
Hasil tes darah Angga positif, dugaan dia benar jika ada yang membatalkan Aira terlibat dalam konser.
Diana memastikan jika aman, sebelum Angga pergi dia sudah menyuntikan obat yang bisa menetralisir racun apapun yang masuk ke dalam tubuh.
Angga bisa terbang saat subuh, jika siang pasti berita akan heboh karena Kedatangan yang ditunggu tanpa membawa dua aktris yang akan berkolaborasi.
"Terima kasih Kak Di, maaf jika Angga merepotkan,"
"Jangan terlalu dipikirkan, cepatlah bersiap-siap. Di mana Aira?" Diana berjalan ke arah kamar melihat Aira yang sedang tertidur pulas
Tangan Di mengusap lembut, dia tahu jika Aira tidak tidur sedang memiliki banyak pikiran. Ekpresi Ai sudah menunjukkan jika dia menahan amarah.
"Di mana Ria yang kuat? Aira memang seorang selebriti, tapi kami mengenal Ria yang berkuasa dan ingin menguasai apapun. Apa sekarang kamu takut?"
"Takut, apa yang aku takuti? Ria sedang berpikir cara menyingkirkannya tanpa merusak identitas Aira." Tatapan mata Ai tajam, konser tidak akan mulus selama pelaku belum ditemukannya.
"Kamu sudah tahu siapa pelakunya?"
Kepala Aira mengangguk, lelaki yang bekerja bersamanya sebagai fotografer sejak tahun lalu. Lelaki yang nampak selalu tersenyum mengaguminya.
Diana menawarkan bantuan, Aira menggelngkan kepalanya hanya meminta satu dari keluarga Leondra untuk ikut bersamanya.
Wajah Diana kaget, Diana ingin Gion bersamanya. Dia seorang fotografer yang hebat, Ai akan memecat pria yang satu tahun berada di timnya ingin melihat reaksinya secara langsung.
"Lakukanlah, Mama tahu kamu bisa mengatasi ini." Diana menoleh ke arah balkon langsung mengeceknya melihat cahaya flash sedang memotret.
"Astaga Mama, maafkan Gion. Aku berpikir ingin mengerjai Kak Aira." Kedua tangan Gion mengecup tangan Mamanya merasa sangat bersalah.
"Dari mana kamu masuk?" Diana melihat ke bawah yang sangat tinggi.
Tawa Gion terdengar, memeluk mamanya. Jalan tidak selalu dari bawah ke atas bisa juga dari atas ke bawah.
Kepala Gion melihat ke atas, diikuti oleh Mamanya yang menatap ada helikopter yang melaju pergi.
Aira juga melihat helikopter, mengangumi Gion yang bisa datang dengan cepat. Dia akan menjadi pengawal pribadi Aira sekaligus fotografer pribadi.
"Ada banyak foto pacarnya di kamera itu,"
__ADS_1
"Pacarnya Gion ini." Gion menujukkan foto Mamanya.
Mama Diana memperingati agar Aira bisa mengendalikan diri begitupun dengan Gion, emosi tidak akan menyelesaikan masalah hanya akan semakin memperkeruh.
Kepala Ai dan Gion mengangguk, langsung bergegas keluar kamar untuk segera berangkat kembali menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Leondra.
"Kalian hati-hati, jangan lupa untuk terus berkomunikasi." Gemal menepuk pundak Angga yang menganggukkan kepalanya.
Diana dan Gemal tidak bisa ikut mengantar hanya membiarkan ketiganya pergi bersama untuk menyusul tim yang sudah pergi lebih dulu.
"Aira, kamu sudah bisa memikirkan siapa anggota tim kamu yang mencurigakan?"
"Belum ada, nanti saja memikirkannya kita harus menyelesaikan konser baru mengurus mereka." Ai yakin jika di sana banyak pengawal yang akan berjaga.
Di kursi belakang Gion duduk santai sambil bernyanyi kecil menatap foto lelaki yang Aira ingin Gion awasi. Senyuman sinis Gion terlihat, hanya lelaki biasa dan penjahat wanita.
Pekerjaan sebagai fotografer hanya formalitas saja, aslinya Ben lelaki yang mengincar banyak artis untuk di sebar fotonya.
Kening Gion berkerut, Ben ternyata tidak sendiri ada seseorang di sisinya. Mata Gion terpejam pasti akan menyenangkan menjadi orang yang tidak tahu apapun. Dirinya akhirnya menyamar kembali bisa melihat banyak artis seksi.
"Apa yang membuat kamu tersenyum Gion?" Angga duduk di samping cucu pertama Leondra, mengacak-acak rambutnya karena tingkahnya tidak jauh beda dengan Adiknya Ghiselin.
"Dia Ben, fotografer Aira. Hati-hati, dia pemakai yang pastinya berpengalaman dalam merusak karir artis. Apalagi dia terkenal sebagai fotografer terbaik." Angga memperingati Gion untuk selalu siaga, seseorang yang dianggap lemah pastinya memiliki kekejaman yang tersembunyi.
Senyuman Gion terlihat, dia juga sangat terlatih. Uncle gantengnya tidak perlu khawatir.
"Gion, Uncle boleh meminta bantuan," Angga membisikkan sesuatu dengan nada yang tidak terdengar oleh sekitar.
Kepala Gion mengangguk berkali-kali sambil tersenyum lebar, dia sangat mengagumi Blackat bukan karena bakatnya yang luar biasa, namun keberaniannya yang patut diacungi jempol.
"Uncle, terima kasih sudah menjadi lelaki yang luar biasa,"
"Kamu juga berhentilah menjadi Playboy, ingat karma. Wanita yang kamu sakiti bisa saja menyumpahi kamu jodohnya jauh." Angga kembali ke tempat duduknya, menatap Aira yang masih tidur.
Tangan Angga merangkul, membiarkan kepala Ai bersandar di dadanya. Usapan lembut di wajah Ai terasa membuat tidurnya semakin nyenyak.
Beberapa pramugari lewat, tersenyum manis melihat moments romantis aktris yang sedang naik daun. Memiliki jutaan penggemar tidak membuat keduanya takut tidak dicintai lagi.
__ADS_1
***
Sesampainya di bandara terlihat sangat sepi karena tidak ada media yang tahu jika Angga dan Aira terlambat datang.
Beberapa staf yang sudah menunggu langsung berlari, membukakan pintu untuk keduanya.
"Black, aku kamu sebaiknya tukar mobil karena terlalu bahaya jika media menemukan kalian terlambat datang. Pasti banyak sekali pertanyaan, dan membuat curiga pelaku." Gilang memberikan instruksi agar mobil dipisah
Gion setuju, dia akan mendampingi Aira. Tidak akan terjadi apapun kepada Ai selama bersama dirinya.
"Aku pindah mobil, kamu duluan saja,"
"Kamu juga hati-hati." Ai melambaikan tangannya melihat Black pindah mobil belakang.
Mobil Aira pergi lebih dulu, sedangkan mobil Black sudah melewati jalan yang lebih jauh demi keamanan.
Sepanjang perjalanan, Aira dan Gion saling diam. Mata Gion melirik sedikit, menganggukkan kepalanya.
Kedua tangan Gion melilit leher pengemudi yang sebenarnya sedang menyamar, Aira langsung lompat dari mobil begitupun dengan Gion yang lompat sebelum persimpangan lampu merah.
"Silvia sialan! kamu mencari mati mencoba berurusan denganku." Ai memalingkan wajahnya, Gion langsung memeluk erat.
Mobil yang mereka kendarai mengalami kecelakaan beruntun, bersyukurnya tidak ada korban lain karena Gion sudah mengacaukan jalan.
Api berkobar, Gion dan Aira langsung pergi meninggalkan lokasi, beberapa CCTV yang menangkap mereka langsung mati.
"Kak Ai baik-baik saja, maaf Gion membuat tegang,"
"Aman. Kamu tidak perlu merasa sungkan, kita sudah terlatih untuk terluka lalu bangkit lagi. Secepatnya kita harus sampai hotel sebelum Blackat sampai lebih dulu." Ai tersenyum manis, dia bersyukur karena Gilang ingin mengikuti sarannya.
Kedua berlari kencang, beberapa orang melihat Aira dan memanggil. Ai tidak menimpali langsung berlari ke hotel tempat mereka menginap.
Demi mendapatkan jalanan tercepat, Ai harus melewati gang sempit. Gion ngos-ngosan karena kalah lincah dari Aira yang memang sangat baik dalam olahraga.
"Kak Ai, Gion tidak sanggup lagi. Ini lari terlama yang aku lakukan,"Gion melihat sepatu Aira terlepas langsung berganti high heels dari tas ranselnya.
Ai berjalan dengan Anggun ke arah hotel, membuat Gion tercengang karena Ai kembali menjadi wanita feminim.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira