
Suara pintu digedor terdengar, Lea menendang pintu apartemen Aira dengan emosi. Pintu terbuka begitu saja, sedangkan Aira masih duduk menonton televisi.
"Aira, dari mana kamu tahu jika aku dan Blackat bukan saudara kandung?"
"Wajah kalian berdua tidak mirip, satunya ganteng dan satunya biasa saja." Aira menutup mulutnya saat melihat kehadiran Black.
Secara terang-terangan Aira baru saja memuji ketampanan Blackat. Ai ingin menarik kembali ucapan, tapi terlambat Lea sudah seperti orang yang terbakar jenggotnya.
Televisi di matikan, Aira mengumpat kasar. Lea menarik tangan Ai agar duduk dan menjelaskan kepadanya.
"Apa yang kamu ketahui?"
"Cari tahu saja sendiri, jika aku tahu banyak mungkin kasus kematian Anggrek tidak mungkin selama ini." Ai tersenyum menatap Lea yang memicingkan matanya.
Sebuah foto Lea berikan, di kamar kakaknya ada foto Aira. Lea juga menceritakan apa yang dia lihat, dengar bahkan soal obat-obatan.
Ai menatap foto yang Lea ambil, langsung menghapus karena dugaan Aira benar jika dia memiliki pengagum rahasia yang tidak baik dalam menatapnya.
Anggrek pernah memperingati Aira soal seorang pria dewasa yang mengagumi Aira, bukan kagum sebagai rasa cinta, tapi hanya untuk kepuasan hasrat saja.
"Aku mencoba mencarinya, tapi fakta yang aku temukan di luar dugaan. Benar tidaknya aku tidak peduli. Tujuan aku bukan mengetahui hubungan kalian berdua." Ai menatap Blackat yang ternyata juga tahu jika dirinya bukan anak kandung.
"Kenapa bisa kami tidak kandung?"
"Mungkin hanya Black yang bisa menjelaskan, "
Black sudah lama tahu sejak Papa mereka meninggal, Black juga tidak bisa mengungkap alasan Papanya meninggal tidak ingin Lea semakin sakit, cukup dirinya yang merasakan sakitnya.
Sebelum meninggal bapaknya berpesan agar Black menjaga adiknya, dan meminta maaf karena harus mengungkap jika dirinya bukan anak kandung melainkan bayi yang ditemukan oleh istrinya.
"Itu juga awal aku mengetahui jika Anggrek kembar, kalian lahir dengan kondisi yang tidak baik. Memiliki penyakit yang bergonta-ganti, tidak sanggup untuk biaya akhirnya kedua bayi kembar dipisahkan." Black masih tidak percaya atas apa yang dikatakan Papanya, sampai akhirnya Blackat memiliki uang setelah film pertamanya untuk tes DNA.
Barulah Black percaya jika Anggrek dan dirinya bukan kandung, tidak ingin membuat Ibunya kecewa makanya Blackat menutupi serapat mungkin.
"Kebenaran ini tidak seharusnya terungkap, tidak ada sisi baiknya sama sekali." Black akan tetap menganggap Lea seperti adik kandungnya.
"Baguslah jika kita bukan saudara, aku tidak ragu lagi menghancurkan kamu. Kalian berdua bersiaplah untuk aku hancurkan!" Lea menatap sinis Aira dan Blackat yang menatapnya.
Senyuman Aira terlihat, Lea tidak bisa menerima kenyataan dan terlalu takut kebenaran terungkap. Apalagi jika keluarganya terungkap.
__ADS_1
"Lea, kemungkinan Gilang juga terlibat. Kita berada di posisi yang sama, dan ini mungkin menjadi akhir yang menyakitkan." Black memeluk adiknya yang menahan kesedihannya dengan mengepalkan tangannya.
"Di mana kakak kamu sekarang Lea? bagaimana rupanya?"
"Untuk apa kamu?"
Aira menghela napasnya, berbaring kembali membiarkan Lea dan Blackat berdebat. Lelah mengamuk akhirnya Lea tertidur di kamar Aira,
Black melangkah keluar melihat Aira yang masih asik menonton televisi, senyuman terlihat sangat lebar.
Mata Aira melirik ke arah Blackat yang duduk sambil mengusap wajahnya dan memijit pelipisnya.
Terlihat sekali masalah keluarga Black sangat rumit, belum lagi soal banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
Pemberitaan soal hubungan Black dan Ai membuat keduanya memiliki banyak tawaran film, drama bahkan endorse yang terus berdatangan dengan tawaran yang fantastis.
"Jangan terlihat stres begitu, besok kita ada pemotretan. Aku tidak ingin pasangan aku wajahnya mirip bakpao." Aira menepis bantal yang dilempar ke arahnya.
"Kamu masih sempat memikirkan pekerjaan?"
"Lalu apa yang harus aku pikirkan?"
Sekarang tujuan mereka bukan hanya mencari kebenaran, sudah menyangkut paut orang-orang terdekat. Sejak awal, Aira, Black dan Lea sudah terikat dengan masalah Anggrek.
"Yakin kamu siap tahu segalanya? aku tidak akan tersakiti soal siapa pelakunya, apa motifnya dan apa akhirnya." Ai menatap Pria yang duduk di sampingnya.
Senyuman Aira terlihat, meminta Blackat mengikuti dirinya ke tempat pameran milik Aira. Di manapun Aira berada, dia selalu mengirimkan karyanya untuk dijadikan pameran, tapi tidak diperjualbelikan.
Kepala Black mengangguk, melangkah keluar bersama Aira menuju tempat pameran yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Sampai di sana, Aira menghidupkan semua lampu berdiri di depan sebuah lukisan yang sangat bagus.
"Lukisan bagus, apa kamu yang menggambarkannya?" Black mengangumi lukisan pertama yang Aira tunjuk.
"Apa yang kamu lihat dari lukisan pertama ini?"
"Dua orang yang sedang berjalan-jalan, pemandangannya juga indah." Tatapan Black fokus ke arah gambar.
Kepala Aira menggeleng, makna lukisan bukan hanya dua orang yang berjalan. Lukisan pertama yang Aira buat, pertemuannya dengan Anggrek. Rumah pelangi tempat kecelakaan, ada penampakan rumah sakit yang samar. Salah satu gambar orang memiliki beberapa luka.
__ADS_1
Orang biasa hanya melihat dua orang yang sedang bahagia, tapi seorang seniman akan melihat jika dari gambar menunjukkan rasa sakit, juga musibah.
"Kamu juga seorang seniman Black, tidak mungkin kamu hanya menganggap ini lukisan biasa?"
Kepala Black mengangguk, dia memahami maksudnya. Dua orang yang tidak menunjukkan senyuman, namun dari kepahitan yang terlihat. Black menunjukkan tangan yang saling bergandengan.
"Kenapa kamu fokus ke situ? apa maksudnya?"
"Kamu tidak ingin melepaskan Anggrek, ingin menjaganya bukan sekedar rasa kasihan. Tersimpan kebahagiaan di awal pertemuan." Black tersenyum bersama Aira, berjalan ke gambar kedua yang memang menunjukkan kebersamaan yang membuat bahagia.
Blackat mengangumi gambar Aira yang sangat bagus, dan memiliki makna yang melekat.
"Inilah awal Anggrek sudah tiada." Ai menunjukkan lukisan dua wanita yang berjalan ke arah yang berbeda.
Satunya pergi ke tempat yang terang, memiliki cahaya juga melangkah dengan senyuman, sedangkan yang satunya pergi ke tempat yang gelap membawa kesedihan.
Blackat langsung tertawa, Aira memukul lengannya karena lukisan itu memiliki arti yang sangat memilukan.
"Ai, bagi orang yang hanya menyukai seni, dia pasti tertawa. Satunya masuk surga, dan satunya neraka." Black tertawa menahan kedua tangan Aira yang memukulinya.
"Sialan! aku menggambar itu sambil menangis, dan kamu tertawa." Aira menjambak rambut Black.
"Sakit Ai, Kamu boleh mengejek orang, tapi saat di ejek marah." Black menyentuh hidung Aira yang ada noda merah.
"Jangan sentuh aku,"
"Hidung kamu luka, diam sebentar." Black melangkah mendekat, menyentuh hidung yang ada bekas di darahnya.
Kaki Aira menjinjing, menyentuh hidung Black mengunakan hidupnya. Menyatukan hidung keduanya.
"Apa kamu tidak pernah bersentuhan dengan wanita?"
"Pernah saat main film." Blackat langsung mundur.
***
follow Ig Vhiaazaira
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
__ADS_1