
Bermalam-malam Isel tidak tidur, mencoba menghubungi Laura. Tidak pernah ada jawaban sekalipun beribu kali Isel menghubungi.
Suara berjalan terdengar, Isel melihat jam dinding. Suaminya pulang terlambat karena ada kasus yang harus diselidiki.
"Isel, kamu lagi apa?" panggil Aira bersama Lea menunggu di balkon kamar Isel
"Kenapa, Abi Dean tidak pulang karena ada kasus penting. Kita tidak bisa makan malam," ucap Isel meminta jangan berisik karena ada Daddy Mommy di rumah.
Wajah sedih dari dua bumil terlihat, rela keluar malam demi bisa makan enak, tapi lagi dan lagi Dean tidak pulang.
"Ya sudah, Lea pulang saja." Bibir Lea monyong ke depan lupa jika punya dua anak masih bersikap kekanakan.
"Kak, temani Isel bercerita." Lompatan Isel mendarat di bawah, mengusap perutnya karena sampai khilaf membawa baby lompat.
Pukulan Aira mendarat di punggung Isel, perut Isel sudah besar tidak boleh lagi lompat-lompatan.
"Hati-hati Sel, jika Dean tahu kamu lompat bisa marah."
"Ini tidak tinggi Kak, Ura manjat juga bisa." Isel berjalan ke arah lapangan.
"Meksipun pendek tetap saja balkon, aku tidak paham konsep rumah ini, kamar lantai satu, tapi ada balkon." Kepala Aira geleng-geleng, tidak heran jika Ura bisa masuk lewat balkon langsung tidur di kamar Bundanya.
Di kursi taman depan rumah, tiga wanita duduk santai di jam dua dini hari, tidak ada yang bicara hanya menatap langit yang menunjukkan keindahan bulan bintang.
"Sel, empat bulan lagi kamu akan lahiran, lalu aku dan disusul Lea, anak kita hanya beda sebulan. Bagaimana jika kita melahirkan bersama?" usul Aira mengejutkan karena hanya dia yang enak berada di posisi tengah.
"Tidak mau, Isel sembilan bulan aku baru tujuh bulan, kasihan anakku masih terlalu kecil." Kepala Lea menggeleng, tidak setuju dengan rencana Aira.
"Setuju, bagaimana jika kita tidak tahu jenis kelamin?" Isel menatap dua wanita yang saling pandang.
Kening Isel berkerut, rencananya keluar bukan untuk membicarakan lahiran, tapi hal lain.
Tangan Isel menunjukkan ponselnya, temannya tidak menjawab panggilan padahal Isel sudah menghubungi dari pagi sampai malam.
"Kamu tahu lokasi ponselnya?" Ai menatap ponsel Isel yang sedang memanggil.
"Ya, ponsel ini ada di perumahan elite, aku yakin itu rumah Laura. Masalahnya kenapa dia tidak menjawab?"
"Datangi saja, kenapa pusing?" Lea masih menatap langit.
__ADS_1
"Memangnya ada masalah apa?" Ai merasa bukan soal keberadaan Laura.
Isel menceritakan pertemuannya dengan Brayen, masalah rumah tangga Brayen juga dijelaskan. Isel tidak nyaman karena bertemu dengan suami sahabatnya, sedangkan Laura tidak datang.
Tidak ingin semakin adanya salah paham, Isel ingin membantu Laura dan Brayen untuk akur kembali, apalagi pernikahan mereka baru dimulai.
"Kenapa aku merasa kamu takut jika keberadaan kamu menjadi pemicu keributan?" Lea tidak menyukai Brayen sejak pertama bertemu ketika Isel lahiran.
"Benar Sel, apa Brayen menyukai kamu. Sebagai sahabat seharusnya mendukung kehamilan, bukan meminta melepaskan. Ini bukan proses, tapi sudah jadi." Tangan Aira menyentuh perut Isel yang besar, bahkan sudah bisa merasakan adanya tendangan.
Sesaat Isel terdiam, mencoba mengingat sosok Brayen yang menjadi sahabat lelaki Isel. Pria yang memberitahu jika pelaku yang menyerang Isel seorang wanita.
"Dia anak baik, tapi serakah. Mencari sosok Isel pada diri orang lain maka tidak akan ketemu," ujar Aira karena sangat yakin jika Brayen membandingkan antara Isel dan Laura.
Keinginan bersama Aira memang kecil karena masih tidak memiliki apapun, tapi setelah hidup mewah mulai lupa diri ingin hidup bersama Isel.
"Sudah malam, masih punya waktu memfitnah orang. Membicarakan sesuatu yang belum pasti jatuhnya fitnah!" tatapan mata Juan tajam melihat tiga wanita hamil duduk santai tanpa ada rasa takut.
Senyuman Lea telihat, menyakinkan suaminya jika bukan dirinya yang bergosip hanya menjadi pendengar yang baik.
"Pulang ke rumah masing-masing," perintah Juan menarik tangan istrinya pelan.
Isel melangkah pergi begitupun dengan Aira yang malas berurusan dengan Lea jika sudah menangis, bisa sampai matahari terbit tidak usia.
Langkah Isel terhenti panggilan dari Brayen masuk, Isel sengaja tidak menjawab karena tidak enak dengan Dean menjawab panggilan tanpa izin apalagi mendengar ucapan Lea dan Aira yang tidak sepenuhnya salah.
"Bagaimana mungkin Brayen menyukai aku? mustahil." Isel merasa pertemanan mereka sangat tulus, tidak ada niat membawa perasaan.
Sudah sepuluh panggilan, capek mendengarkan dering akhirnya Isel menjawab berpura-pura bangun tidur.
"Ada apa?"
"Kamu di mana Sel?"
"Pertanyaan tolol, kamu tahu ini jam berapa?" Isel mematikan panggilan tidak ingin tahu tujuan Brayen.
Masih belum menyerah, Brayen melakukan panggilan lagi. Memohon agar Isel menjawab panggilannya.
"Ada apa Brayen, kamu tidak punya pekerjaan memanggil di jam tiga subuh." Tangan Isel meremas ponselnya karena menahan emosi.
__ADS_1
"Sel, ayo kita bertemu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan soal Laura," pinta Brayen yang langsung menentukan tempat, dia akan menunggu Isel sampai datang.
Tidak memberikan waktu untuk menjawab, panggilan sudah mati. Isel menatap ponselnya langsung dilempar ke sofa.
"Terserah, lebih baik aku tidur. Di mana otaknya meminta istri orang yang sedang hamil keluar rumah." Selimut ditarik menutupi tubuh.
Tidur Isel sangat nyenyak tidak memperdulikan ponselnya yang berdering sampai Dean pulang jam empat subuh.
Sebelum menyentuh anak istrinya, Dean memilih mandi karena tubuhnya bau keringat setelah turun ke lapangan.
"Sayang, ayo kita sholat subuh." Dean mengecup pipi berkali-kali tanpa rasa lelah.
Panggilan di ponsel terdengar, Dean mencari keberadaan suara. Melihat ponsel Isel yang memiliki ratusan panggilan.
"Ada apa dengan Brayen menghubungi Isel di jam segini?" Dean menjawab panggilan mendengar suara Brayen menangis mabuk.
"Sel, aku merasa sangat sepi. Kenapa tidak ada satupun orang yang ingin menemani aku?"
"Apa yang kamu lakukan Brayen?" tanya Dean yang sangat yakin jika Brayen mabuk.
"Di mana Isel Dean?"
"Kenapa kamu bertanya soal istriku? lagian ini jam berapa. Hubungi istri kamu jangan mengusik jam istirahat Isel." Dean meminta maaf karena dia akan mematikan panggilan.
Suara Brayen berteriak terdengar, dia memarahi Dean karena membiarkan Isel hamil karena akan membahayakan nyawa Isel.
"Aku akan mengurus Istriku, bukan urusan kamu." Panggilan Dean matikan melihat Isel sempat menjawab panggilan.
Perasaan Dean tidak nyaman karena pernah membiarkan Isel bertemu pria lain tanpa dirinya, apalagi Isel sedang hamil.
"Masih subuh sudah ada yang membuat sakit hati," gumam Dean yang memutuskan naik ranjang kembali.
"Abi kapan pulang?"
"Sayang, kenapa aku risih dengan Brayen? dia tidak tahu betapa inginnya kita memiliki anak." Mata Dean terpejam merasakan usapan lembut dikenalnya.
***
Happy new year 2023
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira