
Di ruangan make up Aira sudah menggunakan make up diawasi oleh Lea karena mereka akan pergi ke acara besar.
Di sana banyak sekali wartawan, juga para pejabat negara, pengusaha juga orang-orang berpangkat.
"Kamu cantik sekali Lea? ingat mencari jodoh kamu?"
"Mungkin, siapa tahu ada jodohnya. Di sana diisi oleh banyak orang kaya." Lidah Lea terjulur merapikan gaunnya.
Bibir atas Aira terangkat, mengulurkan kakinya. Saat Lea berbalik langsung tersungkur jatuh.
Tawa Aira dan para staf terdengar, Lea langsung berdiri menarik baju Aira ingin memukulnya, langsung dihentikan oleh perias.
"Kalian berdua ini seharusnya kompak dalam tim, kenapa ribut?"
"Persiapan keamanan seketat mungkin, Aira akan muncul bersama Black." Lea langsung melangkah keluar karena kesal.
"Lea Lea kamu sangat lucu,"
Beberapa mobil sudah berkumpul, Blackat sudah duduk di dalamnya masih menunggu Aira.
Ketukan terdengar, Blackat membuka kaca mobil melihat Lea yang tersenyum manis melihat Black yang memilih menandatangani kontrak bersamanya.
"Kak Black santai saja, jangan tegang." Beberapa permen Lea keluarkan, saat dirinya tegang selalu makan yang manis.
"Aku santai Lea, terima kasih." Tangan Black menadah permen dan menawarkan kepada Gilang.
Kening Lea berkerut, dia tidak pernah tahu jika Gilang kembali bersama Black. Lea hanya mendengar kabar, jika Black memilih sendiri managernya.
"Jangan cemaskan Gilang, aku nyaman bersamanya." Senyuman Black terlihat meyakinkan Lea jika dia dan Gilang bisa bekerja agar tidak merugikan perusahaan.
Kepala Lea mengangguk, selama Black yakin maka Lea hanya bisa percaya. Aira menepuk pundak, meminta menyingkir.
"Minggir, Queen ingin lewat." Ai masuk ke dalam mobil meminta Lea segera pergi.
Teriakkan Aira terdengar membuat telinga Black sakit, Ai kaget melihat keberadaan Gilang yang sudah ada di mobil.
"Kenapa pria kotor di sini?"
Blackat meminta Aira menjaga ucapannya, Gilang satu-satunya orang yang paling lama bersama Black. Melayani dan menyediakan segalanya, Blackat tidak ingin mengungkit apa kesalahan Gilang, dia juga bukan seseorang yang sempurna.
"Awas saja jika nanti menyesal." Ai menggelengkan kepalanya, dia tidak mudah percaya dengan seseorang dan tidak menyukai kesempatan kedua.
Beberapa mobil mulai jalan, Blackat membiarkan Aira mengomeli Gilang yang pastinya telinganya panas.
__ADS_1
Ai mengoceh tanpa henti, hingga mereka sampai di hotel tempat acara diadakan. Kamera sudah memenuhi segala tempat, beberapa selebriti, aktris terkenal berdatangan.
"Itu jalur apa?"
"Pengusaha, mereka yang melalui jalur itu tidak boleh tersorot kamera." Gilang menjelaskan ada tiga jalur, pertama khusus para publik figur, kedua para pejabat negara, dan ketiga pengusaha.
"Tidak ada jalur pelayan?"
"Berhentilah bercanda Aira, apa kamu ingin mengepel dinding?" Black mengerutkan keningnya melihat Imel masuk menggunakan jalur selebriti.
Mata Aira juga terbelalak besar melihat Imel berdiri bersama Silvia yang namanya naik kembali, dia pindah agensi setelah pembatalan kontrak.
"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Imel memperlihatkan dirinya secara publik." Ai melihat wajahnya di kaca mengagumi dirinya sendiri.
"Jika orang tidak kenal, wajahnya beda dengan Lea." Blackat tidak ingin rasa iri Imel menyengsarakan Lea.
Senyuman Black terlihat, mereka harus bersiap turun. Pintu terbuka pengawal dari perusahaan langsung berdiri di depan pintu mobil.
Seluruh wartawan melupakan keberadaan Silvia dan Imel yang masih berdiri, tidak ada satupun kamera yang mengarah kepadanya.
Kaki Black melangkah keluar, flash kamera menyilaukan mata. Tangan Black terulur, Aira langsung mengulurkan tangannya menyambut Blackat.
Suara penggemar dari kejauhan histeris, Black dan Ai tersenyum melambaikan tangannya. Banyak yang mengabadikan moments dua orang terkenal yang berjalan bersama melewati red karpet.
Gilang langsung menyilang tangannya, perusahaan melarang Blackat memberikan jawaban apapun.
"Black, Aira katakan sesuatu." Wartawan berteriak.
"Terima kasih semuanya." Black mengandeng Aira berjalan ke dalam karena bodyguard sudah meminta keduanya masuk.
Baju Aira menyambut diinjak oleh wartawan, Black dengan sopan menggakat dan meminta Aira jalan.
"Lain kali jangan seperti putri duyung,"
"Salahkan saja desainer yang membuatnya." Ai memukul lengan Black kesal.
Keduanya terang-terangan menunjukkan kedekatan di depan publik. Dari tempat lain, Silvia dan Imel menatap penuh kebencian.
Black dan Aira menjadi pusat perhatian seluruh orang, perkumpulan yang spektakuler untuk pameran dimenangkan oleh keduanya padahal acara belum dimulai.
"Ai, Black, meja kalian ada di sana." Gilang mengiring keduanya untuk berjalan ke meja khusus.
Kepala Black menunduk saat melihat Juna dan Shin, tapi Aira langsung mencubit tangannya. Black dilarang menyapa keluarganya, mereka orang asing di depan publik.
__ADS_1
"Jaga sikap Black, kamu tahu jika tidak boleh ada yang tahu siapa keluarga aku,"
"Sorry, aku tidak tahu." Black duduk di meja khusus namanya dan Aira.
Beberapa Dokter terkenal menyapa Juna, ditemani juga oleh Shin. Meja Juna berisikkan beberapa Dokter.
"Kenapa Kak Di ada di meja lain?"
"Ikut suaminya,"
Black menganggukkan kepalanya, menarik tangan Aira karena Genta dan Gemal berjabatan tangan dan duduk bersama.
"Bodoh, Kak Genta itu bawahan Kak Gemal. Tidak mungkin bawahan lewat saja, bisa dipecat bego." Ai menatap kesal melihat ke arah Amel yang duduk di meja lain.
Beberapa aktor menyapa Blackat, saling peluk. Banyak sesama aktor yang menanti Black kembali bermain di film laga.
"Aku pikir hubungan kalian berdua hanya gosip, good Aira kamu berhasil menemani Black dalam keadaan ada masalah." Seseorang menjabat tangan Ai.
"Iyalah setia, aku pembuat masalahnya." Ucap Aira pelan membuat Black tersenyum.
Beberapa aktris memeluk Black, Aira menunjukkan senyuman manis. Bisa melihat wajah Black risih.
"Black, boleh kita duduk di sini,"
"Maaf, ada yang memiliki kursi ini." Gilang tersenyum berdiri di belakang Blackat.
Juna menatap Black yang merapikan bajunya, terlihat sekali wajah tidak nyamannya berada di tempat umum.
"Apa yang Aira sukai dari kehidupan seperti itu? mereka harus tersenyum penuh kepalsuan." Juna menatap istrinya yang senyum manis.
"Itu dunia yang menyenangkan, mereka memiliki banyak kenalan. Black juga memiliki pesona yang membuat orang langsung jatuh cinta, begitupun dengan Aira. Aku hanya melihat dia yang paling cantik di tempat ini." Shin kagum sekali dengan dua pasangan yang menjadi perhatian banyak orang.
Gilang memanggil bodyguard, meja Black terlalu menjadi pusat perhatian, semua orang menghampirinya meksipun sudah ada peringatan.
"Black, kalian duduk di tempat privat saja, terlalu banyak orang." Gilang berbisik, menatap Ai juga yang dikagumi kecantikannya.
"Kita tetap di sini, aku mengizinkan siapapun menyapa aku hanya satu hari saja." Black meminta Aira pindah jika merasa tidak nyaman.
"Kita tetap di sini, demi mengawasi seseorang." Ai dan Black kaget melihat seseorang anak dibawah umur datang.
"Ayang,"
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira