
Hujan turun lebat, Isel berjalan kaki menuju rumahnya karena mobilnya diberikan kepada temannya.
Suara petir menggelegar, kedua tangan Isel memeluk tubuhnya. Dia sangat kedinginan, tapi merasa puas bisa mandi hujan.
Isel masuk lewat jalur khusus, tidak ingin penjaga rumah terkejut melihat seorang pengantin hujan-hujanan.
"Semoga Uncle sudah tidur, Isel tidak ingin dimarah." Isel berjalan di kegelapan hanya disinari cahaya kilat.
Di depan pintu, Dean tidak bisa tidur karena memikirkan Isel yang belum juga pulang. Menghubungi rumah sakit, tapi tidak ada yang melihat Isel.
"Kenapa nomornya tidak aktif, ini juga sudah jam dua malam. Bagaimana cara aku mengendalikan anak ini?" kepala Dean pusing memikirkan Isel, tidak mendapatkan kabar apapun.
Pintu terbuka, Isel teriak kaget melihat Dean ada di depan pintu. Kepala Isel tertunduk karena takut dimarah.
"Uncle, maafkan Isel. Mobil Isel ...."
"Masuk kamar sekarang, mandi dan ganti baju kamu," ujar Dean yang berusaha menahan diri.
Kepala Isel mengangguk pelan, berjalan cepat ke arah kamarnya. Isel bergegas mandi karena dia sangat kedinginan.
Selesai mandi, Isel membuka lemari bajunya karena tidak ada satupun bajunya. Isel menepuk jidat jika dia memang membawa seluruh bajunya ke hotel.
"Matilah aku." Isel langsung berbaring di ranjang emas, dan ambruk.
Kedua tangannya menutup mulut karena berteriak kuat, ranjang Isel sedikit demi sedikit terkikis.
"Ada apa Isel?" Dean membuka pintu, langsung balik badan karena handuk Isel melorot.
"Ranjang Isel bolong," jawab Isel yang menyingkap seprai melihat banyaknya emas yang hilang.
"Pakai baju kamu dulu," ucap Dean yang tidak bisa melihat jika Isel masih mengenakan handuk.
"Isel tidak punya baju, lihat kosong semua." Isel menujukkan lemarinya yang kosong.
"Ke kamar aku saja, cari kemeja daripada hanya menggunakan handuk." Dean keluar lebih dulu.
Senyuman Isel terlihat karena Dean tidak ingin melihatnya padahal sudah sah, Isel berlari kecil ke arah kamar Dean yang tertawa rapi.
"Aku bisa gila jika lama di ruangan ini," batin Isel membuka lemari untuk memilih baju.
Dean ikut masuk langsung berteriak melihat kemeja kerjanya dihamburkan di atas tempat tidur, dari puluhan baju tidak satupun yang menarik di mata Isel.
"Bereskan Sel,"
"Baju Uncle jelas semua, Isel tidak suka." Lemari lain dibuka kembali, Isel hilang masuk lemari.
__ADS_1
Tarikan napas Dean terdengar, dua puluh lima tahun dirinya hidup baru pertama kali melihat kamarnya penuh tumpukan baju.
Senyuman Isel terlihat, menggunakan baju kaos berukuran besar. Panjang baju hanya sebatas paha Isel, tidak menutupi sampai dengkulnya.
"Tidak ada baju yang lebih pendek lagi Sel?" Dean langsung menutup lemari, melarang Isel membongkar baju lagi.
Tawa Isel terdengar, Dean sangat pemarah jika barangnya dibongkar. Isel merasa semakin gemes ingin mencium Dean.
"Kamu tidur, aku bisa merapikannya," ucap Dean menyusun kemejanya kembali.
"Baiklah Uncle, padahal Isel juga bisa merapikannya." Tawa Isel terdengar langsung naik ranjang, memeluk guling.
Selimut tebal juga menutupi tubuh Isel, Dean menatap jam langsung tidur setelah membatasi di tengah banyak dan guling.
"Uncle, kenapa banyak sekali ini?" Isel membuang bantal guling.
"Tidurlah Sel, Uncle sudah lelah." Dean memejamkan matanya kembali mengabaikan Isel yang turun ranjang mengambil bantal guling lagi.
Kedua tangan Isel memeluk tubuh Dean, mata Dean terbuka meminta Isel menjauh karena dirinya tidak nyaman tidur dengan jarak berdekatan.
Pelukan Isel tidak ingin lepas, Dean merasakan tubuh Isel dingin. Untuk pertama kalinya Dean membiarkan ada wanita yang memeluknya saat tidur.
Suara berisik di luar kamar terdengar, Diana sudah tertawa bersama Mommy Anggun yang sibuk membuat sarapan.
"Mommy tidak tahu Di, Dean nampak gusar menunggu Isel," ucap Mommy Anggun.
"Isel pulang jam berapa Mom?"
Tangan Mommy Anggun menunjukkan jarinya di angka dua, Diana sangat kaget. Dean pasti kesal sekali, jangankan ada malam pertama pastinya saling mendiamkan.
"Isel belum dewasa, tapi ingin menikah. Kasihan Dean mengurus anak kecil." Diana geleng-geleng kepala melihat jam yang sudah hampir siang.
Daddy Dimas juga sudah pulang dari pekerjaan, melihat meja makan masih kosong hanya ada Diana dan Anggun.
"Assalamualaikum," sapa Gemal ingin menumpang makan.
"Di mana Dean? tidak biasanya dia bangun siang, sekarang sudah jam sepuluh pagi?" tanya Dimas menatap istrinya yang tersenyum.
"Benar juga, apa mereka sedang malam pertama?" Diana langsung tertunduk karena mulutnya lancang.
Suasana tiba-tiba hening, Gemal tetap makan mencoba mencairkan suasana agar tidak ada yang canggung karena ucapan Diana.
"Kalian belum berharap Isel hamil, Daddy sudah menunggu lama anak dari Dean?" Dimas memelas karena ingin melihat cucu dari Putra bungsunya.
Gemal langsung batuk, begitupun Diana yang langsung minum memberikan juga kepada suaminya.
__ADS_1
"Bagaimanapun hubungan kita, mereka berstatus suami istri, kapan siapnya biarkan mereka yang memutuskan. Mommy ingin Dean dan Isel menjadi jodoh dunia akhirat." Mommy Anggun tersenyum mengaminkan yang diikuti oleh yang lainnya.
Suara Gemal menggoda istrinya terdengar, Gemal merasa lucu melihat Diana menjadi Nenek.
Pukulan tangan Diana kuat ke arah suaminya yang mengatakan jika dirinya tua, Diana tidak ingin menjadi nenek-nenek.
"Apa salahnya dipanggil Nenek Diana?"
"Gemal, aku masih mampu mematahkan tulang kamu!" teriakan Diana kuat di telinga suaminya.
Dimas hanya bisa geleng-geleng meminta semua makan, Diana dan Gemal sudah puluhan tahun menikah masih saja bertengkar terus.
Di dalam kamar Dean terbangun melihat jam yang sudah diangka sebelas, menatap Isel yang tidur memeluknya.
"Sel, tubuh aku tidak bisa gerak." Dean menyingkirkan kaki dan tangan Isel.
Dean mengusap wajahnya duduk dipinggir ranjang, melirik Isel yang tidur terlentang menguasai satu ranjang.
Suara Isel mengigau terdengar, Dean mendekatkan wajahnya tidak paham apa yang sedang Isel bicarakan.
"Racun, racun apa?" Dean menatap tajam Isel yang pasti berulah sampai pulang larut malam.
Mata Isel terbuka, tersenyum melihat wajah Dean yang sangat dekat dengannya. Kening Dean berkerut sedang berpikir tanpa sadar Isel susah bangun.
"Uncle." Isel mengecup bibir Dean yang menatapnya.
Tubuh Dean langsung menjauh sampai terduduk di lantai, menyentuh bibirnya yang dicium secara tiba-tiba.
Mata Isel terpejam lagi, menarik selimut lanjut tidur. Dean yang masih bengong tidak paham apa yang dirinya lakukan hingga melangkah terlalu jauh.
"Kenapa aku tidak nyaman dicium seperti ini?" Dean langsung berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Suara ponsel Dean berdering, Isel langsung meraba karena sangat menganggu. Suara wanita yang tidak jelas terdengar, senyuman menyeringai terlihat di wajah Isel.
"Kamu masih belum menyerah juga Hairin, kesempatan hidup yang aku berikan kamu gunakan untuk mengadu kepada Dean. Tunggu saja, apa yang bisa aku lakukan?" panggilan mati setelah mendengar suara Isel.
***
gays follow Ig aku
follow Ig Vhiaazaira
nanti aku ada GIVE AWAY seperti dulu lagi.
***
__ADS_1