kakaknya Ai selalu mendatanginya dan memanggil Lea. Anggrek mulai merasa risih karena adia ingin diperkenalkan dengan Aira.
Dikarena Aira cuek soal lelaki, Anggrek juga coba mengabaikan. Namun satu kebenaran yang mengejutkan Aira dan Anggrek bahwa saudara laki-laki Anggrek bukan Kakaknya.
Anggrek sangat sedih, tapi Aira selalu di sisinya dan coba menghibur. Mereka menemukan tempat sangat tenang yang menjadi tempat pelarian.
"Inilah awal konfliknya," ucap Ai menunjukkan gambar kepada Black.
Aira sedang pergi liburan ke luar negeri setelah pernikahan kakak laki-laki dan perempuannya. Mereka liburan ke negara lain, sedangkan Anggrek tidak memberikan kabar apapun.
"Saat kembali, aku mengirimkan pesan jika sudah pulang dan akan segera menemuinya karena membawa oleh-oleh." Aira tidak sabar lagi ingin bertemu, tidak bisa menunggu sampai mereka masuk sekolah.
Akhirnya Anggrek melakukan panggilan melarang Aira untuk datang ke gedung yang sudah mereka sepakati. Dia ingin Aira tidak datang karena dirinya juga ingin pulang.
"Kamu tidak datang hari itu?" Black menatap Aira yang melipat tanganya di dada.
"Tentu aku datang, jika Anggrek tidak ada di gedung maka aku akan mendatanginya ke rumahnya." Ai menghentikan ceritanya.
"Apa yang kamu lihat?"
Aira datang ke gedung, dan memang tidak menemukan Anggrek sama sekali. Hati Aira kecewa pada masa itu.
Suara tembakan terdengar dari gedung sebelah, Aira melihat seorang pemuda ambruk langsung bergegas berlari ke gedung depan.
"Ada beberapa pemuda lain salah satunya gilang, dia membawa kamu yang sudah berlumuran darah, tapi suara tembakan kembali terdengar." Ai menatap Blackat yang tidak mengingat siapa yang menolongnya.
"Apa ada orang dewasa yang mengecam para remaja itu?"
Kepala Aira mengangguk, dia hanya bisa melihat punggung saja. Wajah pria tersebut tertutup sehingga Ai tidak mengenalinya.
__ADS_1
Seluruh pemuda yang ada di sana bertekuk lutut, ada pembicara yang dibahas, namun Aira tidak menyimaknya.
Perasaan Aira takut saat itu, lalu ada seorang wanita yang dipukuli dan dia Anggrek, saat Aira tahu Anggrek juga tersakiti, dia ingin menolong, namun tangan Anggrek menahannya meminta Aira pergi.
"Anggrek sudah penuh darah, Aira yang tidak punya kemapuan apapun hanya bisa menuruti permintaan sahabatnya untuk tetap sembunyi.
"Beberapa pemuda membawa kamu ke rumah sakit, tubuh kamu penuh darah karena ditembak oleh pria bertopeng." Ai gemetaran sambil bersembunyi, dia belum pernah melihat penembakan secara langsung juga pembunuhan.
"Kamu pasti trauma sekali, maaf karena sudah berpikir buruk soal kamu." Black melihat Aira yang mengusap matanya yang merah.
"Lea juga datang hari itu, dia yang membawa Anggrek ke rumah sakit, aku baru tahu jika Anggrek dan Lea kembar." Tangan Aira mengusap dadanya merasakan sesak.
Black melangkah mendekat memeluk lembut tubuh Aira yang pasti menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menyelamatkan Anggrek.
"Jika berat dan menyakitkan jangan diceritakan Aira, tindakan kamu paling tepat, jika tidak mungkin pria itu akan membawa kamu." Black mengusap punggung Ai yang memeluknya sangat erat karena masih merasa terpukul atas kepergian Anggrek.
Aira mencoba kuat hari itu, dia datang ke rumah sakit untuk menjenguk Anggrek, tapi operasi Anggrek gagal hanya Black yang berhasil selamat.
Lea sudah menangis terpukul karena Anggrek dinyatakan meninggal. Tiga orang menangis histeris secra bersamaan.
"Ya aku ingat, aku bertemu dengan Lea yang menemani Anggrek. Panggilan masuk ibu meminta maaf kepada aku dan Anggrek karena tidak bisa bertahan lagi, mati menjadi pilihan saat itu." Black dan Lea tidak memperdulikan kondisi mereka langung bergegas keluar rumah sakit untuk menyelamatkan ibu.
"Aku tahu juga soal itu, saat kita tiba di sana banyak orang sudah berkumpul melihat ibu yang tergantung. Pelakunya orang yang sama." Aira melepaskan pelukan.
Lea jatuh pingsan begitupun dengan Black yang kembali pendarahan sehingga dilarikan kembali ke rumah sakit.
Tidak tahu detail kasusnya sehingga kematian Anggrek ditutupi dan hanya keluarga yang tahu, bahkan kematiannya tidak didaftarkan.
"Aku pulang ke rumah langsung meminta Mami dan Papi mengirim ke luar negeri. Aku bukan lari Black, tapi aku tidak punya modal untuk menyerang." Ai meminta maaf karena dirinya harus pergi untuk menguatkan hatinya dan mengasah kemampuannya.
Kepala Black mengangguk, mengusap kepala Aira, dapat memaklumi kondisi Aira saat itu yang pasti sangat hancur. Mentalnya juga terguncang, dan tidak ingin keluarganya tahu.
Tidak ada satupun keluarga Aira yang tahu karena keberadaan Aira tidak diketahui oleh siapapun, selain Anggrek.
__ADS_1
"Kunci masalah ini ada pada Lea dan Gilang, jika Lea memiliki keberanian kita bisa menyelidiki keluarganya, tapi jika Lea menolak maka tidak ada yang bisa kita lakukan." Ai sengaja kembali karena Lea sudah mulai terang-terangan ingin mendekatinya, maka Ai berpikir itu juga peluang baginya.
Mengikuti sandiwara Lea yang berpura-pura menjadi Anggrek juga Aira ladeni dengan berpura-pura tidak tahu apapun soal kematian Anggrek.
"Lalu bagaimana dengan Gilang?"
"Dia saksi pertama yaang mengetahui kejadian sejak awal hingga akhir, tapi masalahnya satu. Dia digenggam oleh seseorang, sedikit saja terbongkar keluarganya juga akan hancur." Ai berpikir itu juga alasan Gilang ada di sisi Black karena ingin mengawasi sekaligus melindungi
"Kenapa dia membakar gedung?"
Aira menjitak kepala Blackat karena otaknya tidak jalan sama sekali. Apapun yang dilakukan oleh Gilang karena perintah orang lain. Alasannya dia membakar gedung karena Lea datang ke sana, dan hewan ular yang dipukul oleh Lea memiliki rekaman yang mengawasi gedung tempat pembantaian.
Black terbelalak kaget, Aira cukup pintar dan tebakannya tidak meleset sama sekali. Ular hanya memperlihatkan wajah Lea, sedangkan mereka berdua tidak tertangkap.
Setelah Aira menceritakan semuanya, otak Black semakin buntu. Dia tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan, memaksa Lea tidak mungkin menyalahkan Gilang juga tidak mungkin.
"Pertanyaan kita satu siapa yang ingin mencelakai aku di mobil perusahan? sudah pasti orang dalam perusahaan." Ai memijit pelipisnya lelah berpikir.
"Dari mana kamu tahu jika akan kecelakaan?"
Tawa Aira terdengar, Black belum tahu siapa keluarganya. Cukup mengeluarkan Dean dan Juan saja Aira akan selalu dalam penjagaan ketat.
Mami selalu mengawasi pergerakan Aira, tapi Dean yang selalu menutupi sehingga Aira bebas untuk bergerak ke manapun.
"Keluarga kamu hebat semua dan mengerikan?"
"Tetapi mereka semua lucu, nanti aku perkenalkan dengan Isel ... kamu pernah bertemu dia jadi kita skip saja. Kamu harus bertemu dengan si kembar beda rahim aku jamin kamu yang sedang stress nambah gila." Aira tersenyum meminta Black tidak terlalu fokus ke kasus Anggrek, cepat atau lambat mereka akan mendapatkan jawabannya. Setidaknya mereka juga harus tetap menjalankan kehidupan.
"Aku menganalisis Isel lebih agresif dari kamu. Bertemu si kembar beda rahim saja, mungkin lebih menyenangkan." Black juga meminta Aira tidak terlalu memikirkan kasus Anggrek. Dan paling penting Ai harus berhati-hati.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1