SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
BINATANG


__ADS_3

Sampai di apartemen Juan langsung membuka pintu mengerutkan keningnya melihat Black banyak luka. Rambut Aira juga berantakan lebih kaget lagi Dean membawa banyak barang.


"Permisi Kak,"


"Tunggu dulu Dean, ini ada apa? kenapa membawa banyak orang juga barang?"


"Nanti Dean ceritakan di dalam saja, bawaan Dean berat bisa patah tangan." Cepat Dean masuk, diikuti oleh yang lainnya.


Keputusan Dean untuk sementara tinggal di apartemen ditolak langsung oleh Juan. Dia tidak setuju jika tempat tinggalnya dijadikan markas.


Sejak awal Juan sudah mengatakan jika dia tidak ingin ikut campur, tidak perduli apapun kondisi sulitnya Black. Juan meminta semuanya keluar dan tidak menganggu ketenangannya.


Tangan Lea tergempal kuat, dia sangat mengangumi sosok Juan, tapi melihat sikapnya secara langsung membuat Lea kecewa dan tidak menyukai kepribadian.


"Hanya sementara Kak,"


"Sekali aku bilang tidak jawabannya sama." Juan berjalan membuka pintu, lalu dia pergi ke kamarnya.


"Kak Juan kenapa? jika ada masalah pribadi jangan libatkan kita sebagai pelampiasan emosi." Teriakan Aira terdengar menatap tajam wajah Kakaknya.


"Sampai kapan kamu bersikap seperti ini? usia kamu tidak muda lagi Ai, berpikir lebih dewasa. Pendidikan saja tidak lulus, hanya sibuk dengan impian tidak jelas kamu. Jangan mempermalukan keluarga hanya untuk menjadi selebriti sampah." Ucapan Juan terdengar jelas di telinga Aira dan Lea.


Ai sangat kecewa dengan ucapan Kakaknya, terlihat sangat rendah sampai dibandingkan dengan sampah.


"Ayo kita pergi Kak," ucap Lea.


"Baiklah, kita pergi saja. Kamu memang sangat suci sehingga kami terlalu kotor untuk kamu. Tuan Juan yang terhormat, saya memang tidak berpendidikan tinggi seperti anda, tidak juga berprestasi, benar kuliah saja tidak lulus. Andriana tahu jika hanya sebatas sampah." Ai langsung melangkah pergi membanting pintu dengan sangat kuat.


Tangan Juan tergempal, berjalan mengejar adiknya yang merasa tersinggung dihina keluarga kandungannya. Disakiti oleh orang luar tidak bisa dibandingkan dengan hinaan keluarga sendiri.


Tangan Lea mengusap telapak tangan Black, dia berharap saat bertemu Juan yang jenius bisa mengobati luka kakaknya.


Mereka tidak sempat bertanya apa saja luka di tubuh Blackat, bukan mendapatkan perlakuan baik tetapi sebaliknya diperlakukan rendah.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis?"


"Dunia ini jahat Kak, kita bukan penjahat tapi rasa sayatan sakit sekali. Apa pekerjaan kita begitu rendah dibandingkan status keluarga ini. Kita memang tidak jelas anak siapa berbeda dengan mereka yang memiliki keluarga utuh. Manusia kejam sekali." Air mata Lea menetes membasahi pipinya merasa sangat sakit hatinya.


Senyuman Black terlihat, memeluk Lea yang tersinggung dengan penolakan Juan. Hatinya terluka karena mereka dianggap rendah.


"Jangan tersinggung, Juan bukan seseorang yang sengaja mengatakannya untuk menyakiti perasaan. Jangan nilai buruknya, tapi ambil baiknya." Black tidak tersinggung sama sekali, dia paham posisi Juan yang juga memiliki banyak beban pikiran.


Keadaan Black memang akan mempersulit Juan, dia sedang masa percobaan dan tidak ingin konsentrasi terganggu.


Jika sampai wartawan mengetahui keberadaannya, Juan pasti akan terseret juga karena sudah menyembunyikan keberadaan Black.


"Kita pergi dari sini Kak, sebelumnya kita ke rumah sakit dulu untuk mengobati luka ini." Tangan Lea tidak berani menyentuh tubuh Black yang penuh sayatan meskipun tidak dalam.


Tangisan Lea kembali terdengar sesenggukan melihat kondisi sulit Kakaknya, tapi tidak ada satupun keluarga yang mempedulikan.


"Lea, berhenti menangis. Jika mudah tersinggung maka hidup kamu tidak ada arah. Jangan pedulikan apa yang dikritik, cukup perbaiki diri. Sudah lupakan apa yang Juan katakan." Black juga merasa sedih melihat adiknya merasa sangat terluka hanya karena keberadaan mereka tidak diterima.


Black pamitan kepada Dean, dia akan menghubungi kembali jika ada tempat yang nyaman untuk mereka tempati.


"Aku minta maaf ucapan aku sangat kasar, tidak memahami kondisi kalian ...."


"Tidak Juan, kamu tidak salah. Maafkan jika kedatangan kami menganggu, dan aku dan Lea pamit dulu." Black tersenyum lembut mengambil tas Lea merangkul Adiknya untuk pergi.


"Aku obati dulu luka kamu Kak Black,"


"Tidak perlu, jangan mengotori tangan suci kamu. Kami memang tidak memiliki pendidikan tinggi seperti kamu dan keluarga, tidak juga berpangkat dan berstatus. Pekerjaan kami rendah, lebih rendah dari jual diri." Kedua tangan Lea menghapus air matanya, menepis tangan Blackat yang menutup mulutnya.


Black menarik tangan Lea untuk pergi, meminta maaf kepada Juan atas ucapan Lea yang tersinggung.


"Kamu tidak tahu rasanya melihat adik kamu meninggal di depan mata, melihat ibu kamu tergantung. Lebih sakitnya lagi orang yang melakukan keluarga yang membesarkan aku. Tidak tahu bedanya cinta yang tulus atau memanfaatkan. Aku tidak tahu harus melakukan apa? jika bisa ditukar aku saja yang mati, jika bisa aku memilih, aku tidak ingin lahir. Jadi aku satu hari saja Juan, rasanya aku ingin melenyapkan semua manusia di dunia ini." Teriakan Lea terdengar, Black juga berteriak menutup mulut Lea yang sudah teriak histeris.


Kedua tangan Dean meremas rambutnya, Isel sudah menangis kasihan melihat Lea yang terguncang mentalnya.

__ADS_1


Aira memegang kedua tangan Lea, memintanya untuk melepaskan amarah kepada dirinya. Ai tahu rasanya menjadi Lea, tahu sakitnya berpura-pura baik di depan banyak orang.


"Capek ya, lelaki memang tidak ada yang mengerti. Dunia boleh meninggalkan kamu, tapi aku tidak. Sampai kamu bahagia, aku tidak akan melepaskan kedua kalinya." Ai memeluk erat, mengusap punggung Lea yang sudah terduduk lemas.


Tangan Aira mengusap rambut Lea, tersenyum sambil meneteskan air matanya. Ai sudah lama ingin memeluk Lea, menenangkan dan tidak terlalu lama terluka.


Selama ini Lea terlihat kuat, dan tidak takut apapun. Dia menjadi tanggung dari luar, tapi menyimpan sakit dalam diam.


"Aku sayang Mami Papi, sayang Kak elo, sayang juga Kak Black. Aku tidak ingin kehilangan, aku takut Ai." Suara tangisan Lea terdengar pelan, dia ketakutan setiap harinya.


"Kenapa takut? kamu punya aku. Tidak ada yang salah di dunia ini, hanya kita yang membuatnya jadi salah. Kamu mencintai keluarga, meksipun tidak dicintai pasti suatu hari cinta tulus datang untuk kamu." Ai memiliki cinta keluaga, Lea juga memilikinya hanya saja keluarga mereka berbeda.


Lea takut kehilangan keluarga bahagia, tapi jika dia diam hatinya terus merasa bersalah kepada saudaranya.


"Lepaskan, aku ingin keluar dari tempat ini. Nanti rumah ini busuk karena bau sampah." Lea menghembuskan ingus dan membuangnya sembarang tempat.


"Kenapa kamu marah? aku menegur Aira bukan kamu," ucap Juan santai.


Satu jari Dean ada di bibirnya, Juan tidak paham jika wanita sukanya salah paham dan mudah baper.


"Kamu menghina pekerjaan kamu anjing,".


"Apa? anjing. Aku manusia,"


"Ya manusia berhati anjing." Lea menatap tajam, Ai menarik Lea menjauh.


Dean juga menarik Juan untuk diam, tidak ada gunanya menjawab karena dia akan tetap salah.


"Dia menyebut aku binatang,"


"Sudahlah Kak, Dean yang anjing kalian semua manusia." Kepala Dean pusing hanya karena anjing.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2