SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
OBROLAN WANITA


__ADS_3

Sepulangnya mommy dan daddy, kesibukan Isel dan Dean kembali ke semula. Isel harus praktek ke rumah sakit sambil melanjutkan kuliah S2.


Dean juga dengan kesibukannya yang pergi pagi pulang malam, bahkan hampir tidak memiliki libur.


"Suami kamu belum pulang Sel, tidak takut mampir ke rumah janda?" sindir Weni yang sedang berguling di sofa sambil mengemil.


"Janda mana yang berani?" lirikan mata Isel sinis kembali fokus ke layar laptop Vio.


Sudah satu bulan Vio masih belum menyerah menemukan keberadaan Ren, dia dendam kepada polisi gadungan yang sudah merugikannya.


"Masih belum ada titik terang dari penyelidikan?"


"Mereka tidak akan mengungkapnya Sel, secepat mungkin kasus Bian pasti ditutup." Vio menarik napas panjang.


"Kenapa juga kamu begitu antusias ingin menemukan Ren? jadilah polisi yang biasa saja, jangan terlalu rajin." Weni duduk mendekat menatap sahabatnya yang nampak stres.


"Saat berangkat aku membayarkan makanannya, menunjukkan jalan dan mengajarkan banyak hal seakan aku pintar dia bodoh, tapi kenyataannya aku ditipu. Bagaimana bisa aku membebaskannya?" kepala Vio geleng-geleng karena tidak rela direndahkan oleh pria jahat.


Sampai titik darah penghabisan, Vio tidak akan kembali sebelum bertemu Ren, memasangkan borgol agar dia tahu jika wanita yang dia anggap bodoh sebenarnya wanita tangguh.


Pintu apartemen terbuka, tiga kepala menoleh ke arah suara melihat Dean yang baru pulang bekerja.


"Apa yang kalian lihat?" Dean menatap ke belakangnya.


"Uncle," panggil Isel ingin mengecup bibir Dean, tapi ditolak karena Dean dari luar rumah dan bertemu banyak orang.


Dean melangkah ke kamarnya, bergegas untuk mandi dan istirahat karena sudah lelah bekerja seharian.


Selesai mandi, Dean tidak melihat Isel mengikutinya seperti biasa. Masih asik mengobrol dengan kedua temannya membicarakan soal pergerakan Ren.


"Kalian berdua tidak berencana pulang, ini sudah malam dan waktunya istirahat," teguran Dean terdengar mengusir dua wanita yang masih mengoceh.


"Ini masih hitungan siang bagi kita, malam itu jam sembilan pagi." Vio menimpali Dean yang menyindir obrolan ketiganya.

__ADS_1


Dean berjalan mendekat, melihat layar laptop Vio yang masih belum menyerah mengejar Ren karena Vio yakin ketiga buronan belum melarikan diri ke luar negeri.


"Berbulan-bulan kamu mencarinya sampai detik ini tidak ada hasil?"


"Memangnya kamu ada hasil," sindir Vio sinis karena dia tidak terlalu pria dingin seperti Dean.


Tangan Dean terlipat di dada, dia sudah mendengarkan kabar jika Ren memang seorang polisi. Dia dari kalangan bawah dan bakatnya tidak terlalu menonjol sehingga tidak pernah digabungkan dengan tim manapun karena dianggap benalu.


"Aku juga tidak pernah melihat dia di tim manapun," ujar Vio menatap Isel.


"Kenapa kamu menatap aku, Uncle yang sedang bicara." Isel menunjuk ke arah suaminya.


"Kamu istrinya, daripada kamu salah paham aku menatap pangeran kamu akhirnya kita bertemu di ring." Vio tahu jika Isel wanita yang sanga posesif apalagi bersangkutan suaminya dan sangat mudah salah paham.


Mengenal Isel selama hampir belasan tahun membuat Vio paham karakter teman-temanya, apalagi Isel yang tidak pernah jauh dari adu otot.


"Nanti saja bahas Ren, aku lebih penasaran dengan persahabatan kalian. Kenapa kalian tidak pernah main ke rumah Isel?"


Mereka memiliki delapan sahabat, baik dari kalangan berada maupun biasa karena tidak memandang harta dan tahta, tapi seiring berjalannya waktu harus berpisah baik masa depan maupun keluarga.


"Kenapa kalian bertiga tidak berpisah?"


"Ya tuhan, aku pikir suami kamu mencemaskan dan menyukai persahabatan kita ternyata dia menjatuhkan." Weni merasa kena mental karena sikap Dean yang sangat dingin.


"Kita meskipun jahat, tapi selalu saling melindungi." Isel memeluk dua sahabatnya.


"Bapak tahu tidak apa yang sulit dalam hubungan?" Vio menutup laptopnya.


"Tidak tahu karena tidak penting," balas Dean yang melangkah ingin pergi.


"Paling sulit menjaga kesetiaan, kita bisa saja melakukan apapun, mengambil resiko bahkan mencari keuntungan. Jika dalam rumah tangga saja ada kesetiaan, maka begitupun dalam persahabatan kami. Dari sekian puluh hanya tersisa kita bukan karena kesibukan, tapi tidak saling menjaga kesetiaan." Vio melihat ke arah Isel dan Weni yang tersenyum.


Vio memilih menjadi polisi agar tidak ada temannya yang masuk penjara, Weni menjadi pengusaha agar mereka memiliki uang hanya Isel yang belum terungkap identitas sebenarnya, tapi semua orang tahu jika Isel memiliki bakat yang hebat.

__ADS_1


"Kalian kelompok pencari harta karun?" Dean melihat ke arah Isel yang mengulum senyum.


"Ya, Isel menipu kita semua dengan mengambil emas batangan dan mengatakan jika yang dia ambil hanya mempererat beban." Weni memukul punggung Isel yang tertawa terbahak-bahak.


"Kalian juga untung karena mendapatkan sebagai harta karun," ujar Isel merasa kasihan karena dulu selalu menipu teman-temannya yang sangat polos.


Setelah dewasa baru tahu jika Isel yang mengambil paling banyak dari mereka, dan mengumpulkan emas di wilayah sendiri.


"Sekarang emas batangan kamu di mana Sel?" Weni secara tiba-tiba penasaran.


"Ada di rumah Uncle Dean, jadi ranjang tidur." Senyuman Isel terlihat, jika ada waktu dia akan membawa temannya ke rumah.


"Memangnya kamu siapa Sel, kita tidaak pernah tahu siapa kamu selain Yolan, tapi dia juga ikut merahasiakan keluarga kamu." Vio melirik Isel yang tersenyum kecil.


"Aku Putri dari keluarga Leondra, putri Diana dan ...."


"Gemal Leondra, berarti kamu putri konglomerat terkaya. Sialan, jangan bilang kamu adiknya Ghiondra?" teriakan Weni terdengar dia pernah melihat Gion secara langsung dan wajahnya sangat luar biasa tampan.


Isel tersenyum melihat keterkejutan kedua temannya padahal mereka pernah nonton konser bersama, masih saja tidak sadar jika Isel bersama keluarganya.


"Aira itu sepupu aku, dan Blackat kakak kandung Uncle Dean." Isel tersenyum melihat Vio dan Weni hampir pingsan.


"Aku pikir Yolan paling kaya karena itu dia tidak membutuhkan harta karun, sedangkan Isel pemulung serakah, tapi ternyata kamu anak sultan." Vio geleng-geleng karena pernah melihat kecantikan Diana yang sangat terkenal di dunia medis begitupun tampannya Papa Isel yang tidak ada tandingan.


Melihat obrolan tiga wanita yang nampak serius Dean met biarkan saja karena baru pertama kali melihat mata-mata orang yang tulus meskipun mereka memiliki kehidupan yang berbeda.


Di dalam hubungan menerima kekurangan wajib, di mana orang yang tulus seburuk apapun dimata orang lain tidak akan pernah mengubah rasa.


"Aku merasa iri kepada kalian karena sahabat aku hanya Juan dan Aira. Isel satu-satunya yang memiliki kehidupan bebas dan memiliki sahabat. Aku ingin jika memiliki seorang putri akan sebebas Isel," gumam Dean pelan melangkah kembali ke kamar.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2