SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BUNUH DIRI


__ADS_3

Tarikan napas Diana panjang melihat kekacauan di rumah si kembar, sedangkan Mimor asik tidur.


"Apa yang kamu lakukan Dean?" Diana menatap tajam adiknya yang membahayakan istrinya sendiri.


"Dean pikir sudah pulang, lagian Dean juga tidak tahu jika Mimor ikut." Dean menjelaskan kronologi yang terjadi, dirinya tidak bisa bertindak gegabah karena ada beberapa nyawa yang bisa terancam.


Kondisi Laura, belum lagi Isel yang memaksa untuk ikut. Tidak diizinkan pergi sendiri karena ingin menyelamatkan temannya.


Jangan bertanya soal cemasnya Dean, dirinya tidak mungkin meminta bantuan Tika Shin jika bisa menghandle semuanya.


"Sekarang bagaimana kondisi Laura?"


"Belum sadar, kasus bunuh diri Mami Rose juga sudah terungkap jika Brayen dan Kim yang membunuhnya." Dean mengambil ponselnya saat mendapatkan panggilan jika Brayen bunuh diri.


Dia dilarikan ke rumah sakit, Dean bergegas pergi bersama Diana. Tidak mengizinkan Isel tahu karena sedang tidur memulihkan tenaganya.


Diana bahkan memanggil dokter khusus untuk menjaga bayi kembar yang sedang Isel kandung.


"Sialan sekali manusia satu itu, setelah membuat keadaan kacau dia memutuskan mati." Diana memukul dasbor karena akan membuat Brayen ke neraka secepatnya.


"Kita bahkan belum mendapatkan keterangan apapun, dan Brayen sudah memutuskan untuk mati." Tarikan napas Dean panjang karena sangat membenci Brayen.


"Bagaimana hubungan Brayen dan Isel, apa kamu tahu sedekat apa?"


Kepala Dean mengeleng, Isel mengenal Brayen saat dia pergi dari rumah ketika semua orang menentang keinginannya.


Selama di sana Isel tidak menunjukkan siapa dirinya, hidup sederhana dengan bekerja keras. Brayen salah satu teman terbaiknya.


Saat Brayen tahu Isel menikah terlihat biasa saja, bahkan hubungan dengan Dean sangat baik. Tidak pernah terpikirkan akan menyimpan amarah besar, hingga berbuat nekat.


Mata Diana terpejam sangat mengenali Putrinya yang menyukai persahabatan, dia bukan Ian yang suka menyendiri, bukan juga Ion yang memilah teman.


Isel memiliki cara sendiri menilai seseorang, dia pasti kecewa sekali dengan tindakan Brayen. Hatinya terlalu yakin jika semua temannya baik, pengkhianatan Vio juga tidak Isel tanggapi, dia pilih menutup telinganya menganggap semuanya baik.


"Kasihan Putriku yang patah hati karena tindakan sahabatnya," ucap Diana yang manyun.


"Jangan seperti itu ekspresinya, Dean semakin susah berpikir," bentak Dean karena sikap Diana kekanakan padahal hampir jadi Nenek.

__ADS_1


"Kurang ajar kamu membentak aku Dean, bagaimanapun juga aku mertua kamu!" Diana memukul kepala Dean kuat.


Tangan Dean mengusap kepalanya, merasakan sakit karena pukulan maut dari Diana yang memecahkan kepalanya.


Mobil tiba di rumah sakit bersamanya dengan mobil kepolisian yang berusaha menyelamatkan Brayen. Diana berlari meminta ruangan karena akan menangani langsung.


"Kak, kabari Dean secepatnya." Kepala Dean mengangguk, meminta Diana menyelamatkan bukan melenyapkan.


Belum waktunya Brayen mati, Dean ingin kasusnya selesai dengan penahanan siapapun orang dibalik layar.


Suara langkah berlarian terdengar, Bian menatap Dean yang mondar-mandir di depan ruangan menunggu hasil pemeriksaan.


"Bagaimana kondisi Isel?"


"Kenapa kamu bertanya istriku? Tolong jangan memancing emosi."


"Memangnya salah, bagaimana kondisi Isel saat tahu keadaan Brayen?"


Lirikan mata Dean tajam, Isel belum tahu karena Dean tidak akan memberitahu kepada istrinya sebelum semuanya jelas.


Di dalam ruangan rawat, Diana menghentikan pendarahan karena Brayen memang sengaja melukai dirinya demi bisa bicara di luar kantor polisi.


Perlahan mata Brayen terbuka, melihat ke arah Diana yang duduk santai menunggunya untuk bicara.


"Kamu masih jauh dari kata mati, cara menyayat kurang dalam." Diana menawarkan untuk praktek cara bunuh diri yang tepat.


"Aku yang membunuh Mami Rose?" mata Brayen meneteskan air mata.


Setelah menikah satu minggu keadaan normal, tapi sikap Mami Rose mulai terlihat saat tahu Brayen hanya lelaki biasa.


Setiap detik dirinya dibandingkan dengan banyak orang tanpa Brayen tahu siapa, makan juga tidak tenang karena selalu dilempar dengan piring.


"Kamu membunuh Mami Rose karena tindakannya?"


"Ya, lebih baik dia mati. Aku sangat sakit hati karena tidak ada ruang bagiku bernapas."


"Lalu bagaimana dengan Laura, kenapa kamu tega menyiksa dia?"

__ADS_1


Brayen diam, lama dirinya terus diam. Tatapan mata Brayen ke arah cincin nikah yang masih terpasang.


Laura memang baik, dia selalu membela Brayen dan memberikan makanan bahkan rela jatah makannya diberikan.


"Dia terlalu baik, untuk lelaki yang sudah membunuh Ibunya. Daripada Laura merasakan cinta yang lebih dalam, lebih baik aku menyakitinya agar rasa cintanya hilang." Brayen tidak bisa meneruskan rumah tangganya, perasaan kepada Laura juga tidak seutuhnya.


Sejujurnya Brayen mencintai Isel, tapi sadar diri saat tahu Isel anak orang kaya. Awalnya mencoba menerima soal pernikahan Isel dan tahu diri.


Kim datang menawarkan kemewahan, dirinya gelap mata ingin memiliki Isel dan hidup setara sehingga bisa mengimbangi keluarga Isel.


"Kamu juga yang dulu menyebabkan Isel kecelakaan hingga keguguran?" Diana tahu sikap iri hati sudah lama ada.


Kepala Brayen mengangguk, dia memang tahu, tapi diam saja karena ingin melihat Isel dan Dean berpisah.


Kepala Diana geleng-geleng, kebodohan Brayen karena mencampakkan wanita baik, mencoba menggapai sesuatu yang tidak mampu dimiliki.


"Ini ada obat, lakukan sesuka kamu. Sekalipun masuk penjara, kamu akan tetap mati karena Kim dan bawahannya tidak akan tinggal diam." Diana melangkah pergi.


"Tolong, minta Dean mengambil bukti kejahatan Kim di ... Mereka sedang mencari itu. Kim tidak boleh bebas, demi keselamatan Laura." Brayen memejamkan matanya menelan obat yang Diana berikan berpikir akan mati, padahal hanya obat tidur.


Diana keluar ruangan, menatap Dean dan Bian yang saling tatap menunggu kabar Brayen.


"Dia tidak akan mati dengan mudah, Bian kamu yang harus pergi ke rumah lama Laura, ambil sesuatu benda berbentuk bintang, bawa itu kepada Kak Gem." Diana menepuk pundak Bian yang mengerutkan keningnya tidak paham apa yang diucapkan Diana.


Masuk ke sana saja susah, bagaimana mungkin dirinya bisa mencari bintang di rumah yang berukuran sangat besar. Bahkan letaknya saja tidak diberitahukan.


Dean menyemangati Bian, melangkah pergi mengikuti Diana yang pasti tahu apa yang terjadi kepada Brayen.


Beberapa polisi berjaga di depan ruangan rawat, Diana menghentikan langkahnya saat ada seorang dokter yang melewatinya.


"Ada penyusup Dean." Diana melihat Dean yang sudah memborgol tangan pria yang melewati Diana.


Senyuman Diana terlihat karena Dean ternyata sudah peka dan sangat jeli. Tidak heran dia bisa menjadi Jaksa muda yang berprestasi dan memiliki kasus berat.


"Tangkap dia!" Dean menatap beberapa polisi yang mengeledah seorang dokter yang menyamar. Ada banyak tato ditubuhnya.


"Sekarang kamu cukup hebat," puji Di.

__ADS_1


"Adiknya siapa dulu, masa kakaknya dokter hebat, Mama pengacara, Papa polisi akunya tidak hebat," puji Dean kepada dirinya sendiri.


***


__ADS_2