SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MENYERAHKAN


__ADS_3

Di dapur Isel sudah tertawa bersama Brayen, melihat Ren yang keluar ruangan Dean. Isel tidak kenal Ren sama sekali karena belum pernah melihatnya.


"Kamu siapa?"


Ren memperkenalkan dirinya, jika dia rekan kerja Vio, tapi Vio mengundurkan diri karena tidak suka dengan Hairin yang sudah membuatnya berada dalam masalah, sehingga dikirim keluar negeri.


"Sekarang Vio di mana?" Isel menghubungi Vio yang tidak menjawab panggilannya.


Hairin melangkah keluar menatap Isel seakan-akan masih tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar. Tidak mungkin Isel dan Dean memiliki hubungan spesial apalagi sampai menikah.


"Sel, aku tadi seperti salah dengan jika kamu dan Dean sudah menikah?" tanya Irin ingin memastikan kembali.


"Kenapa Kak, apa Kak Irin merasa patah hati karena mencintai uncle?" tanya Isel balik ingin tahu jawaban.


Kepala Hairin menggeleng, dia tidak masalah jika memang benar namun rasanya aneh saja jika hubungan keluarga yang begitu dekat berubah menjadi pasangan suami-isteri.


"Mereka memang sudah menikah, aku saksinya." Brayen meyakinkan Hairin jika apa yang Dean katakan benar adanya.


"Apa Dean mencintai kamu?" Irin menatap Isel tanpa berkedip begitupun Isel yang menatap begitu tenang.


Brayen melihat ke arah Isel merasa kasihan kepada Isel yang mencintai, tapi tidak dicintai. Meksipun Dean begitu cuek, tapi Brayen yakin dia menyayangi Isel lebih dari hubungan keponakan.


"Tidak, Uncle tidak mencintai Isel, dia mencintai wanita lain dan orang itu bukan aku. Apa wanita itu Kak Hairin karena sebelumnya Uncle meminta izin menanyakan soal Kak Irin, tapi perasaannya berubah karena Hairin dan Alika orang yang berbeda." Isel tersenyum manis, meskipun dirinya istri sah, tapi tidak sedikitpun Isel mencoba menutupi bagaimana hubungan rumah tangga mereka.


Kepala Hairin tertunduk, dia merasa bersalah karena bertanya kepada Isel padahal dia tahu jika pertanyaan begitu menyakitkan.


"Kak Hairin mencintai uncle maka perbaiki keadaan ini, semua bermula dari Kak Irin, maka harus Kak Irin yang mengakhiri. Jika satu tahun ke depan kami tidak nyaman maka Isel akan melepaskan uncle untuk bahagia bersama wanita yang uncle cintai." Senyuman manis Isel terlihat, dia berbesar hati menyambut wanita yang seharusnya mendampingi sejak awal.


Besarnya rasa cinta Isel tidak peduli jika dirinya yang harus tersakiti, selama orang yang dicintainya bahagia maka dia yakin semuanya akan baik.


Hati Brayen sakit melihat Isel mengizinkan Hairin tetap maju, tidak mencoba menghentikan kisah cinta lama Dean.

__ADS_1


Tangan Isel terulur, berharap Hairin tidak membuat Dean berada dalam dilema atau kesulitan. Jika sampai Hairin menyakiti Dean, maka dia akan berhadapan dengan Isel.


"Apa yang kamu katakan, aku tidak mengerti? jika memang sudah menikah, maka aku akan mundur. Buat apa aku mencintai lelaki yang sudah beristri?"


Kening Isel berkerut, menatap tangannya yang tidak diterima sama sekali oleh Hairin. Isel hanya berniat memancing Hairin, tidak mungkin dirinya rela melepaskan Dean begitu saja, tapi tidak disangka Hairin menolak dan paham perasaan Isel.


"Pantas Uncle bisa membedakan kamu dan lika, Hairin yang asli memang wanita baik," batin Isel yang senang melihat Hairin meminta Isel memperjuangkan rumah tangganya.


Suara langkah Dean berlari terdengar langsung masuk ke ruangan kerjanya teriak kuat mengejutkan Isel, Brayen dan Hairin.


Isel berlari kencang melihat Dean yang menatap komputernya berubah putih karena sudah dihack dan seluruh barang bukti yang di dapatkan langsung lenyap bukan hanya milik Dean, tapi milik kantor juga.


"Minggir Uncle." Isel langsung mengambil alih komputer untuk melawan hacker yang sudah bekerja, bukti terakhir hanya ada di komputer Dean.


Isel menghubungi Vio yang tidak menjawabnya, langsung menghubungi Weni yang ternyata baru bangun tidur setelah berpesta.


"Di mana Yolan, minta dia masuk ke akun sekarang," pinta Isel melalui panggilan.


"Anjing babi kamu Wen, lihat saja jika bertemu aku pecahkan kepala kamu." Isel berteriak kuat mengucapkan kata kotor.


Vio menyambut ponsel Weni, meminta Isel juga bergabung karena Yolan sudah masuk lebih karena tim khusus menghubunginya jika ada hacker yang merusak data.


Kepala Isel mengangguk, bermain perang melalui komputer untuk mengambil alih data yang dicuri dan dihapus.


"Lan, ambil apa yang mereka curi dan aku akan merusakkan akun mereka sampai dia tidak bisa lagi bermain komputer. Cari alamat dia Vio, buat dia buta matanya untuk selamanya." Isel mengembalikan layar komputer Dean ager kembali seperti semula.


Komputer sudah reset sehingga tidak ada apapun lagi, dan lebih mirip komputer baru yang belum tersentuh.


Dean terduduk lemas, perjuangannya selama berbulan-bulan bisa lenyap begitu saja bukan hanya Dean, tapi tim kepolisian juga hanya bisa gigit jari.


"Virus berasal dari ruangan ini, maka ada orang yang menggunakan komputer Uncle." Isel menatap Dean yang juga mencari seseorang.

__ADS_1


"Ren pelakunya, di mana dia?" Dean kehilangan Ren yang sudah melarikan diri setelah menghacurkan seluruh barang bukti.


Senyuman Isel terlihat, mengusap punggung Dean meminta tenang karena Yolan akan memulihkan data yang dicuri dan menyerahkan kepada Dean.


"Apa wanita yang bernama Yolan itu bisa dipercaya?"


"Yolan bukan perempuan Uncle, tapi setengah." Gigi Isel nyengir meyakinkan suaminya untuk percaya kepada orang-orang yang bekerja bersama Isel.


"Yolan, nama aslinya?" Brayen lebih penasaran dengan Yolan yang ternyata ahli di bidang IT.


Jari Isel mencolok hidung Brayen agar tidak penasaran dengan teman-temannya jika sampai kenal bisa ikutan gila.


Dean menarik tangan Isel yang menyentuh hidung Brayen, melarang menyentuh lelaki apalagi di depan dirinya.


"Di mana Yolan berada, kita temui dia sekarang." Dean mengambil kunci mobil.


"Tunggu Uncle, Isel belum mandi, belum sarapan juga. Hari ini jadwal Isel ganti warna rambut," ucap Isel menolak pergi.


"Ya Allah, astaghfirullah. Sel, kamu mandi sekarang uncle buatkan sarapan, nanti kita ada waktu luang uncle yang temani ganti warna rambut." Dean memohon kepada gadis kecilnya yang sedang berpikir.


Hairin yang melihat secara langsung hubungan Dean dan Isel merasa lucu karena keduanya sangat unik, hubungan pernikahan memang jauh lebih baik bagi keduanya.


Kepala Isel mengangguk, Dean langsung bernapas lega berjalan ke dapur untuk membuat sarapan.


"Apa kamu berpikir Dean hanya sayang?" Brayen melihat ke arah Hairin.


"Sayang, rasa sayang Dean kepada Isel tidak bisa diukur dengan siapapun, tapi aku yakin Dean cepat atau lambat akan mencintai Isel." Irin tersenyum manis karena meksipun Isel masih muda dia sangat ahli dalam banyak hal.


Kepala Brayen mengangguk, memberikan jempol kepada Hairin yang memang memiliki aura positif, tidak nampak tatapan buruk sama sekali dan sudah pasti wanita idaman banyak pria.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2