
Bermalam-malam Dean tidak tidur, masih duduk di depan komputernya begitupun dengan Ren yang membantu Dean memecahkan misteri istri tersembunyi milik Bian.
Kedua tangan Dean terlipat di dada, memperhatikan layar yang menunjukkan puluhan korban Bian.
"Istri tersembunyi Bian hanya ada delapan, kenapa di dalam laporan ada tiga puluhan? Bian tidak pernah membunuh korbannya, lalu kenapa masuk daftar tiga puluhan?" Dean memijit pelipisnya karena pusing memikirkan perkiraan paling tepat.
Mata Dean melirik ke arah Ren yang sudah tertidur, melangkah keluar dari ruangannya untuk beristirahat karena jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Pintu kamar Dean terbuka, melihat Isel yang sudah tidur dengan nyenyak. Baju Isel berhamburan di lantai menjadi kebiasaanya yang sangat berantakan.
"Kapan kamu bisa berubah menjadi wanita yang lebih rapi lagi?" Dean memilih tidur di samping Isel karena kepalanya pusing.
Tangan dan kaki Isel sudah berada di atas tubuh suaminya, memeluk erat hingga tidak ada jarak antara keduanya.
Senyuman Isel terlihat saat bangun menyadari ada Dean disisinya, Isel berpikir suaminya memilih menghabiskan waktu bersama Hairin.
Ketukan pintu kamar terdengar, tidak terasa ternyata Isel bangun kesiangan terlalu nyaman tidur di dalam pelukan suaminya.
"Siapa yang berani mengetuk pintu kamar?" Isel turun dari atas tempat tidur, suara Isel terhentak jatuh terdengar karena terpeleset menginjak bajunya sendiri yang berhamburan.
Mata Dean terbuka bisa melihat Isel yang sudah jatuh terlentang, hanya senyuman kecil yang terlihat agar Isel jera menghambur-hamburkan bajunya.
"Baju sialan, pinggang Isel sakit sekali." Isel merapikan bajunya agar tidak membuatnya pecah kepala.
Ketukan pintu kembali terdengar, namun terhenti setelah mendengar teriakkan marah Isel.
"Uncle, pinggang Isel sakit." Isel naik ke atas tubuh Dean yang masih memejamkan matanya.
"Salah sendiri, turun Sel tubuh kamu sudah berat." Dean membalik tubuh Isel agar ada di bawahnya.
Kedua tangan Isel memeluk leher Dean, mata keduanya bertemu. Kecupan Isel mendarat tidak bisa Dean hindari karena kepalanya dipeluk kuat.
"Sakit Sel," ujar Dean merasa bibirnya perih karena digigit.
"Isel gemes bibir Uncle." Berkali-kali Isel mengecupnya.
"Sadar otak kamu saja yang kotor padahal masih kecil," balas Dean meminta Isel melepaskannya.
Protes Isel terdengar karena dia sudah besar dan bukan anak-anak lagi seperti yang Dean katakan.
__ADS_1
Mata Dean terpejam, tangannya meremas bantal merasakan perih di lehernya bukan hanya satu tempat, tapi lebih dari tiga.
"Ais, aku tidak mungkin bisa memegang ucapan jika Isel terus memancing. Bagaimanapun aku lelaki normal yang memiliki nafsu," batin Dean menahan dirinya agar tidak terpancing.
Senyuman Isel terlihat mengusap leher Dean yang merah karena gigitan pelan, pelukan Isel sangat erat takut kehilangan Dean yang begitu dicintainya.
"Sel, kamu baik-baik saja? kamu belum cerita soal Bian?"
Bibir Isel langsung cemberut, Dean sangat pintar mengalihkan perhatian agar nafsunya tidak terpancing.
"Bian, dia sudah Om-om, tapi masih seksi. Isel melihat dadanya yang seksi, terus ada bulu halus di dadanya. Perutnya rata dan ada ototnya." Mata Isel terpejam membayangkan tubuh Bian di dalam imajinasi.
Dean yang mendengar memukul kening Isel kuat agar berhenti mengotori otaknya yang tidak berguna, apalagi memikirkan tubuh lelaki lain padahal sudah punya suami.
"Bangun Isel, jika tidak aku lempar kamu lempar kamu ke dalam bathub." Dean menarik tangan Isel agar segera berdiri dari tidurnya.
"Uncle, Isel belum selesai cerita, tadi Uncle tanya soal Bian. Dengarkan sedikit lagi, di bawah perut ada ...." Mulut Isel terbungkam membuatnya tidak berkutik.
Tangan Dean menutup mulut Isel, memintanya berhenti bicara agar telinga Dean tidak panas yang membuatnya emosi.
"Uncle yang bertanya?"
"Hanya itu yang Isel lihat, dia lebih seksi dari Uncle." Senyuman Isel terlihat saat Dean mengecup bibirnya agar berhenti bicara, langsung cepat melangkah pergi ke toilet.
Kedua tangan Isel menutup wajahnya karena Dean secara pribadi mengecupnya begitu lembut hanya karena tidak ingin Isel bicara soal Bian.
"Uncle uncle, seandainya Uncle tahu jika Isel melemparkan garpu hingga menancap di dada." Isel menarik selimut menggulung tubuhnya.
Suara Dean memanggil terdengar meminta Isel mengambil handuknya yang pastinya di buang Isel sembarangan tempat.
Panggilan Dean semakin meninggi juga kesal karena ulah Isel yang tidak menimpalinya sama sekali.
"Ghiselin," panggil Dean.
"Iya Uncle, kenapa?"
"Tuli kamu ya, handuk aku di mana?"
"Handuk ... maaf ya uncle handuknya basah jatuh ke dalam bathub." Isel mencari handuk Dean yang dia juga lupa diletakkan di mana.
__ADS_1
"Handuk kamu saja," pinta Dean terburu-buru karena dia punya banyak pekerjaan.
"Anu ... punya Isel dipinjam oleh Brayen tadi malam, soalnya dia mandi di apartemen." Isel menutup telinganya saat pintu terbuka dan dibanting kuat.
Jantung Isel berdegup kencang, takut menatap Dean yang menatapnya tajam menanyakan ulang apa yang Isel katakan.
"Di mana Brayen mandi?" Dean mengacak rambutnya yang masih basah kuyup.
"Di kamar lain, masa iya mandinya sama Isel." Senyuman Isel terlihat, matanya langsung berbinar melihat Dean tidak menggunakan baju hanya celana pendek tipis.
Kepala Dean tertunduk melihat tubuhnya yang keluar kamar mandi hanya menggunakan celana pendek. Cepat Dean mengambil bajunya untuk berganti di kamar mandi.
Tawa Isel langsung terdengar merasa lucu melihat Dean yang wajahnya merah menahan malu karena dilihat Isel dengan mata terbelalak besar.
Ketukan pintu kembali terdengar, Isel membuka pintu melihat Hairin berdiri di depan pintu kamar.
"Pagi Sel," sapa Hairin lembut.
"Pagi Kak, ada apa?"
"Di mana Dean, katanya Brayen ini kamar Dean?"
Senyuman Isel terlihat, menganggukkan kepalanya membenarkan mempersilahkan Hairin masuk untuk menemui Dean, sedangkan Isel langsung keluar.
Pintu kamar mandi terbuka, Dean meminta bantuan Isel mengeringkan rambutnya, tapi kaget karena Hairin yang ada di dalam kamarnya.
"Maaf Dean, kenapa kamu dan Isel satu kamar? maaf, aku tidak bermaksud banyak tanya apa karena aku yang menggunakan kamar Isel?" Hairin meminta maaf karena dirinya Isel harus menumpang tidur di kamar Uncle nya.
Kepala Dean mengangguk, menatap Hairin yang melihat ke atas meja ada foto Isel dan Dean yang sedang tersenyum bersama.
"Ini juga kamar Isel, kita sudah menikah beberapa bulan yang lalu," ujar Dean berkata jujur tidak ingin ada yang salah paham dengan hubungan keduanya.
Kepala Hairin mengangguk, belum menyadari ucapan Dean, saat dia sadar langsung menatap Dean kaget dan kehabisan kata-kata hanya tatapan yang penuh tanda tanya.
"Kamu pasti binggung? memang benar aku Uncle Isel, dan dia keponakan aku putri dari Kak Diana. Kita menikah tidak melanggar apapun karena aku dan Kak Di bukan saudara kandung, memang tidak banyak orang yang tahu soal ini, tapi itu faktanya." Dean meminta Hairin keluar karena tidak ingin ada salah paham, mereka bisa berbicara di luar kamar.
"Candaan kamu lucu Dean," balas Hairin sambil tersenyum.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira