SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BERTEMU


__ADS_3

Tangan Bian mencabut garpu dari tubuhnya, darah keluar membuat baju Bian berubah merah.


"Kenapa kamu marah Sel, aku melakukan ini karena aku mencintai kamu?" Bian menjatuhkan garpu melangkah masuk ke dalam kamar.


Barang-barang yang berhamburan dirapikan kembali, Isel merasa ada yang aneh kepada Bian. Dia bersikap sangat manis dan lembut kepadanya.


"Sel," panggil Bian.


Pintu terbuka secara tiba-tiba, Hairin menatap Isel yang masih berdiri di tempat yang sama. Vas bunga yang dipegang oleh Bian dilempar ke arah Hairin hingga, namun berhasil di hindari.


Isel sangat terkejut melihat Alika ada di hadapannya, bukan hanya Isel yang terkejut, tapi juga Bian yang langsung berjalan ke arah Alika.


"Kamu harus berhati-hati dengan wanita ini Bian, dia bukan wanita sembarangan. Dia keponakan dari Dean Dirgantara." Luka berteriak kuat mengungkap siapa Isel.


Kening Bian berkerut, masih Bian ingat jelas ucapan Dean jika Isel istrinya. Dia wanita yang Dean cintai. Tidak mungkin Bian salah dengar.


Jika dalam bisnis dirinya kalah, maka menaklukkan Isel dan merebutnya dari Dean menjadi kemenangan terbesar.


"Aku bukan keponakan Dean, tapi aku istrinya. Dia menganggap aku seperti keponakan karena aku hanya gadis yang terbuang. Dean menikahi aku karena ingin mengakhiri penderita. Kamu siapa?" Isel mengubah mimik wajah karena tidak ingin Alika mengungkap keluarga.


"Kenapa kamu bisa ada di sini Lika?"


"Kembalikan Hairin untuk menebus kejahatan yang aku buat, dia harus di penjara mengantikan aku." Lika melarikan diri dari penjara dan behasil berlabuh melewati jalur air.


Gara-gara Dean, tuntutan Lika mendapatkan hukuman dua puluh tahun penjara. Dia tidak ingin mati dan membusuk sebagai tahanan.


"Kita kirim Hairin kembali." Lika mengikuti langkah Bian yang tidak ingin Isel mendengar pembicaraan mereka.


Senyuman Isel terlihat, menarik pintu kuat karena dikunci dari luar. Dia harus keluar untuk menyelamatkan Hairin.


Tidak Isel sangka dari malam bertemu siang dirinya belum beristirahat sama sekali. Tendangan Isel kuat di depan pintu memilih tidur karena membutuhkan tenaga untuk bertarung.


Pecahan kaca terdengar, Isel mengerutkan keningnya karena Weni tiba lebih dulu setelah mendapatkan panggilan dari Isel.


"Kamu sendirian Sel?" Weni duduk melempar sekotak pizza.


"Tumben sekali kamu pengertian, bagaimana cara kamu masuk?"

__ADS_1


Tawa Weni terdengar, dirinya tidak pernah tahu jika rumah sakit orang gila bisa dijaga ketat. Dirinya berjalan layaknya model gila juga tidak akan ada yang curiga.


Kepala Isel mengangguk, ternyata dirinya ada di rumah sakit yang memiliki ratusan pasien, juga puluhan perawat serta dokter.


"Di mana Laura dan Yolan?"


"Laura tidak akan datang, dia baru saja tersungkur saat balapan liar dan patah kaki. Yolan sedang mengurus sistem keamanan agar tidak banyak korban yang celaka." Senyuman Weni terlihat menatap Isel yang sedang tidur lelap.


Panggilan dari Vio terdengar, meminta Weni dan Yolan pergi karena ada team khusus yang sedang menuju lokasi, Isel juga dilarang menyerang karena dia korban yang akan menjadi saksi.


"Bodoh, kenapa juga meminta kita datang jika pada akhirnya harus pergi?"


Pintu terbuka, Weni menatap seorang wanita dengan wajah terbakar masuk. Hairin juga kaget melihat Weni yang masih duduk santai.


"Jangan sentuh wanita gila ini jika tidak ingin almarhum." Weni melangkah pergi melewati pintu dengan santainya.


Kepala Hairin mengangguk, mendekati Isel yang sedang tidur dengan nyenyak. Senyuman Hairin terlihat karena Isel nampak tenang.


"Ternyata kamu Putri nakal Aunty Diana, beristirahat karena aku akan membawa kamu keluar dari tempat berbahaya ini." Irin menarik selimut menutupi tubuh Isel.


"Mama, maafkan Irin. Tidak ada niat Irin menyakiti kalian, aku hanya takut ancaman Lika menyakiti kalian akan dia lakukan." Tangisan Irin terdengar merasa sakit saat melihat Lika kembali dan ingin menukar dirinya.


Suara keributan terdengar, Irin langsung membuka pelan pintu. Pertengkaran Bian dan Alika terdengar.


Pukulan kuat Bian menghantam wajah Lika karena dia ingin membunuh Isel padahal Bian sangat mencintai Isel.


"Kamu dan Hairin tidak mungkin hidup jika tanpa aku, seharusnya aku tidak membiarkan kalian berdua hidup."


"Kakak merasa bangga, jangan lupa jika kamu yang membunuh kedua orangtua kami!" Kemarahan Alika juga memuncak.


Hairin yang mendengar langsung terkejut, saat mereka kecil ternyata Bian yang menjadi dalang kematian orangtuanya.


Yandi orang yang menyelamatkan Hairin, tapi Alika dibawa oleh Bian. Tidak ingin Hairin kecewa, maka Yandi mengatakan dia diambil dari panti asuhan.


"Papa, segitunya Papa melindungi Irin, tapi aku membuat Papa dalam masalah besar," batin Hairin di dalam hatinya.


Peringatan dari sari Alika terdengar, dia meminta Bian segera melarikan diri karena Dean bukan hanya turun tangan langsung, tapi memiliki dua tim khusus untuk mengejar Bian.

__ADS_1


"Aku tidak bohong Kak Bian, Dean sudah mendekat di sini dan kamu harus bersembunyi kembali sama seperti dua puluh dua tahun yang lalu ketika tim kepolisian mengejar." Alika menunjukkan rekaman di beberapa area jalan yang menunjukkan mobil kepolisian.


"Sialan kamu Dean, aku pasti akan membalas kamu." Bian menatap Isel yang keluar kamar sambil menguap lebar.


Rambut Isel berantakan, wajahnya yang cantik membuat hati Bian yang kesal mencair. Bian berjanji suatu hari nanti dia akan kembali mengambil Isel untuk hidup bersamanya.


"Kali ini aku mundur, tapi nanti tidak akan pernah." Bian langsung pergi bersama Alika yang sudah lari lebih dulu.


"Berapa usia Bian? dia masih tampan seperti sugar Daddy." Tawa Isel terdengar menatap Irin yang menangis.


"Mungkin tiga puluhan atau tiga delapan, aku tidak menghitungnya. Kamu baik-baik saja Sel?"


Senyuman manis Isel terlihat, masalah Bian sepertinya akan tertunda karena dia kembali menghilang.


Suara senjata terdengar, Isel dan Hairin saling pandang karena mereka melihat banyak orang gila yang berlarian melihat banyak orang bersenjata.


Aksi kejar-kejaran terjadi karena anak buah Bian berusaha melarikan diri sehingga halaman depan tegang.


Suara langkah kaki seseorang masuk terdengar, Isel dan Hairin melihat secara bersamaan ke arah Dean yang meringis karena menembus kaca untuk naik ke lantai atas.


"Uncle," panggil Isel senang, tapi senyuman langsung hilang saat melihat Hairin berdiri di depannya.


"Dean," panggil Hairin dengan tangisan karena tidak menyangka akan bertemu kembali.


Langkah Dean terhenti saat melihat Hairin, dia masih mengenali wajah Hairin dengan baik karena itu dia datang mencarinya.


Perasaan Isel langsung sedih karena pandangan Dean tidak meliriknya sama sekali. Kepala Isel hanya bisa tertunduk.


Senyuman Isel terlihat saat pelukan Dean erat kepada, bahkan Dean melewati Hairin yang menatap keduanya sedang berpelukan.


"Kamu baik-baik saja Sel, apa yang Bian lakukan kepada kamu? kenapa rambut kamu berantakan?" ekspresi Dean sangat cemas, bahkan dia tidak bisa bernapas normal.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa follow ya karena ada give away berhadiah dengan nominal besar

__ADS_1


__ADS_2