SELEBRITI BUKAN ARTIS

SELEBRITI BUKAN ARTIS
KECELAKAAN


__ADS_3

Suara musik berdentum, tamparan Imel kuat menghantam wajah Kevin yang tidak ada gunanya.


Dia bahkan tidak mampu menemukan Nenek Taher, setengah dari kekayaan Nenek Taher jatuh ke tangan orang yang tidak dikenali.


"Mereka pikir bisa menipu aku, ini semua gara-gara Aira. Dia yang menyebabkan Nenek Taher berhasil melarikan diri." Teriakan Imel terdengar mengutuk Ai yang sudah menggagalkan rencana besarnya.


"Kita singkirkan saja Lea, hanya dia yang mudah kita lenyapkan." Kevin menatap Imel yang tersenyum sinis.


"Ya, singkirkan dia secepat mungkin. Kematian Lea awal untuk menjatuhkan Aira, dia terlalu banyak ikut campur." Senyuman sinis Imel terlihat, meneguk minuman yang ada di tangannya.


Setelah minuman habis, gelasnya langsung dilemparkan ke lantai sampai pecah berhamburan.


Imel melangkah keluar, menghamburkan uang untuk membayar minuman dan ruangan yang sudah dia pesan.


"Kamu tetap di bekerja di rumah sakit, meskipun rumah sakit itu bukan milik keluarga Taher lagi." Imel menatap Kevin yang mengikutinya sambil menganggukkan kepala.


Tubuh Imel sempoyongan karena dalam keadaan pengaruh minuman keras, Imel melangkah keluar mengendarai mobilnya meksipun dalam keadaan mabuk.


"Mel, hati-hati banyak pengendara roda dua." Kevin takut dengan cara Imel membawa mobilnya.


"Diamlah, apa perlu aku menabrak mereka semua?" laju mobil dipercepat membuat Imel tertawa karena Kevin mengeluarkan suara gemulainya.


Mobil yang Imel kendarai banting setir, dan didepannya sudah terpental kendaraan roda dua.


Tanpa peduli, Imel melaju pergi tanpa memikirkan korbannya. Dia bahkan tidak menyadari jika bukan hanya satu yang dia tabrak.


Kasus kecelakaan beruntun membuat heboh jalanan, plat mobil sudah tercatat untuk melaporkan kejadian.


"Mel, kita menabrak orang,"


"Aku tidak peduli. Lenyapkan mobil ini." Imel berhenti di jalanan yang sepi dan tidak ada CCTV.


Keduanya langsung keluar, Imel melambaikan tangannya melihat mobil melaju dengan kecepatan tinggi lalu meledak tanpa menyisakan apapun.


Kevin yang melihatnya hanya bisa terdiam dan gemetaran, Imel menghubungi seseorang untuk menjemputnya.


Dengan santai dan tenang, Imel pindah mobil dan meminta orang khusus menghapus jejaknya yang menggunakan mobil.

__ADS_1


Tawa Imel terdengar, masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan damai. Tidur dengan lelap tanpa memikirkan kecelakaan yang baru saja terjadi.


***


Pagi-pagi pemberitaan sudah heboh dengan kecelakaan beruntun saat tengah malam, Altha duduk memperhatikan bersama dengan Juan.


"Bukannya mobil yang menabraknya sudah tertangkap CCTV?"


"Mobil itu mengalami kecelakaan di tempat yang tidak ada CCTV. Pelaku tabrak lari sudah biasa melakukannya." Alt menatap Putranya yang terlihat kecewa.


Merasa kasihan kepada korban, mereka hanya pejuang keluarga yang rela pulang malam demi mengais rezeki.


Hanya karena satu orang yang memiliki kekuasaan membuat hidup mereka yang sulit semakin sulit.


"Melihat seperti ini, dunia sungguh tidak adil. Seseorang yang hidup tanpa kekurangan materi berada dalam lindungan hukum, sedangkan mereka yang kekurangan menjadi korban dari sang pengusaha." Kepala Juan menggeleng merasa sakit hatinya melihat pemberitaan.


"Dunia ini akan damai Juan jika semua manusia memiliki pikiran seperti kamu, tapi sayangnya harus ada yang jahat untuk menguji kebaikan. Harus ada yang miskin untuk menguji yang kaya." Alt ingin putranya paham jika yang namanya materi, kesehatan, penampilan semua mudah direnggut kembali.


Sekaya apapun manusia jika kesehatan direnggut maka semuanya tidak berguna, sebaik apapun penampilan pasti akan berubah.


"Mana mami tahu, kita para setan diam saja di sini, soalnya malaikat sedang rapat kebaikan." Al menghela napasnya karena masih pagi suaminya sudah ceramah.


Lea menahan tawa melihat ibu dan anak yang tahu jika tingkah mereka seperti setan, tapi memiliki suami yang luar biasa.


"Ada kasus kecelakaan beruntun tengah malam tadi, dan mobil yang digunakan milik Imel. Aku pernah melihat mobil itu." Lea menatap Aira dan Aliya yang saling pandang.


"Perempuan satu itu sudah gila, dia tidak punya hati nurani. Bisa dia membuat tulang punggung terkena musibah." Al menuruni tangga membesarkan volume suara soal kecelakaan.


Tatapan mata Aliya, Aira dan Lea sama tajamnya mendengar jika kasus tabrak lari tidak ada yang bertanggung jawab.


Kepolisian menyelidiki jika mobil yang menyebabkan kecelakaan ditemukan terbakar, ada satu orang yang ikut terbakar.


"Hebat, dia membersihkan kasus ini begitu mudahnya. Aku yakin Imel sangat berpengalaman dalam membunuh orang,"


"Bukan dia yang membunuh Mi, hanya ada orang yang menjadi kaki dan tangannya." Kepala Ai menggeleng jika dia harus segera menghentikan Imel.


"Seseorang yang memberikan perintah jauh lebih kejam daripada pelaku, dia tidak memikirkan nasib korbannya." Kepala Lea tertunduk mengepalkan tangannya sangat erat.

__ADS_1


Ai melangkah kembali ke kamarnya, dia harus segera bersiap-siap untuk bekerja. Lea juga mengikuti Aira untuk menenangkan dirinya karena Lea harus menghentikan Imel yang menjadi seseorang yang sangat kejam.


"Kasihan sekali Lea, pasti dia sedih." Al menatap sedih punggung Lea.


"Apa dulu kamu juga sedih?" Alt menatap istrinya yang langsung menunjukan mata sinis.


"Tidak, aku lebih tepatnya marah karena Alina mencelakai orang, aku ingin dia di hukum dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan." Wajah Al langsung lemas karena Lea juga pasti merasakan hal yang sama.


Dia marah dan kecewa, tidak ada kesedihan di matanya, tapi ingin memberikan hukuman yang setimpal untuk saudaranya.


Di kamar Aira, Lea mengecek ponselnya tidak menemukan apapun, mengambil ponsel Aira dan menemukan pesan ancaman.


"Ai, kamu menyelidiki Imel sejauh apa?"


"Sebenarnya bukan aku, tapi Isel. Itu bayaran untuk emas sepuluh batangnya. Dia harus menemukan siapa saja yang ada di belakang Imel." Ai merapikan baju, memakai softlens mata agar kecantikan semakin terlihat.


"Imel secepatnya harus ditahan, dia pasti memiliki banyak korban." Pukulan tangan Lea kuat menghantam meja.


"Kamu punya rencana?"


Kepala Lea menggeleng, dia tidak memiliki rencana apaapun. Lea tidak mengerti soal penyelidikan. Meskipun tidak paham dia menginginkan keadilan.


"Kita sama-sama tidak punya rencana, hanya ada satu orang yang harus kita manfaatkan." Ai tertawa kecil, dia akan menjadi Isel pemancing untuk membuat Imel mengungkap sendiri siapa dirinya.


Bukan hanya Isel yang bisa mengorbankan keselamatan demi sepuluh batang emas, Ai juga akan melakukan hal yang sama.


Semua harus segera berakhir, Ai sudah lelah bermain-main. Dia ingin sekali pukul ratusan lalat mati.


"Kita terlalu meremehkan Imel sehingga akibatnya fatal, dan kita harus menanggung resikonya." Ai merapikan rambutnya yang terlihat sangat indah.


"Lakukan apapun selama tidak menyangkut nyawa,"


"Lea, tidak akan ada yang tahu. Imel bahkan bermain dengan nyawa kedua orang tua kandungannya, masih kamu meragukan dia?" Ai tersenyum sinis menatap mata Lea tajam.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2