SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
PERJUANGAN


__ADS_3

Percekcokan Mora dan Mira terdengar, kedua adik mereka menutup telinga karena pusing mendengarnya.


"Aunty, kenapa Uncle Juan menangis?"


"Dimarah Nenda mungkin?" Ai memalingkan wajahnya dari Hasan yang kepo.


"Uncle dimarah karena Aunty, lain kali tidak boleh begitu Aunty kasihan Uncle." Wajah Husein terlihat sedih.


Kepala Mora dan Mira sudah nongol, mendengarkan pembicaraan. Mereka tidak melihat karena sedang bertengkar.


Blackat juga melihat, dia bahkan menggunakan mobil Shin untuk mengantar anak-anak karena mobilnya dipukuli oleh Juan.


"Aduh kita ketinggalan informasi,"


"Iya, semua gara-gara kamu." Mira menatap sinis saudaranya yang juga memalingkan wajahnya.


Mobil Blackat berhenti di sekolahkan Mora dan Mira, Black dan Aira tidak bisa turun karena tidak ingin ada yang mengenali mereka.


"Uncle tidak turun?" Hasan menatap kedua kakaknya.


"Tidak boleh Hasan, Uncle itu aktris nanti dia dikerumuni ibu-ibu." Mora membuka pintu langsung keluar.


"Aunty saja,"


"Tidak boleh juga, Aunty itu selebriti." Mira juga keluar.


"Apa itu?" Husein tidak mengerti.


Mora naik mobil lagi memukul kepala Adiknya sampai menangis, aktris dia orang yang terkenal dengan bakatnya sedangkan selebriti hanya terkenal.


"Aunty Aira selebriti bukan artis?" Hasan menatap Aira yang memejamkan matanya.


"Tadi aktris sekarang artis, bedanya apa?" Husein memeluk Black takut jika dipukul lagi.


Mora dan Mira berjalan masuk sekolahnya, keduanya terlihat sangat menggemaskan dengan rok panjang, mendukung tas ranselnya.


"Lucu sekali, memiliki anak perempuan memang menyenangkan." Senyuman Black terlihat menjalankan mobil kembali ke arah sekolah Hasan dan Husein.


Jarak sekolah tidak terlalu jauh, sehingga keduanya turun. Black juga turun menggunakan topi menutupi wajahnya.


"Belajar yang rajin, semangat." Black tersenyum melihat dua anak kecil berlarian menemui gurunya.


Black kembali ke mobil, melepaskan topinya menatap Aira yang terlihat banyak pikiran. Pasti dia merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Juan.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan, nanti pusing sendiri." Mobil melaju pergi untuk segera kembali ke rumah.


Ai menatap Black yang belum tahu kebenaran soal Anggrek, masalah baru saja selesai setelah Elo di penjara.


Nama Black sudah bersih kembali, dia hanya korban kelicikan Elo sehingga beberapa waktu menghilang dari publik.


"Kakak hitam, ada sesuatu yang ingin Ai bicarakan,"


"Sama aku juga." Blackat akan segera kembali, masuk ke agensi Lea dan memulai aktivitasnya kembali.


Mobil yang Black kendarai berhenti secara tiba-tiba membuat dada Aira terbentur ke dasbor.


Tatapan mata Blackat tajam, menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan Aira. Black melihat secara langsung saat Anggrek tidak bernyawa.


Secara tiba-tiba Blackat terdiam, dia meninggalkan jenazah adiknya saat mendapat kabar soal ibunya.


"Waktu di makamkan, apa kamu melihat wajah Anggrek?"


"Tidak, terakhirnya di rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Aira menceritakan saat pertama bertemu Anggrek. Mungkin dia juga tidak sengaja bertemu Ai, Anggrek menabrak Lea juga mengarahkan senjata seperti hanya ancaman.


Anggrek tidak mengatakan apapun, kemungkinan karena ada Aira. Kebencian bukan hanya ditunjukkan kepada Lea, tapi Aira juga.


Ai juga masih tidak percaya, Black bisa membuktikan sendiri, tapi berpura-pura seakan-akan belum tahu apapun.


Selama di perjalanan pulang, Aira menceritakan soal keluarga Lea, bahkan Anggrek juga datang ke sana.


"Satu hal yang paling membuat aku kaget, Anggrek berganti nama Imelda Taher, kamu kenal siapa keluarga Taher?"


"Jika aku tidak salah, mereka keluarga Dokter yang selalu berlalu lalang di sosial media, memiliki banyak klinik kecantikan." Black merasa keluarga Taher terlalu meremehkan kebanyakan dokter.


Aira membenarkan, kemungkinan besar dia juga yang menyelamatkan Anggrek. Mereka bukan hanya kaya, tapi mendapatkan dukungan dari banyak penggemar.


"Kita bahas lagi nanti, temui dulu Mami kamu dan meminta maaf." Black menatap ke arah rumah Aira.


"Aku masuk dulu,"


Blackat berjalan ke arah pohon, melihat ada buah apel. Di atas banyak sekali buahnya, tapi terlalu tinggi.


Tanpa izin Blackat naik, mengambil beberapa buah. Suara Shin memanggil terdengar meminta Blackat melebihkan untuknya.


"Kak Shin, maaf Black mencuri." Ada banyak buah apel yang diletakan di bangku santai.

__ADS_1


"Hai Vino, sini gendong Uncle." Black mengambil Vino, mendudukkannya.


Shin mengambil Ajun yang ditinggal oleh Tika karena masih menolong Juan yang terkena amukan.


"Ini buah pertama, saat pertama datang ke sini aku menanamkan untuk kenang-kenangan jika inilah tempat lelaki yang aku cintai." Shin tertawa merasa lucu dengan dirinya sendiri.


Bertahun-tahun pohon tidak hidup, setelah beberapa tahun Shin kembali lagi dan melihat lelaki yang dicintainya bersantai sambil membaca buku.


"Kisah cinta kak Shin yang bertepuk sebelah tangan?" Blackat tertawa kecil melihat mata Vino yang mulai terpejam.


"Hampir, tapi akhirnya bahagia. Buahnya manis seperti cinta Mami kepada Papi Juna." Shin tersenyum melihat Ajun yang menghisap apel.


Wajahnya Ajun langsung berubah, tapi minta lagi. Black juga menikmati rasa buahnya yang cukup segar.


"Kenapa perumahan ini sepi Kak? kira-kira ada perumahan kosong tidak?"


Kepala Shin menggeleng, seluruh rumah penuh karena diisi oleh orang dalam. Meksipun ada yang kosong, harus ada alasan kosongnya.


"Kak, masih ingat tidak saat di jembatan aku mengatakan Ayah meninggal?"


"Ya, apa kamu bohong? apa Ayah kamu yang membunuh orang lalu menjadi saksinya." Tatapan Shin langsung serius, Tebakannya ternyata benar.


Kepala Blackat terus mengangguk, merasa bersalah seumur hidupnya. Dia tidak berguna sejak awal.


"Hari ini Black juga mendapatkan kabar aneh, aku ingin tidak percaya, tapi takut juga jika memang benar." Kepala Black tertuduk, semakin dewasa dirinya terus bertambah juga masalah hidupnya.


Mendengar cerita Black, Shin hanya tersenyum kecil begitulah hidup. Semakin baik maka semakin sulit hidupnya, sudah berusaha semakin susah.


"Black hidup sama seperti pohon ini, ditanam tanpa berniat untuk hidup, berjuang dari kecil, tekena hujan panas dan angin. Berpuluh tahun kemudian dia berbuah. Seharusnya paling lama lima tahun." Shin percaya jika hidup itu memiliki proses dan tergantung ingin melaluinya melalui jalan mana.


Kepala Blackat mendongak ke atas, melihat buah yang sangat lebat. Bukan hanya memberikan keteduhan, tapi akhirnya memberikan hasil.


"Terima kasih pohon sudah bertahan, aku harap kebahagiaan Kak Shin jauh lebih lama dari kehidupan kamu." Black mengunyah buah apel.


"Kamu juga bertahanlah, mungkin akan segera ada angin kencang menerpa. Kamu hanya memiliki dua jalan, gagal atau berhasil." Shin menidurkan Juan yang mengecup buah apel.


Meksipun Black tidak tahu masalah apa yang akan datang, tapi dia tetap akan berdiri tegap tanpa menyerah.


"Apa kamu akan menyerahkan dia kepada Dean?" Shin menatap Ai yang keluar rumah sambil meminta Dean menggendongnya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2