
Mata Aira terbuka, melihat sekitarnya. Dia sangat malu karena benar-benar jatuh pingsan.
Suara Angga terdengar, Aira langsung memejamkan matanya, dia gengsi karena jatuh pingsan.
"Ai, kenapa lama sekali pingsan?"
Tawa Gion terdengar karena hanya ada Angga dan Lea di dalam kamar, sehingga bebas baginya untuk mengungkap jati diri.
"Lagian, kamu gila Gion! jika terjadi sesuatu bagaimana?"
"Tidak akan terjadi Kak, tanpa Aira juga Kak Black tidak akan terluka." Tawa Gion masih terdengar, merasa lucu karena dia Ai pingsan karena tertimpa.
Pukulan di punggung Gion mendarat, Angga tidak menyukai candaan yang berbahaya. Jika sampai terjadi yang tidak diinginkan juga sangat merugikan.
"Black, kamu keluar sebentar." Gilang membuka pintu karena ada pembicaraan di luar.
Saat Angga keluar, Aira langsung bangun. Pukulan Aira kuat mengenai kepala Gion, bantal guling berhamburan, leher Gion juga dicekik.
"Kamu sudah tidak waras Gion, aku pingsan gara-gara kamu! rusak harga diri aku ulah kejahilan kamu." Cekikan dan jambakkan Aira kuat.
"Aira cukup, kalian ini selalu saja ribut." Lea menarik Aira kuat.
"Ampun Kak," mohon Gion setelah diamuk.
Pintu terbuka kuat, Angga menarik Aira langsung memeluknya erat agar berhenti. Baju Gion sampai robek besar karena ditarik.
"Ai, berhenti!"
"Gion duluan yang mulai, Aira sampai pingsan. Aku malu." Tangisan Aira terdengar, menutup wajahnya karena malu.
"Maafkan Gion, tadinya hanya bercanda. Kak, jangan menangis. Pukul lagi saja daripada menangis." Gion langsung berlutut, memeluk kaki Aira yang sudah menangis sesenggukan.
Angga memeluk Aira erat, memintanya untuk tenang dan tidak ada yang mengejeknya semua orang khawatir dan cemas.
"Sudah jangan menangis, kita kembali ke hotel. Jika sudah bisa memukul berarti baik-baik saja." Angga mengusap air mata Aira, merapikan rambutnya yang mirip singa.
"Wow, badannya Gion bagus juga, ada kontak-kontak." Senyuman Aira terlihat menatap sepupunya yang ganti baju.
Telinga Aira langsung ditarik oleh Angga karena matanya sangat genit, suka melihat tubuh seksi lelaki.
Staf bernapas lega semua karena Aira terlihat baik-baik saja, konser yang diadakan di malam hari sudah penuh pengunjung.
__ADS_1
"Kalian tidak bisa keluar lagi, istirahat di kamar masing-masing." Gilang menunjukkan area luar yang sudah penuh penonton tanpa terkecuali.
Hampir tidak ada tempat lagi karena terlalu banyak manusia, bahkan jalanan macet karena penuh manusia.
"Gila, ini luar biasa." Aira mengintip sedikit melihat beberapa pesawat yang membawa spanduk.
Foto Aira dan Angga terlihat di atas langit yang terlihat dengan jarak yang bisa dipandang mata.
Senyuman Angga terlihat, memeluk pinggang Aira menggunakan satu tangannya mengagumi keindahan di langit yang penuh dengan tulisan pendukung.
"Bagus sekali, ini sungguh luar biasa." Angga menarik Aira masuk untuk mengecek ke kondisinya.
"Dimana ponsel Aira?"
"Tanya Lea, dia yang memegang batang pribadi kamu." Angga dan Ai kembali ke ruangan latihan yang penuh dengan staf.
Suara Lea memberikan instruksi terdengar, Aira dan Angga memiliki penggemar yang imbang dan keduanya akan diistimewakan.
"Apa ada masalah Kak Lea?"
"Bukan masalah serius, takut ada keributan saja. Ada beberapa spanduk yang ditemukan menjatuhkan satu sama lain, kita hanya mencoba menghindari adanya ketersinggungan." Lea menujukkan pendukung Black tidak menyukai Aira, tidak menyetujui hubungan keduanya.
"Ini pasti Isel," tuduhan Aira membuat Angga menghela napas.
***
"Semuanya pergi?"
"Iya harus, kita dukung Aira dan Angga." Tika menyerahkan anak bungsunya.
Wajah Dean terlihat cemberut, pergi dadakan yang membuatnya dalam masalah besar. Apalagi pekerjaannya menumpuk.
Bukan hanya Dean, Iyan yang ditarik paksa juga nampak stress, tidak menyukai tempat keramaian namun harus tetap datang.
Suara Lea memanggil terdengar, mengecup tangan suaminya barulah menyapa keluarga. Lea cukup kaget karena seluruh keluarga datang untuk menyaksikan konser.
"Kenapa datang dadakan? jika sejak awal, Lea bisa memberikan tempat aman untuk anak-anak." Lea tersentak kaget karena tiket yang dimiliki berada di depan sekali pasti akan dekat dengan panggung.
"Bukan bagus sayang ada di depan sekali?" Juan menatap istrinya yang memijit pelipisnya.
"Iya bagus, tapi sesak. Seharusnya di atas saja jadi aman, jika dibawah tidak ada keamanan." Penjelasan Lea sangat detail karena seluruh tiket habis.
__ADS_1
Mommy Anggun tidak masalah, lagian banyak orang dewasa juga ada bodyguard yang dibawa sehingga dipastikan semuanya aman.
"Uncle, kenapa tidak memberitahu Isel?"
"Aku juga dipaksa naik pesawat, satu baju saja tidak bawa," ucap kesal Dean karena melihat para wanita yang begitu bersemangat.
"Sama, Iyan juga. Pergi menggunakan baju praktek." Iyan menghentakkan kakinya melihat baju kedokteran yang masih melekat di tubuhnya.
Suara lari-lari terdengar, Mora dan Mira sudah tampil cantik dengan gaun mewahnya untuk menyambut konser Uncle kesayangannya.
"Aduh, ini pasti akan gaduh sekali." Isel menepuk jidat.
Isel menghubungi Kakaknya Gion untuk mengirim jalan aman untuk keluarga mereka agar bisa masuk dengan aman.
"Kak Lea, siapkan jalan keluar untuk keluarga kita. Isel khawatir akan berdesakkan." Isel menujukkan ramaikan orang yang sudah berkumpul.
Kepala Lea mengangguk, dirinya harus kembali karena mendampingi Aira. Tidak ingin beberapa jalur ditutup sehingga Lea harus kembali.
"Terus komunikasi, Lea tunggu di sana." Lea mencium pipi suaminya.
Diana dan Aliya duduk santai mengunyah makanan, tidak ada beban pikiran sama sekali. Shin juga goyang-goyang kaki perenggangan otot bersama Tika yang masih cekikikan tertawa.
"Ini konser kenapa panik sekali? menonton tinggal nonton paling penting ada tiket." Aliya geleng-geleng.
"Awas kamu jika nanti banyak mengeluh, sempit, sesak, bau dan capek. Awas saja." Ancam Altha melihat istrinya yang sangat tenang.
"Ayo kita berangkat." Gemal dan Genta mengambil anak-anak yang berlarian santai.
Juan geleng-geleng karena jalanan penuh dengan manusia, pertama kalinya melihat perkumpulan manusia di dalam satu tempat
"Ramai tidak Papi?"
"Jangan tanya lagi Mora, kamu tidak mungkin terlihat." Juna cemas karena ada anak-anak karena penonton begitu ramai.
"Dean dengar ada kejutan malam ini, kemarin Gion hampir keceplosan. Tolong yang jantung lemah obat dibawa, nanti kejang-kejang," ujar Gion melihat ke arah Isel.
"Angga akan mengundurkan diri, baguslah. Dia bisa menjadi penerus aku saja." Dimas angguk-angguk kepala merasa senang.
Mora membenarkan ucapan Dean, setiap ada konser selalu ada kejutan, tapi ada juga sebagai kejutan untuk pamitan dari industri hiburan.
"Uncle tahu tidak jika Uncle Angga beli cincin, Mora ada lihat tahu. Saat Mora tanya, jawabnya kejutan." Bibir Mora monyong mejelaskan.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira