SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
MULAI LELAH


__ADS_3

Mobil mewah melintas dan berhenti tepat di bangunan tua, dari lantai atas Aira sudah tersenyum melihat pria tampan keluar mobil dengan sangat gagah.


"Hai adikku yang paling tampan." Tangan Aira melambai melihat Dean yang akhirnya tiba setelah Aira hampir membanting ponselnya karena panggilan tidak dijawab.


"Masalah apa lagi yang kamu buat?" Dean mendongak ke atas melihat Aira yang sudah memincingkan matanya.


Tangan Aira meminta Dean segera naik, hentakan kaki terdengar langsung berjalan ke arah pintu. Dean pikir setelah Aira menjadi artis dia akan segera berhenti mengusik hidupnya, tapi masih saja selalu membuat repot.


Tendangan Dean terdengar sampai pintu ambruk, Aira sudah bertolak pinggang. Terpaksa Dean memperbaiki pintu sebelum teriakkan Ai menggema di telinganya.


Dean sedikit kaget saat melihat aktor terkenal yang baru saja membuat heboh dunia karena hubungannya dengan selebriti.


Berita perang, kecelakaan, gempa bumi, penggelapan dana dan banyak kasus lain tenggelam dari pemberitaan hanya karena penyiaran berita seorang aktor terkenal, menjalin kasih dengan seorang selebriti cantik.


"Ada apa ini? kalian membutuhkan pengacara untuk apa? kamu menggunakan obat, atau melakukan penggelapan dana?"


"Apa di otak kamu isinya hanya konflik? semua orang kamu cap menjadi penjahat." Lea langsung berdiri menatap Dean yang mengerutkan keningnya menatap Lea yang sinis.


Helaan napas terdengar, Dean langsung duduk di kursi dan langsung berbunyi besar karena kayu patah.


Aira dan Lea sudah mengulum senyum, cara pandang Dean sudah lain. Mengambil kursi dan membuangnya keluar.


Ai membekap mulutnya menggunakan jaket, tidak ingin Dean pulang jika menahan malu. Lea hanya tertunduk, tubuhnya sampai bergetar menahan tawa yang hampir meledak.


"Dean, kamu tahu kasus seorang wanita remaja yang meninggal di gedung depan?" Black melangkah keluar, menatap Dean yang membuang kursi.


Tatapan Dean fokus ke depan, memperhatikan lokasi yang cukup strategis. Namun terasa seperti tempat pemakaman.


"Gadis itu meninggal di rumah sakit,"


"Ya kamu benar, dan ada satu pemuda yang tertembak." Black memegang dadanya.


"Pemuda itu seorang aktor muda, dan dia dilindungi oleh perusahaan seakan-akan tidak terlibat apapun. Memangnya kenapa?"


"Pemuda itu aku, dan yang meninggal adikku." Blackat menceritakan apa yang terjadi di gedung depan, semua yang dirinya ingat.


Black hanya ingin mengetahui keberadaan soal kasus Adiknya yang ditutupi secara paksa. Dia ingin Anggrek mendapatkan keadilan.

__ADS_1


Kepala Dean menggeleng, sekalipun sudah mendengar cerita Blackat tidak banyak yang bisa dia lakukan. Apalagi sudah dianggap selesai beberapa tahun lalu.


"Kenapa juga baru sekarang? seharusnya kamu berjuang sejak awal jika ingin mendapatkan keadilan." Dean masih fokus melihat ke depan, tidak ingin membantu Blackat.


Apa yang terjadi kepada keluarga Black, itu kesalahan dirinya sendiri. Meminta keadilan dan mengetahui kebenaran setelah sekian lama sudah terlambat.


Black lebih mementingkan karirnya, dan melebarkan sayap dengan sangat lebar. Mengaggap kasus keluarganya sudah selesai, sehingga tidak membutuhkan siapapun lagi.


"Remaja yang meninggal sahabat Aira,"


"Oh, kamu telibat. Atau inilah alasan kamu pergi beberapa tahun yang lalu? kenapa melarikan diri Aira? keluarga kita bisa mengungkapnya jika sejak awal kamu mengatakannya?" Dean memijit pelipisnya menatap Kakak beda menit yang menyebalkan.


Tidak ada satupun keluarga yang tahu, Aira tidak ingin melibatkan Keluarganya. Apa yang terjadi kepada Anggrek seperti kecelakaan, bukan yang memang harus dilenyapkan.


"Diam! aku tidak ingin mendengar kelanjutannya,"


"Anggrek mati, tapi namanya masih hidup. Aku Anggia kembaran Anggrek, dan aku hidup menggunakan dua nama." Lea menatap punggung Dean, memintanya menyelidiki apa penyebab Anggrek disakiti.


"Kamu kembaran? astaga keluarga kalian rumit sekali." Kepala Dean geleng-geleng menatap Lea.


Aira langsung diam, dugaannya dan Dean mungkin sama. Jika kasus Anggrek ada sangkut pautnya dengan keluarga angkat Lea. Mereka mengetahui secara detail yang menimpa Anggrek, tapi dengan kejamnya menggunakan Lea sebagai Anggrek.


"Lea kemungkinan besar kamu di manfaatkan oleh keluarga angkat yang membesarkan kamu. Semua orang dicurigai, tapi kenapa tidak mencurigai keluarga angkat kamu?" Ai menepuk pundak Lea yang terdiam seperti patung.


Kepala Lea menggeleng, tidak mungkin keluarganya terlibat. Mama dan Papa selalu mengikuti apapun yang Lea inginkan, dan bahkan satu perusahaan besar untuknya.


Apapun yang Aira katakan tidak akan pernah Lea percaya, dan dugaan Dean tidak mungkin benar. Keluarganya tidak punya alasan untuk menyakiti Adiknya.


"Jangan pernah kalian mengatakannya lagi." Lea langsung mengambil tasnya melangkah pergi meninggalkan Black, Aira dan Dean.


Ketiganya menatap mobil yang melaju pergi, Dean tersenyum kecil ingin pamit pergi juga. Jika Lea merasa keluarganya baik, maka lebih baik tidak mengungkap kembali daripada hubungan keluarga Aira berantakan.


"Black, lebih baik kamu lupakan kasus ini. Dan tetaplah fokus kepada karir kamu." Dean langsung keluar memilih pergi.


Kepala Blackat mengangguk, ucapan Dean tidak salah sedikitpun. Black lebih mementingkan karirnya daripada membuktikan kasus Adiknya.


"Aku tidak ingin mengungkapkannya lagi Aira, sudah cukup sampai di sini. Kita kembali ke posisi masing-masing." Black mengucapkan terima kasih karena sudah menghubungi Dean.

__ADS_1


"Jangan menghakimi diri sendiri, bukan hanya kamu yang melarikan diri saat itu. Aku juga lari Balck, aku meninggalkan negara ini karena tidak ingin bertanggung jawab." Kepala Aira tertunduk melangkah keluar untuk segera pergi.


Tangan Aira ditarik, Black dan Aira menunduk mengintip ada suara mobil yang bisa masuk ke dalam bangunan di depan tempat mereka berada.


"Di mana mobil Kamu Ai?"


"Di bawah, aku masukkan ke dalam semak belukar. Siapapun yang melihatnya pasti berpikir hanya mobil lama yang terbengkalai." Ai mengintip kembali.


Mereka tidak bisa melihat karena ditutup tumbuhan. Aira merasa mengenal mobil yang datang.


Suara ledakan terdengar mobil langsung melaju pergi meninggalkan bangunan yang dibakar. Black berhasil melihat plat nomor kendaraan, Blackat merasa sangat mengenali mobil.


"Siapa kira-kira yang membakar gedung? kenapa dia melakukannya?"


"Itu mobil aku, kenapa ada di sini?" Blackat menatap Aira yang tersentak kaget.


Blackat langsung mengecek CCTV yang ada di apartemen pribadinya, melihat sederetan mobil mewahnya tersusun dan dugaannya tepat ada satu mobilnya yang menghilang dari parkir.


Aira memundurkan setidaknya satu jam yang lalu, dan mereka melihat Gilang mengambil mobil dan membawanya keluar.


"Gilang, kenapa dia bisa tahu tempat ini?"


Senyuman Aira terlihat, begitulah kehidupan dunia nyata. Tidak ada manusia yang benar-benar tulus, pasti ada saja yang diinginkan.


Seseorang yang sudah berjuang bersama, tapi dia juga yang menjadi kunci dalam masalah yang terjadi.


"Sekarang apa yang akan Kakak Hitam lakukan? Gilang kemungkinan orang yang ikut dalam pengeroyokan Anggrek, dia juga Putra orang kaya." Ai menatap Blackat yang hanya geleng-geleng, menarik tubuh Aira untuk memeluknya.


Hati Black merasa sakit, dia tidak memiliki keluarga yang harmonis. Hidupnya penuh dengan orang-orang yang hanya memanfaatkan dirinya juga menguras tenaganya untuk menghasilkan uang.


"Aku lelah Aira,"


"Ya sudah mati saja." Tangan Ai mengusap punggung Blackat.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2